Jakarta — EDRR Expo Indonesia 2026 Siap Digelar 12–14 Agustus
Pameran Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Expo Indonesia 2026 akan berlangsung pada 12–14 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Ke
Pameran Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Expo Indonesia 2026 akan berlangsung pada 12–14 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran. Ajang business-to-business (B2B) ini dirancang untuk mempertemukan produsen peralatan keselamatan, instansi pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan pakar risiko bencana dari berbagai negara. Dengan tema penguatan ketangguhan, pameran ini memamerkan teknologi mitigasi, sistem peringatan dini, dan peralatan penyelamatan mutakhir, sembari membuka ruang dialog dan transaksi komersial.
Peluang Kolaborasi dan Transfer Teknologi
Dari sisi positif, EDRR Expo 2026 menjanjikan akselerasi inovasi dan kemitraan strategis. Peserta dapat melihat langsung drone pencari korban, kendaraan amfibi, hingga platform data kebencanaan berbasis AI. Tidak hanya ekshibisi, penyelenggara menyiapkan seminar, workshop, dan simulasi penyelamatan yang dipandu praktisi internasional. Direktur PT Event Disaster Solution, Riko Hartono, menuturkan:
”EDRR bukan sekadar etalase produk. Kami ingin katalog hidup yang memicu proyek bersama—antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi—agar investasi keselamatan tidak lagi dipandang sebagai biaya melainkan aset.”
Bagi produsen lokal, pameran ini dianggap menjadi panggung untuk bersaing dengan merek global. Riset internal asosiasi industri menunjukkan bahwa 68% kontrak pengadaan alat pelindung dan detektor bencana di Indonesia masih didominasi produk impor. EDRR diharapkan meningkatkan porsi komponen lokal sekaligus transfer pengetahuan teknis.
Sisi Lain: Eksklusivitas B2B dan Kesenjangan Partisipasi
Namun, model B2B yang tertutup bagi masyarakat umum menuai kritik dari kalangan pemerhati kebijakan publik. Menurut peneliti tata kelola risiko dari Universitas Paramadina, Andini Putri, fokus pada transaksi bisnis berpotensi mengabaikan elemen pemberdayaan komunitas akar rumput yang paling rentan terdampak bencana.
”Pameran yang hanya bisa diakses pelaku industri tidak menjawab kebutuhan literasi warga tentang evakuasi mandiri atau penggunaan APAR. Padahal, 90% korban bencana di Indonesia berasal dari sektor informal yang tidak tersentuh B2B,” ujarnya.
Selain itu, biaya partisipasi stan yang mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah dinilai membatasi kehadiran UMKM penyedia alat kesiapsiagaan sederhana namun masif, seperti masker asap, tandu lipat, atau rompi pelampung. Akibatnya, pameran berisiko menjadi arena dominasi korporasi besar dan perangkat berteknologi tinggi yang belum tentu sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang kompleks.
Dari segi lingkungan, kritik juga diarahkan pada jejak karbon ajang berskala internasional yang mengundang peserta dari luar negeri. Beberapa organisasi lingkungan menyarankan penerapan pameran hibrida untuk mengurangi perjalanan udara tanpa menghilangkan esensi pertemuan bisnis.
Perbandingan Persepsi
Berdasarkan pemaparan di atas, berikut ringkasan argumen yang muncul:
- Pro:
- Mendorong inovasi dan kemitraan multi-pihak.
- Memperluas akses pasar dan transfer teknologi.
- Menyediakan platform edukasi profesional melalui seminar dan simulasi.
- Meningkatkan potensi penggunaan produk dalam negeri di sektor strategis.
- Kontra:
- Model B2B eksklusif tidak menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan literasi bencana.
- Biaya tinggi membatasi partisipasi UKM dan inovator skala kecil.
- Risiko dominasi produk asing dan ketergantungan teknologi importif.
- Jejak karbon dan dampak lingkungan dari acara fisik berskala besar.
Keberhasilan EDRR Expo Indonesia 2026 tidak hanya diukur dari nilai transaksi, tetapi juga dari sejauh mana pameran ini mampu meretas kesenjangan antara pelaku industri dan komunitas rentan. Sembari menunggu data dampak konkret setelah acara, perdebatan ini mengingatkan bahwa kesiapsiagaan bencana memerlukan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan.
Comments (0)