Pemberdayaan BRI Antar Tenun Troso KAINRATU Tembus Pasar Global
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih d...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 96 persen tenaga kerja Indonesia. Di tengah struktur ekonomi yang bertumpu pada segmen tersebut, keberhasilan KAINRATU — pelaku usaha tenun ikat dari sentra Troso, Jepara, Jawa Tengah — menembus pasar global menjadi sinyal positif bagi tren internasionalisasi UMKM tanah air. Capaian ini tidak lepas dari program pemberdayaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang mencakup pelatihan, pendampingan usaha, hingga pembukaan akses pasar lintas negara.
Dari Sentra Troso Menuju Panggung Dunia
Troso merupakan salah satu sentra tenun ikat tertua di Indonesia dengan tradisi produksi yang diwariskan lintas generasi. Namun, selama puluhan tahun produknya lebih banyak beredar di pasar domestik dengan margin yang relatif tipis. Melalui program pemberdayaan BRI, KAINRATU memperoleh pelatihan desain, standardisasi mutu, pembukuan keuangan, hingga kurasi produk agar memenuhi standar pembeli internasional. Perseroan juga membuka akses pasar melalui ajang pameran dan kurasi UMKM berskala global yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli dari sejumlah negara.
Dari sisi pembiayaan, langkah ini sejalan dengan fundamental bisnis perseroan. Per akhir 2024, portofolio kredit BRI pada segmen mikro dan kecil tercatat menembus lebih dari Rp 900 triliun, dengan porsi kredit UMKM di atas 80 persen dari total penyaluran kredit. Penyaluran kredit UMKM perseroan juga mengalami kenaikan pada kisaran 8 hingga 11 persen year-on-year dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan likuiditas yang memadai untuk terus mendukung sektor riil dan pemberdayaan usaha rakyat.
Di Satu Sisi Peluang, di Sisi Lain Tantangan
Di satu sisi, masuknya tenun Troso ke pasar global membawa multiplier effect atau efek pengganda bagi ekonomi lokal. Nilai tambah produk kerajinan tangan di pasar internasional bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat harga domestik, terutama di tengah tren global terhadap produk fesyen berkelanjutan (sustainable fashion). Sebagai pembanding, ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia secara keseluruhan berada pada kisaran US$ 11 miliar hingga US$ 13 miliar per tahun, sehingga penetrasi produk kerajinan premium berpeluang memperbesar kontribusi devisa sekaligus melestarikan warisan budaya. Pemberdayaan ini juga berdampak sosial karena sebagian besar penenun di sentra Troso adalah perempuan, sehingga kenaikan permintaan berpotensi memperbaiki pendapatan rumah tangga di perdesaan.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Produksi tenun ikat bersifat padat karya dan memakan waktu — satu lembar kain dapat memerlukan dua minggu hingga satu bulan pengerjaan — sehingga kapasitas produksi sulit dipacu untuk memenuhi pesanan berskala besar. Selain itu, pelaku usaha menghadapi kebutuhan sertifikasi ekspor, kepatuhan terhadap standar negara tujuan, biaya logistik yang relatif tinggi, serta paparan fluktuasi nilai tukar rupiah. Rasio antara pesanan yang masuk dengan kemampuan produksi menjadi isu krusial yang akan menentukan keberlanjutan bisnis di pasar ekspor.
"Internasionalisasi UMKM bukan sekadar mengirim barang ke luar negeri, melainkan membangun fundamental usaha: kualitas yang konsisten, pencatatan keuangan yang rapi, dan rantai pasok yang siap. Tanpa tiga hal itu, ekspor hanya bersifat sesaat," demikian penilaian sejumlah pengamat ekonomi dan praktisi industri kreatif terhadap tren UMKM naik kelas.
Fundamental, Sentimen Pasar, dan Proyeksi
Dari perspektif makroekonomi, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5 persen per tahun memberi ruang bagi ekspansi sektor ekonomi kreatif. Sentimen pasar global terhadap produk etnik dan ramah lingkungan juga sedang menguat, tercermin dari meningkatnya indeks permintaan kain tradisional di pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Kondisi ini membuka peluang bagi produk seperti tenun Troso untuk memperoleh valuasi premium di mata konsumen internasional, sekaligus memperdalam penetrasi UMKM binaan perbankan ke rantai nilai global.
Kendati demikian, keberlanjutan capaian KAINRATU akan sangat bergantung pada konsistensi mutu, penguatan kapasitas penenun, regenerasi perajin muda, serta keberpihakan kebijakan — mulai dari kemudahan pembiayaan, pelatihan berkelanjutan, hingga insentif logistik ekspor. Jika faktor-faktor tersebut terpenuhi, kisah tenun Troso dapat menjadi model replikasi bagi ribuan UMKM binaan lain untuk ikut menembus pasar global, sekaligus memperkuat kontribusi sektor UMKM terhadap PDB yang saat ini telah melampaui tiga per lima perekonomian nasional.
Comments (0)