Gunung Anak Krakatau Kembali Muntahkan Abu Vulkanik, Kolom Asap Capai 150 Meter

Lampung Selatan – Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan menyemburkan abu setinggi 150 meter dari puncak. Erupsi ini terekam dalam pe

Jul 08, 2026 - 04:27
0 0
Gunung Anak Krakatau Kembali Muntahkan Abu Vulkanik, Kolom Asap Capai 150 Meter

Lampung Selatan – Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan menyemburkan abu setinggi 150 meter dari puncak. Erupsi ini terekam dalam periode pengamatan terkini yang dilakukan oleh pos pemantauan setempat.

Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, kolom asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal teramati jelas dari kawah utama. Ketinggian asap bervariasi antara 10 hingga 150 meter di atas puncak. Visual ini sempat tertutup kabut pada beberapa kesempatan, namun secara umum aktivitas gunung yang berstatus Level III atau Siaga itu masih mudah dipantau.

“Kondisi cuaca di sekitar gunung didominasi cerah hingga mendung dengan angin bertiup lemah ke arah barat laut,” tulis Muhammad Dika Nurzaman, petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, dalam keterangan resminya.

Pengamatan dilakukan selama enam jam, mulai pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. Pos pemantauan mencatat tidak ada perubahan signifikan pada status gunung, yang masih bertahan di level siaga. Meski demikian, rekomendasi agar masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan dalam radius berbahaya masih tetap diberlakukan.

Riwayat Aktivitas dan Imbauan Keselamatan

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang terus tumbuh di kaldera sisa letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Aktivitas erupsinya kerap terjadi secara sporadis dengan intensitas yang berfluktuasi. Dalam beberapa tahun terakhir, gunung ini beberapa kali menyemburkan material vulkanik dan menghasilkan awan panas yang mengubah topografi sekitarnya, termasuk longsoran tubuh gunung yang memicu tsunami pada akhir 2018 silam.

Dengan status Siaga yang disandangnya hari ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengimbau agar seluruh pihak menjauhi area puncak dan tidak beraktivitas di dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Abu vulkanik yang beterbangan mengikuti arah angin ke barat laut juga berpotensi mengganggu pernapasan, sehingga masyarakat di pulau-pulau terdekat diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Berdasarkan data dari pos pengamatan, angin yang bertiup lemah membuat sebaran abu cenderung terbatas. Meski begitu, pemantauan terus dilakukan setiap jam untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas seismik maupun visual. “Kami akan segera menyampaikan informasi terkini apabila terjadi peningkatan atau perubahan status,” lanjut petugas dalam laporan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan dampak terhadap penerbangan maupun aktivitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Namun, para pemangku kepentingan tetap diminta untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat sifat erupsi Gunung Anak Krakatau yang sulit diprediksi secara pasti.

Mitigasi dan Kesiapsiagaan Warga Pesisir

Wilayah pesisir Lampung Selatan dan Banten yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda menjadi kawasan paling rentan terhadap dampak sekunder erupsi, seperti potensi longsoran material ke laut. Pemerintah daerah bersama BPBD setempat telah menyusun jalur evakuasi dan titik kumpul sebagai langkah antisipasi. Sosialisasi berkala juga dilakukan untuk memastikan warga memahami prosedur tanggap darurat, terutama jika terjadi peningkatan status menjadi Awas.

Letusan setinggi 150 meter yang terjadi pada periode ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan beberapa erupsi sebelumnya yang bisa mencapai ketinggian kolom abu berkilo-kilometer. Akan tetapi, para ahli vulkanologi menekankan bahwa ancaman bukan hanya bersumber dari kekuatan semburan, melainkan juga dari akumulasi material di lereng yang bisa longsor sewaktu-waktu.

Media kami akan terus memantau perkembangan situasi di Gunung Anak Krakatau dan menyajikan informasi terkini berdasarkan data resmi dari pos pengamatan serta PVMBG. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti arahan otoritas setempat demi keselamatan bersama. (Tim Redaksi Media Kami)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User