Harga Minyak Kian Dekat US$100, Ketegangan AS-Iran Mengguncang Pasar
Berdasarkan data perdagangan berjangka di bursa komoditas global per Kamis (20/8/2026), harga minyak mentah Brent kembali mengalami kenaikan hingga berada di kisaran US$98–99 per barel, hanya sekita...
Berdasarkan data perdagangan berjangka di bursa komoditas global per Kamis (20/8/2026), harga minyak mentah Brent kembali mengalami kenaikan hingga berada di kisaran US$98–99 per barel, hanya sekitar satu hingga dua persen dari ambang psikologis US$100. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menguat menembus US$95 per barel. Pemicu utamanya bukan perubahan data pasokan, melainkan eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali menyeruak dalam sepekan terakhir.
Ketidakpastian geopolitik itu tercermin dari lonjakan premi risiko yang melekat pada kontrak berjangka. Indeks volatilitas harga minyak yang sempat menurun pada awal semester kedua kembali menanjak. Para pelaku pasar kini memperhitungkan ulang skenario terburuk: gangguan pasokan dari jalur laut utama di kawasan Teluk.
Selat Hormuz dan Perhitungan Pasokan
Selat Hormuz adalah jalur transit bagi sekitar 20% konsumsi minyak dunia, atau lebih dari 20 juta barel per hari. Setiap isyarat konfrontasi di wilayah itu langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko terganggunya arus pengiriman, meskipun hingga saat ini aliran ekspor tercatat masih berjalan normal. Data pelacakan kapal menunjukkan belum ada penurunan signifikan pada volume muatan yang melintasi selat tersebut.
Menariknya, respons kali ini berbeda dari episode serupa pada 2019 dan 2020, ketika ketegangan di Teluk hanya memicu lonjakan singkat yang surut dalam hitungan pekan. Kini, kenaikan harga berlangsung lebih lama dan lebih bertahan, menandakan pasar menilai konflik berpotensi berlarut. Dalam bahasa awam, premi risiko geopolitik yang dibayar pembeli minyak sedang berada pada tren menaik.
Dua Sisi: Sentimen Pasar Versus Fundamental
Di satu sisi, kenaikan ini memiliki justifikasi dari sisi sentimen pasar. Ketika risiko suplai terasa nyata dan waktu kejadiannya tak bisa diprediksi, harga wajar bergerak naik lebih dulu sebagai bentuk antisipasi. Sejumlah dana global juga mulai menambah posisi beli di portofolio komoditas untuk melindungi nilai dari ketidakpastian, sehingga aliran likuiditas ikut mendorong harga ke level yang lebih tinggi.
Di sisi lain, data fundamental pasokan belum sepenuhnya mendukung reli ini. OPEC+ masih berada dalam fase penambahan produksi bertahap, stok minyak komersial Amerika Serikat berada di atas rata-rata lima tahun terakhir, dan permintaan dari China, importir terbesar dunia, masih tumbuh lambat. Bank sentral di sejumlah negara maju juga belum memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneter yang agresif, yang berarti permintaan energi global belum mendapat dorongan baru. Artinya, sebagian dari kenaikan saat ini lebih mencerminkan ketakutan dibanding kelangkaan yang sudah terukur.
“Pasar sedang membangun premi risiko yang besar, tetapi pasokan fisik belum berkurang secara signifikan. Jika tidak ada gangguan nyata, koreksi tajam sangat mungkin terjadi,” ujar seorang analis komoditas di sebuah bank investasi global dalam riset mingguan yang beredar di pasar.
Dampak ke Rupiah, Inflasi, dan APBN
Bagi Indonesia, harga minyak di atas US$90 memiliki konsekuensi berlapis. Pertama, nilai impor migas yang mengalami kenaikan akan memperlebar defisit neraca perdagangan, terutama karena harga komoditas ekspor andalan seperti batu bara dan sawit justru cenderung turun year-on-year. Kedua, rupiah berpotensi tertekan; dalam skenario tekanan yang berlanjut, capital outflow dari pasar surat berharga negara bisa meningkat seiring investor menilai ulang risiko portofolio mereka.
Ketiga, inflasi. Kenaikan harga minyak mentah biasanya menjalar ke harga energi domestik dan biaya logistik dalam satu hingga dua bulan. Bank Indonesia akan dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, atau memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Keempat, sisi fiskal. Asumsi harga minyak Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 berada jauh di bawah level saat ini; jika harga bertahan tinggi, belanja subsidi dan kompensasi energi berpotensi membengkak dan menggerus ruang fiskal pemerintah.
Proyeksi: Dua Skenario
Para ekonom umumnya menyusun dua skenario. Pertama, eskalasi mereda melalui jalur diplomasi: premi risiko menguap dan harga dapat terkoreksi 8–10% menuju kisaran US$88–92 per barel. Kedua, konflik meluas hingga mengganggu pelayaran: Brent berpotensi menembus US$110 dan volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka menengah. Rasio risiko saat ini memang lebih condong ke arah kenaikan, tetapi arah pergerakan sangat bergantung pada berita politik harian, bukan semata-mata perhitungan suplai.
Yang patut dicermati, pasar kini lebih sensitif terhadap isyarat politik dibanding data ekonomi. Valuasi harga pada level ini belum sepenuhnya didukung fundamental, sehingga ruang koreksi tetap terbuka. Bagi pelaku usaha, prinsip yang berlaku adalah mengelola ketidakpastian dengan instrumen lindung nilai; bagi pembaca, memahami dua sisi cerita ini lebih berguna daripada sekadar mengikuti arah harga harian.
Comments (0)