Destry Damayanti Masuk Bursa Calon Gubernur Bank Indonesia
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, inflasi nasional tercatat sebesar 1,57 persen year-on-year dengan pertumbuhan ekonomi 5,03 persen sepanjang tahun. Di te...
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, inflasi nasional tercatat sebesar 1,57 persen year-on-year dengan pertumbuhan ekonomi 5,03 persen sepanjang tahun. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga itu, perhatian pasar kini mengarah pada bursa kepemimpinan bank sentral. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa nama Destry Damayanti masuk dalam daftar kandidat Gubernur Bank Indonesia (BI). Destry saat ini menjalankan amanah sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, posisi yang ia emban setelah sebelumnya menduduki kursi Deputi Gubernur Senior.
Konfirmasi dari Istana tersebut menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar yang selama ini menanti kepastian arah kepemimpinan otoritas moneter. Kepastian figur pimpinan bank sentral kerap menjadi salah satu variabel yang diperhitungkan investor dalam menilai kredibilitas kebijakan, terutama pada periode ketika arus modal asing mudah berbalik arah menjadi capital outflow akibat sentimen global.
Rekam Jejak Panjang di Koridor Kebijakan Moneter
Destry Damayanti merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang melanjutkan pendidikan pascasarjana di Cornell University, Amerika Serikat. Sebelum berkarier di bank sentral, ia dikenal sebagai ekonom di sektor perbankan swasta. Ia diangkat menjadi Deputi Gubernur Senior BI pada 2019 dan sejak itu terlibat langsung dalam perumusan kebijakan moneter, termasuk pada masa pemulihan pandemi ketika BI menurunkan suku bunga acuan hingga ke level 3,50 persen pada 2021, level terendah dalam sejarah.
Selama menjabat Pjs Gubernur, Destry memimpin rapat dewan gubernur yang menjaga suku bunga acuan (BI Rate) dengan mempertimbangkan dua hal utama: stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Rupiah sendiri sempat bergerak di kisaran Rp16.000 per dolar AS, level yang menuntut bank sentral berhati-hati dalam menentukan arah pelonggaran likuiditas.
Di Satu Sisi: Kontinuitas Menjadi Nilai Tambah
Di satu sisi, pengangkatan figur internal dipandang sejumlah kalangan sebagai jaminan kontinuitas kebijakan. Destry dinilai memahami struktur kelembagaan BI dari dalam, sehingga transisi kepemimpinan berpotensi berjalan mulus tanpa guncangan berarti terhadap sentimen pasar. Bagi investor portofolio, konsistensi kebijakan moneter adalah faktor penting dalam menilai valuasi aset Indonesia, baik surat berharga negara maupun saham di indeks harga saham gabungan (IHSG).
Pendekatan kebijakan yang hati-hati dan berbasis data selama ia memimpin rapat dewan gubernur juga menciptakan prediktabilitas. Dalam teori kebijakan moneter, prediktabilitas bank sentral membantu menurunkan premi risiko, yakni tambahan imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi ketidakpastian. Semakin rendah premi risiko, semakin efisien biaya pendanaan bagi pemerintah maupun korporasi.
Di Sisi Lain: Ekspektasi Pasar dan Ujian Independensi
Di sisi lain, sebagian pengamat mengingatkan bahwa jabatan definitif membawa beban ekspektasi yang jauh lebih besar dibandingkan status penjabat sementara. Gubernur BI definitif akan menghadapi ujian nyata: menjaga independensi bank sentral di tengah kebutuhan pemerintah akan pembiayaan pembangunan, sekaligus merespons dinamika global seperti arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memengaruhi tren arus modal ke negara berkembang.
Selain itu, proses seleksi yang transparan menjadi sorotan. Pasar umumnya merespons positif proses yang akuntabel karena mencerminkan kualitas tata kelola institusi. Bila proses berjalan kredibel, dampaknya bisa terlihat pada penguatan kepercayaan investor; sebaliknya, ketidakpastian berkepanjangan berisiko menekan rupiah dan memicu volatilitas di pasar obligasi.
"Pasar tidak sekadar melihat siapa nama yang diusulkan, tetapi juga bagaimana prosesnya berjalan. Kredibilitas proses mencerminkan kredibilitas institusi, dan itu tercermin pada persepsi risiko terhadap aset Indonesia," ujar seorang ekonom senior pasar modal di Jakarta.
Proyeksi: Agenda Berat Menanti Pimpinan Baru BI
Ke depan, siapa pun yang terpilih akan menghadapi agenda berat. Pertama, menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen sesuai kerangka inflation targeting, yakni strategi bank sentral yang menetapkan target inflasi sebagai jangkar kebijakan. Kedua, menjaga stabilitas rupiah agar tidak mengalami depresiasi tajam yang dapat mengerek inflasi barang impor. Ketiga, mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial, yaitu pengaturan sektor keuangan agar tetap stabil, termasuk menjaga rasio kecukupan modal perbankan yang saat ini berada di atas 25 persen berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dengan fundamental ekonomi yang relatif solid, likuiditas perbankan yang memadai, dan cadangan devisa yang berada di kisaran 150 miliar dolar AS, modal awal bagi pimpinan baru BI sesungguhnya tidak buruk. Namun, arah kebijakan global yang belum pasti menuntut kehati-hatian. Proyeksi pasar terhadap arah BI Rate akan sangat bergantung pada komunikasi kebijakan yang dibangun sang gubernur definitif. Bagi investor, pesan utamanya jelas: kejelasan kepemimpinan bank sentral adalah salah satu penentu kepercayaan, dan kepercayaan adalah mata uang paling berharga di pasar keuangan.
Comments (0)