Hadiri Peringatan PD II, PM Jepang Diteriaki Demonstran yang Marah

Tokyo — Suasana peringatan Perang Dunia II di ibu kota Jepang pada Selasa (23/6) berubah gaduh ketika Perdana Menteri Sanae Takaichi mendapat teriakan keras dari sekelompok demonstran yang meluapka

Jul 08, 2026 - 05:41
0 0
Hadiri Peringatan PD II, PM Jepang Diteriaki Demonstran yang Marah

Tokyo — Suasana peringatan Perang Dunia II di ibu kota Jepang pada Selasa (23/6) berubah gaduh ketika Perdana Menteri Sanae Takaichi mendapat teriakan keras dari sekelompok demonstran yang meluapkan kemarahan. Aksi protes itu menandai ketegangan publik yang semakin dalam terhadap arah kebijakan pertahanan pemerintahan baru, yang dinilai meninggalkan prinsip perdamaian yang telah menjadi landasan negara tersebut sejak akhir perang.

Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, massa yang berkumpul di sekitar lokasi acara meneriakkan kecaman terhadap langkah pemerintah yang dianggap mengancam identitas pasifis Jepang. Prinsip yang dipegang teguh selama puluhan tahun itu kini mulai tergerus menyusul keputusan pada April lalu yang melonggarkan regulasi ekspor persenjataan mematikan. Kebijakan ini sekaligus membuka pintu bagi Jepang untuk memainkan peran lebih aktif dalam aliansi pertahanan global, khususnya bersama Amerika Serikat.

"Kami tidak ingin kembali ke masa lalu. Kebijakan ini mengkhianati konstitusi perdamaian kami," teriak salah satu demonstran dalam aksi tersebut.

PM Takaichi sendiri telah lama dikenal sebagai figur garis keras dalam isu keamanan nasional. Secara terbuka, ia menyuarakan ambisi untuk merevisi Konstitusi Jepang, khususnya pasal yang membatasi kapasitas militer negara itu hanya untuk pertahanan diri. Pandangan ini menuai reaksi tajam dari berbagai kalangan, baik di dalam negeri maupun dari negara-negara tetangga yang masih menyimpan ingatan kelam pendudukan Jepang di masa perang.

Ketegangan regional pun ikut memanas ketika tahun lalu Takaichi melontarkan pernyataan kontroversial mengenai status Taiwan, yang seketika memicu kemarahan Beijing. China menganggap komentar tersebut sebagai campur tangan terhadap urusan dalam negerinya dan mengingatkan Tokyo agar tidak bermain api dalam isu sensitif yang dapat mengguncang stabilitas kawasan.

Pelonggaran ekspor senjata yang disetujui pemerintah bulan April lalu menandai pergeseran signifikan dari doktrin pertahanan Jepang pasca-Perang Dunia II. Dengan aturan baru ini, perusahaan-perusahaan Jepang kini diizinkan menjual peralatan militer mematikan ke negara-negara mitra, sebuah langkah yang sebelumnya dianggap tabu. Para pengkritik menilai kebijakan ini tidak hanya mengaburkan batas antara pertahanan dan ofensif, tetapi juga berpotensi menyeret Jepang ke dalam konflik bersenjata di luar wilayahnya.

Demonstrasi yang mewarnai peringatan hari bersejarah tersebut menjadi cermin keresahan publik yang semakin sulit dibendung. Bagi banyak warga Jepang, kenangan pahit perang dan penderitaan yang ditimbulkannya masih membekas kuat, sehingga setiap upaya untuk mempersenjatai kembali negara itu selalu ditanggapi dengan penolakan yang emosional. Namun, di sisi lain, tekanan geopolitik dan dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik terus mendorong pemerintah untuk menyesuaikan postur pertahanannya demi melindungi kepentingan nasional.

Hingga berita ini diturunkan, kantor Perdana Menteri belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden yang terjadi di sela-sela acara kenegaraan tersebut. Aksi teriakan demonstran yang mengiringi kehadiran Takaichi ini dipastikan akan terus memantik perdebatan panjang mengenai masa depan arah kebijakan luar negeri dan pertahanan Jepang di bawah kepemimpinan baru yang semakin tegas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Editor Ekonomi. Editor analisis pasar dan bisnis.

Comments (0)

User