PT PAL Bangun Kapal Selam Scorpène Perdana, Ujian Fundamental Industri Pertahanan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan per Agustus 2026, kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia bertahan di kisaran 18,6 persen, s...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan per Agustus 2026, kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia bertahan di kisaran 18,6 persen, sementara indeks manufaktur (PMI) nasional mengalami kenaikan ke zona ekspansi sekitar 51,2 poin. Di tengah fundamental makroekonomi tersebut, PT PAL Indonesia (Persero) resmi memulai pembangunan fisik kapal selam pertama Scorpène Republik Indonesia (SRI) di fasilitas galangannya di Surabaya, Jawa Timur. Proyek hasil kerja sama dengan perusahaan asal Prancis, Naval Group, ini bernilai sekitar USD 2,16 miliar atau setara Rp 35 triliun untuk dua unit kapal selam, dan menjadi tonggak penting ambisi kemandirian alutsista nasional.
Dari kacamata ekonomi, proyek ini bukan sekadar pengadaan militer. Pembangunan kapal selam di dalam negeri berarti sebagian nilai kontrak akan berputar di ekonomi domestik melalui upah tenaga kerja, pengadaan material, dan jasa pendukung. Namun, besaran manfaatnya sangat bergantung pada tingkat komponen dalam negeri (TKDN), yakni proporsi nilai produksi yang benar-benar diciptakan di dalam negeri, yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah industri pertahanan Tanah Air.
Konteks Fiskal: Ruang Gerak Anggaran Pertahanan
Rasio belanja pertahanan Indonesia terhadap PDB—perbandingan anggaran militer dengan total output ekonomi—masih berada di level 0,7 hingga 0,8 persen, jauh di bawah rata-rata global sekitar 2,2 persen menurut data SIPRI. Pemerintah menargetkan kenaikan bertahap menuju 1,5 persen dari PDB. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1 persen year-on-year pada 2026, ruang fiskal untuk membiayai proyek strategis memang terbuka, tetapi tetap terbatas. Kebijakan efisiensi anggaran yang berjalan sejak 2025 membuat setiap belanja modal bernilai besar harus melewati penilaian manfaat yang lebih ketat.
Perlu dicatat, kontrak pengadaan alutsista umumnya menggunakan mata uang asing. Dengan nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp 16.200 per dolar AS, risiko currency mismatch—ketidaksesuaian antara pendapatan negara dalam rupiah dan kewajiban pembayaran dalam dolar—menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan dalam proyeksi anggaran jangka menengah.
Di Satu Sisi: Multiplier Effect dan Alih Teknologi
Di satu sisi, pembangunan kapal selam di galangan domestik berpotensi menciptakan multiplier effect, yaitu efek berantai dari satu kegiatan ekonomi terhadap sektor lainnya. Studi industri maritim memperkirakan setiap Rp 1 triliun belanja galangan dapat menggerakkan output ekonomi hingga dua kali lipat melalui rantai pasok baja, elektronik, sistem propulsi, hingga jasa logistik. Proyek Scorpène juga membuka penyerapan ribuan tenaga kerja terampil, mulai dari insinyur perkapalan hingga teknisi pengelasan bersertifikat khusus.
Aspek paling strategis adalah alih teknologi. Skema pembangunan di Surabaya memungkinkan insinyur PT PAL menguasai tahapan kritis konstruksi kapal selam, mulai dari pembentukan lambung tekan hingga integrasi sistem tempur. Jika berhasil, Indonesia akan masuk kelompok kecil negara Asia Tenggara dengan kapabilitas membangun kapal selam secara mandiri, memperkuat fundamental industri pertahanan dan membuka peluang pasar ekspor di masa depan.
"Proyek seperti ini nilainya bukan hanya pada kapal yang dihasilkan, tetapi pada kapabilitas industri yang tertinggal. Kuncinya ada pada seberapa besar TKDN dan seberapa disiplin eksekusi alih teknologinya," ujar seorang ekonom industri dari lembaga riset kebijakan publik di Jakarta.
Di Sisi Lain: Beban Fiskal dan Risiko Eksekusi
Di sisi lain, proyek bernilai puluhan triliun rupiah ini menambah beban fiskal di tengah tren efisiensi anggaran. Sebagian komponen utama kapal selam, seperti sistem sensor dan persenjataan, masih harus diimpor sehingga berpotensi memicu capital outflow, yakni aliran dana keluar negeri untuk membayar pemasok asing. Artinya, tidak seluruh nilai kontrak berputar sebagai likuiditas di ekonomi domestik.
Risiko lain adalah biaya siklus hidup. Pengalaman pengoperasian kapal selam generasi sebelumnya menunjukkan biaya pemeliharaan, perbaikan, dan modernisasi selama 30 tahun dapat mencapai dua hingga tiga kali harga pembelian awal. Belum lagi risiko keterlambatan jadwal yang kerap membayangi proyek alutsista kompleks, yang pada gilirannya dapat mengerek biaya akhir dan mengganggu valuasi anggaran yang telah direncanakan.
Proyeksi: Sentimen Pasar dan Arah Industri Pertahanan
Dari sisi sentimen pasar, kepastian pembangunan fisik ini memberi sinyal positif bagi portofolio emiten terkait industri maritim dan BUMN karya, karena menunjukkan komitmen negara terhadap order book jangka panjang. Namun, pelaku pasar menilai dampaknya bersifat jangka menengah dan sangat bergantung pada konsistensi pembayaran anggaran serta realisasi TKDN. Investor cenderung menanti indikator konkret seperti progres konstruksi bertahap dan sertifikasi tenaga kerja lokal sebelum menaikkan valuasi sektor ini.
Ke depan, proyeksi keberhasilan Scorpène SRI akan ditentukan oleh dua hal: disiplin fiskal pemerintah dalam menjaga arus pembayaran, dan keseriusan alih teknologi agar ketergantungan impor mengalami penurunan. Di satu sisi, proyek ini adalah investasi strategis bagi kemandirian bangsa; di sisi lain, ia adalah komitmen anggaran puluhan tahun yang menuntut tata kelola hati-hati. Keseimbangan kedua sisi itulah yang akan menentukan apakah kapal selam pertama buatan Surabaya ini menjadi fondasi industri pertahanan, atau sekadar beban baru dalam neraca negara.
Comments (0)