Rasio Kredit Macet Membaik, OJK Tetap Perketat Pengawasan Pinjol

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir bulan lalu, sebanyak 16 penyelenggara fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) mencatatkan rasio kredit macet di atas 5 ...

Aug 10, 2026 - 14:03
0 0
Rasio Kredit Macet Membaik, OJK Tetap Perketat Pengawasan Pinjol

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir bulan lalu, sebanyak 16 penyelenggara fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) mencatatkan rasio kredit macet di atas 5 persen. Meski demikian, angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan periode bulan sebelumnya yang mencapai 18 penyelenggara. Penurunan dua entitas ini terjadi di tengah langkah regulator memperketat pengawasan terhadap industri yang melayani jutaan peminjam di Tanah Air.

Sebagai konteks, rasio kredit macet pada industri pinjol diukur melalui indikator TWP90 atau tingkat wanprestasi 90 hari, yakni persentase pinjaman yang menunggak lebih dari 90 hari terhadap total pembiayaan berjalan (outstanding). Ambang 5 persen selama ini dipandang sebagai batas kewajaran kesehatan industri. Melampaui level tersebut, kualitas portofolio suatu penyelenggara dinilai berisiko dan memerlukan pemantauan intensif dari otoritas.

Tren Penurunan Menjadi Sinyal Perbaikan Fundamental

Di satu sisi, penurunan jumlah penyelenggara ber-TWP90 tinggi dari 18 menjadi 16 perusahaan mencerminkan tren perbaikan fundamental industri. Sejumlah platform dilaporkan telah memperketat analisis kelayakan kredit (credit scoring), memperbaiki proses penagihan, serta menyaring segmen peminjam secara lebih selektif. Secara agregat, outstanding pembiayaan fintech lending nasional berada di kisaran Rp60 triliun dengan pertumbuhan year-on-year yang masih positif, sementara rasio TWP90 industri secara keseluruhan relatif terkendali di bawah ambang 5 persen.

"Penurunan jumlah penyelenggara dengan rasio wanprestasi tinggi menunjukkan upaya mitigasi risiko mulai membuahkan hasil. Namun, konsistensi perbaikan ini harus diuji dalam beberapa kuartal ke depan sebelum bisa disebut sebagai tren yang solid," ujar seorang pengamat industri jasa keuangan di Jakarta.

Dari sisi sentimen pasar, perbaikan kualitas aset berpotensi menjaga kepercayaan pemberi pinjaman (lender), baik ritel maupun institusi. Likuiditas pendanaan yang stabil menjadi prasyarat agar penyaluran kredit produktif ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak terganggu.

Di Sisi Lain, Risiko Kredit Masih Membayangi

Di sisi lain, fakta bahwa masih ada 16 penyelenggara—atau sekitar 15 persen dari total kurang lebih 101 perusahaan pinjol berizin—yang bercokol di atas ambang 5 persen tidak bisa dipandang remeh. Kondisi ini mengindikasikan risiko kredit yang terkonsentrasi pada sebagian pemain, terutama platform dengan ekspansi agresif ke segmen peminjam berprofil risiko tinggi.

Tekanan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah juga menjadi variabel penting. Apabila pendapatan rumah tangga segmen ini melemah, kemampuan membayar cicilan berpotensi memburuk dan mendorong rasio wanprestasi kembali mengalami kenaikan. Selain itu, penyelenggara dengan TWP90 tinggi menghadapi risiko valuasi yang tertekan, kesulitan menarik pendanaan baru, hingga potensi capital outflow dari lender institusi yang enggan menanggung risiko gagal bayar lebih lanjut.

Respons Regulator dan Proyeksi Industri

Merespons kondisi tersebut, OJK memperketat pengawasan melalui sejumlah instrumen, mulai dari pemantauan berkala, permintaan rencana aksi (action plan) perbaikan kualitas portofolio, hingga pembatasan ekspansi bagi penyelenggara yang tidak kunjung memenuhi standar kesehatan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian (prudential) yang menjadi tulang punggung stabilitas sektor jasa keuangan.

Ke depan, proyeksi industri pinjol akan sangat ditentukan oleh dua faktor: disiplin manajemen risiko internal perusahaan dan kondisi makroekonomi domestik. Jika tren penurunan jumlah penyelenggara bermasalah berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, kepercayaan pasar terhadap model bisnis fintech lending diprediksi menguat. Sebaliknya, pelemahan ekonomi yang lebih dalam dari perkiraan dapat membalikkan tren perbaikan tersebut.

Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi pengingat pentingnya meminjam sesuai kemampuan finansial dan hanya melalui penyelenggara berizin resmi. Sementara bagi industri, konsolidasi kualitas aset tampaknya akan menjadi agenda utama, menggeser fokus pertumbuhan agresif yang selama ini mendominasi strategi sebagian pemain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User