Jakarta - Keluhan para peternak mengenai merosotnya harga ayam hidup di tingkat kandang kini mulai tercermin di tingkat
Pantauan Harga Terbaru Berdasarkan laporan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan, Harga Nasional Tertimbang (HNT) untuk daging ayam ras per
Pantauan Harga Terbaru
Berdasarkan laporan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan, Harga Nasional Tertimbang (HNT) untuk daging ayam ras per tanggal 26 Juni 2026 tercatat berada di level Rp 35.800 per kilogram. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,16% apabila dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya yang masih bertengger di harga Rp 35.858 per kilogram.
Jika ditarik lebih jauh, tren pelemahan harga komoditas protein hewani ini sebenarnya sudah berlangsung selama hampir satu bulan penuh. Pada tanggal 29 Mei 2026, harga rata-rata daging ayam ras secara nasional masih berada di kisaran Rp 37.921 per kilogram. Dengan demikian, dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, harga telah terkoreksi cukup dalam hingga lebih dari Rp 2.000 per kilogram.
Penurunan harga di pasar ini sejalan dengan teriakan peternak mandiri yang mengaku harga jual ayam di tingkat kandang terus bergerak turun.
Analisis Tren dan Dampak
Data dari media kami menunjukkan bahwa tekanan terhadap harga ayam ras terjadi secara merata di berbagai daerah. Kondisi ini menimbulkan paradoks di masyarakat, di mana konsumen diuntungkan dengan harga belanja yang lebih murah, namun di sisi lain para peternak, khususnya peternak mandiri, harus menanggung beban kerugian karena biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual.
Turunnya Harga Nasional Tertimbang ini mencerminkan adanya kelebihan pasokan (oversupply) di sentra-sentra produksi. Meskipun permintaan di pasar cenderung stabil, volume panen yang tinggi memaksa harga terus melorot. Para pedagang di pasar tradisional pun mengamini bahwa volume penjualan tidak mengalami peningkatan signifikan meskipun harga banderol lebih rendah.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Perdagangan masih terus melakukan pemantauan intensif melalui sistem SP2KP untuk memastikan volatilitas harga tidak semakin merugikan peternak. Sementara itu, asosiasi peternak terus mendesak pemerintah agar segera melakukan langkah intervensi berupa pengurangan pasokan bibit (Day Old Chicken) guna menyeimbangkan harga di tingkat peternak dan pasar.
Comments (0)