JAKARTA — Ulama Ingatkan Adab Digital Saat Belajar Agama Online
Layar ponsel yang biasanya menyajikan video hiburan, kini bertransformasi menjadi mimbar digital. Di sepanjang perjalanan kereta pagi, seorang mahasiswi de
Layar ponsel yang biasanya menyajikan video hiburan, kini bertransformasi menjadi mimbar digital. Di sepanjang perjalanan kereta pagi, seorang mahasiswi dengan khidmat menyimak ceramah singkat di TikTok. Sementara itu, di sudut lain, seorang ayah sibuk bertanya pada asisten AI tentang tafsir suatu ayat. Kemudahan ini menjadi oase spiritual di tengah padatnya aktivitas, tetapi juga menyimpan tantangan baru yang tak boleh diabaikan.
Gelombang Literasi Digital Iman: Kemudahan Tanpa Batas
Media sosial dan kecerdasan buatan telah mendobrak tembok eksklusivitas pengetahuan agama. Kini, siapa pun bisa mengakses kajian dari ulama ternama hanya dengan sekali sentuh. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok mencatat miliaran penayangan konten dakwah setiap bulan, menjangkau audiens yang tak mungkin tersentuh metode konvensional. Fleksibilitas ini sangat membantu generasi muda yang haus akan bimbingan rohani namun terkendala waktu dan lokasi. Teknologi AI bahkan mampu merangkum poin-poin penting dari kitab klasik, menjadikan warisan intelektual Islam lebih dekat ke dalam genggaman.
Jebakan di Balik Layar: Hoaks hingga Fatwa Instan
Namun, tak selamanya kemudahan ini steril dari risiko. Algoritma media sosial kerap mendorong konten populer, bukan yang paling kredibel secara keilmuan. Sebuah riset dari Lembaga Kajian Digital menemukan bahwa 4 dari 10 video dakwah populer mengandung klaim yang tidak memiliki rujukan jelas. Tanpa adab tabayyun (klarifikasi), umat rentan menelan informasi agama yang dipotong-potong atau bahkan keliru. Tak jarang, diskusi di kolom komentar berujung pada perdebatan sengit tanpa bimbingan yang santun. Generasi yang terbiasa dengan jawaban instan AI pun bisa terjebak pada fatwa personal yang mengabaikan kompleksitas hukum Islam.
“Menuntut ilmu itu cahaya, tetapi ia harus berasal dari mata rantai guru yang jelas. Teknologi hanyalah alat; ia tak bisa menggantikan peran guru yang membimbing adab sebelum ilmu,” ujar Ustaz Khalid Basalamah, pendiri Komunitas Dakwah Digital, saat ditemui di sela seminar daring pekan lalu.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sanad keilmuan tetap menjadi roh yang tak boleh lenyap meski medium penyampaiannya serba virtual. Tanpa adab digital yang kokoh, ruang-ruang diskusi agama bisa berubah menjadi medan saling menghakimi, mengikis rasa hormat yang justru diajarkan di dalam Islam itu sendiri.
Membangun Etika Menuntut Ilmu di Ranah Digital
Lalu, bagaimana seorang muslim menjaga adab di tengah banjir informasi ini? Pertama, verifikasi sumber: pastikan konten berasal dari ustaz atau lembaga yang diakui kompetensinya, dan memiliki silsilah guru yang transparan. Kedua, jaga lisan digital: hindari komentar kasar, tuduhan sesat, atau merasa paling benar. Sebab, ilmu yang diperoleh lewat layar sejatinya tetap harus dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Tuhan. Ketiga, seimbangkan antara mencari dan mengamalkan: jangan sampai gairah mengoleksi konten mengalahkan keinginan untuk mengamalkan ajaran yang telah dipahami.
Analisis Dua Sisi
Berikut perbandingan singkat dari perspektif ganda fenomena ini:
Pro: - Akses universal ke khazanah ilmu dari berbagai ulama dan mazhab - Fleksibilitas belajar tanpa terikat waktu dan lokasi - Visualisasi menarik yang memudahkan pemahaman konsep abstrak - Personalisasi pencarian materi melalui AI sesuai kebutuhan individu Kontra: - Minimnya verifikasi sanad keilmuan; marak pendakwah tanpa kualifikasi - Kemunculan “ustaz instan” yang hanya mengejar viralitas tanpa substansi - Risiko penyebaran hoaks agama dan penafsiran yang terfragmentasi - Kecenderungan mengabaikan adab diskusi; debat tidak sehat di ruang komentarPerkembangan teknologi adalah keniscayaan. Alih-alih menolak, umat Islam perlu mengadaptasi prinsip-prinsip adab klasik ke dalam tata cara digital. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi ladang pahala, tetapi juga ruang tumbuhnya peradaban ilmu yang berakhlak.
Comments (0)