Prabowo Belum Putuskan Gubernur BI, Pasar Menanti Arah Kebijakan Moneter

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,75 persen setelah mengalami penurunan 25 basis poin, sementara inflasi tercatat 1,57 persen year-on-year pa...

Aug 09, 2026 - 11:44
0 0
Prabowo Belum Putuskan Gubernur BI, Pasar Menanti Arah Kebijakan Moneter

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,75 persen setelah mengalami penurunan 25 basis poin, sementara inflasi tercatat 1,57 persen year-on-year pada Desember 2024 dan cadangan devisa berada di posisi US$156,1 miliar. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada satu pertanyaan besar: siapa yang akan memimpin bank sentral pada periode berikutnya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto hingga saat ini belum menetapkan satu pun nama calon Gubernur Bank Indonesia. Proses penjaringan masih berjalan, dan sejumlah nama dilaporkan telah dipanggil ke Istana Kepresidenan untuk menjalani penjajakan. Kepastian ini menjadi krusial mengingat masa jabatan Gubernur BI Perry Warjiyo akan berakhir pada Mei 2025.

Proses Penjaringan: Sejumlah Nama Masuk Radar Istana

Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Bank Indonesia sebagaimana diperbarui melalui Undang-Undang P2SK, presiden mengajukan calon gubernur bank sentral kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi XI. Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, publik memperkirakan pengumuman resmi akan dilakukan dalam beberapa pekan ke depan.

Sejumlah nama disebut-sebut masuk dalam bursa, mulai dari pejabat internal bank sentral — termasuk jajaran deputi gubernur yang berpengalaman mengelola kebijakan moneter dan sistem pembayaran — hingga kemungkinan Perry Warjiyo kembali diusulkan untuk periode berikutnya. Ada pula spekulasi mengenai figur dari lingkaran pemerintahan. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai siapa yang benar-benar menjadi pilihan utama.

Di Satu Sisi: Kontinuitas Menjadi Harapan Utama Pasar

Di satu sisi, kalangan pelaku pasar menilai kontinuitas kebijakan menjadi faktor terpenting dalam transisi kepemimpinan ini. Selama periode 2018-2025, bank sentral dinilai berhasil menjaga inflasi dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen, mempertahankan cadangan devisa setara lebih dari enam bulan impor, serta menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global. Reputasi tersebut menjadi modal kredibilitas yang tidak mudah dibangun ulang.

Rekam jejak dan kredibilitas calon pemimpin bank sentral akan langsung tercermin pada persepsi pasar. Semakin kuat independensi yang dipersepsikan, semakin kecil premi risiko yang dibebankan investor pada aset Indonesia, ujar seorang ekonom senior lembaga riset keuangan di Jakarta.

Dari sudut pandang ini, kandidat dari internal BI dianggap memiliki keunggulan karena memahami kerangka kebijakan yang sedang berjalan, sehingga transisi tidak mengganggu tren pelonggaran moneter yang baru dimulai sejak September 2024.

Di Sisi Lain: Ketidakpastian Berpotensi Menekan Sentimen

Di sisi lain, ketidakpastian yang berlarut berisiko menekan sentimen pasar. Rupiah telah mengalami pelemahan ke kisaran Rp16.300 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan sempat terkoreksi dari level di atas 7.200 ke bawah 7.000 dalam beberapa bulan terakhir. Imbal hasil Surat Berharga Negara bertenor 10 tahun bertahan di sekitar 7 persen, mencerminkan premi risiko yang masih tinggi.

Kekhawatiran lain adalah persepsi terhadap independensi bank sentral. Jika kandidat yang terpilih dinilai terlalu dekat dengan kekuasaan eksekutif, investor dapat menaikkan ekspektasi risiko fiskal, terutama dengan ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen dan program-program besar pemerintah yang membutuhkan pembiayaan signifikan. Dalam skenario ekstrem, hal itu dapat memicu capital outflow dari portofolio asing di pasar obligasi dan memperberat tekanan pada likuiditas valuta asing.

Proyeksi: Tiga Hal yang Perlu Dicermati

Pertama, waktu pengumuman. Semakin dekat ke Mei 2025 tanpa kepastian, semakin besar potensi volatilitas pada nilai tukar dan indeks saham sektor keuangan. Kedua, arah kebijakan moneter. Mayoritas analis memproyeksikan BI Rate masih berpeluang mengalami penurunan bertahap menuju kisaran 5,25-5,50 persen pada akhir 2025, dengan syarat rupiah stabil dan inflasi terkendali. Ketiga, koordinasi fiskal-moneter, mengingat APBN 2025 menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen dengan defisit dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto.

Pada akhirnya, siapa pun yang dipilih, pasar akan menilai dari tiga indikator: konsistensi menjaga inflasi, keberanian menahan tekanan politik terhadap suku bunga, serta kemampuan menjaga rasio stabilitas eksternal. Valuasi aset-aset keuangan Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh kredibilitas sosok yang akhirnya duduk di kursi pimpinan bank sentral.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User