Harga Ayam di Pasar Ikut Anjlok, Sentuh Rp 35.800 per Kg

Jakarta – Kondisi terpuruk yang dialami peternak ayam broiler akibat anjloknya harga di tingkat kandang kini mulai merembet secara signifikan ke rantai distribusi hilir. Penurunan tajam ini tidak l

Jul 08, 2026 - 00:32
0 0
Harga Ayam di Pasar Ikut Anjlok, Sentuh Rp 35.800 per Kg

Jakarta – Kondisi terpuruk yang dialami peternak ayam broiler akibat anjloknya harga di tingkat kandang kini mulai merembet secara signifikan ke rantai distribusi hilir. Penurunan tajam ini tidak lagi hanya dikeluhkan oleh para peternak, tetapi juga terlihat jelas pada label harga yang terpampang di berbagai pasar tradisional. Harga jual daging ayam ras segar untuk konsumen akhir dilaporkan terus merosot, mengikuti tren kejatuhan harga yang terjadi di tingkat produsen.

Berdasarkan panel pemantauan harga kebutuhan pokok terbaru yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan melalui analisis yang dihimpun media kami, terjadi koreksi harga yang konsisten dalam beberapa hari terakhir. Data Harga Nasional Tertimbang (HNT) mencatat, per 26 Juni 2026, harga rata-rata daging ayam ras di pasar domestik berada di level Rp 35.800 per kilogram. Angka ini menunjukkan adanya penurunan tipis sebesar 0,16% jika dibandingkan dengan posisi harga sehari sebelumnya yang bertengger di kisaran Rp 35.858 per kilogram.

Tren Penurunan Harga Sebulan Terakhir

Jika ditarik ke belakang dan melihat pergerakan harga dalam rentang waktu satu bulan terakhir, grafik penurunan terlihat semakin jelas dan konsisten. Laporan pemantauan pasar menunjukkan bahwa harga daging ayam ras terus bergerak dalam tren negatif tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berbalik arah secara signifikan dalam waktu dekat. Pada akhir Mei lalu, tepatnya di posisi 29 Mei, harga rata-rata nasional masih tercatat cukup tinggi di level Rp 37.921 per kilogram. Namun, seiring bergulirnya hari dan memasuki bulan Juni, grafik harga terus melandai hingga sentuh titik terendah baru pada pekan terakhir bulan tersebut.

Selisih penurunan harga yang mencapai lebih dari Rp 2.000 per kilogram dalam kurun waktu kurang dari sebulan ini menjadi sinyalemen serius adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar. Pasokan daging ayam yang melimpah, didukung oleh produktivitas kandang yang tinggi serta menurunnya konsumsi rumah tangga dan industri kuliner pasca periode puncak, menjadi pemicu utama koreksi harga yang terjadi secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

Hubungan dengan Kondisi di Tingkat Peternak

Penurunan di tingkat pasar ini tidak bisa dilepaskan dari jeritan para peternak mandiri yang sudah lebih dulu terhantam badai anjloknya harga di tingkat kandang. Di beberapa sentra peternakan, harga ayam hidup (livebird) dikabarkan telah menembus jauh di bawah biaya pokok produksi (BPP) yang membuat banyak peternak memilih untuk mengurangi bibit atau melakukan afkir dini demi menekan kerugian operasional. Meskipun harga di pasar turun, disparitas harga antara kandang dan pasar tradisional masih menyisakan margin yang cukup tipis bagi para pedagang di pasar basah.

"Tekanan ini memang terjadi secara berantai. Ketika harga di kandang jatuh, otomatis pedagang menyesuaikan harga jualnya, tetapi di sisi lain konsumen cenderung menunda pembelian dalam jumlah besar karena tidak ada momen hari besar keagamaan atau libur panjang yang biasanya mendongkrak permintaan," ungkap seorang pengamat ekonomi pertanian dalam laporan yang dihimpun media kami.

Dinamika di Lapangan

Dari hasil penelusuran di beberapa pasar induk dan pasar tradisional, harga di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 36.000 per kilogram kini menjadi pemandangan umum. Meskipun harga murah ini menguntungkan bagi kantong ibu rumah tangga, kondisi ini justru memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha peternakan jangka panjang. Pedagang mengaku stok yang masuk ke kios cenderung berlebih sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya untuk mengimbangi surplus produksi tersebut.

Dengan angka rata-rata nasional yang kini berada di Rp 35.800 per kg, pemerintah melalui dinas terkait diharapkan segera melakukan langkah stabilisasi untuk mencegah anjloknya harga yang semakin dalam. Sebab, tanpa intervensi seperti pengadaan dan penyerapan oleh BUMN pangan atau pemotongan produksi secara terukur, harga berpotensi terus merosot dan merenggut nyawa usaha para peternak kecil yang menjadi tulang punggung pasokan protein nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User