Beritadua.com, Jakarta – Sebuah ilustrasi sederhana tentang ucapan perpisahan baru-baru ini menarik perhatian publik di media sosial. Gambar tersebut, yang menggambarkan dua sosok manusia saling melambaikan tangan dengan latar langit senja, memicu perbincangan mendalam tentang makna di balik kata-kata perpisahan yang sering kita ucapkan tanpa sadar.
Mengapa Ucapan Perpisahan Begitu Penting? Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Andriani, M.Psi., menjelaskan bahwa perpisahan—sekecil apa
Mengapa Ucapan Perpisahan Begitu Penting?
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Andriani, M.Psi., menjelaskan bahwa perpisahan—sekecil apa pun—merupakan momen transisi yang memengaruhi kondisi emosional seseorang. “Saat kita mengucapkan selamat tinggal, otak kita secara otomatis memproses kehilangan, bahkan jika itu hanya kepergian sementara. Ucapan yang tulus dapat menjadi jangkar emosional yang membantu seseorang merasa dihargai dan dikenang,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (2/6).
“Ucapan perpisahan bukan sekadar formalitas. Ini adalah penanda bahwa suatu hubungan atau pengalaman telah mencapai titik akhir, dan kita mengakuinya dengan hormat.” – Dr. Rina Andriani
Fenomena ini juga tercermin dalam berbagai budaya di dunia. Di Jepang, misalnya, tradisi sayonara tidak hanya berarti “selamat tinggal”, tetapi mengandung nuansa filosofis mendalam bahwa setiap pertemuan pasti akan berakhir. Sementara di Indonesia, ungkapan “sampai jumpa lagi” menyimpan optimisme akan adanya reuni di masa depan, menekankan bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.
Perpisahan di Era Digital: Lebih Mudah atau Lebih Dingin?
Di era digital seperti sekarang, salam perpisahan kerap disampaikan melalui pesan singkat atau panggilan video. Peneliti komunikasi digital dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Andi Pratama, mengungkapkan bahwa teknologi menciptakan paradoks dalam perpisahan. “Kita bisa mengucapkan selamat tinggal kapan saja dan di mana saja, namun kedalaman emosi sering kali hilang karena ketiadaan bahasa tubuh dan sentuhan fisik,” katanya.
Survei yang dilakukan oleh Lembaga Riset Sosial Digital (LRSD) pada Mei 2026 terhadap 1.500 responden di Indonesia menunjukkan bahwa 62% orang merasa pengalaman perpisahan virtual kurang memuaskan secara emosional dibandingkan dengan perpisahan tatap muka. Namun, di sisi lain, 78% mengakui bahwa teknologi telah memungkinkan mereka untuk tetap terhubung meskipun terpisah jarak, mengurangi rasa kehilangan secara signifikan.
Seni Mengucapkan Selamat Tinggal yang Baik
Mengucapkan selamat tinggal bukanlah hal yang mudah, terutama jika perpisahan bersifat permanen. Namun, beberapa ahli komunikasi menawarkan panduan sederhana agar momen perpisahan menjadi lebih bermakna:
1. Hadir Sepenuhnya. Hindari gangguan seperti ponsel atau pikiran yang melayang. Berikan perhatian penuh pada lawan bicara karena momen ini mungkin tidak akan terulang.
2. Pilih Kata dengan Sadar. Jangan hanya mengandalkan “dadah” atau “bye”. Sesuaikan ucapan dengan konteks hubungan—ucapan yang personal akan lebih membekas di hati.
3. Jangan Tunda. Semakin cepat Anda mengutarakan perasaan, semakin cepat proses penerimaan dimulai. Penundaan hanya akan menambah beban psikologis.
4. Akui Emosi yang Muncul. Menangis atau merasa sedih adalah hal yang wajar. Mengekspresikan emosi secara jujur justru menjadi bagian dari proses penyembuhan.
Dr. Rina menambahkan bahwa ritual kecil seperti jabat tangan, pelukan, atau bahkan sekadar menatap mata lawan bicara dapat memperkuat efek psikologis positif dari perpisahan. “Otak kita merekam sensasi fisik yang menyertai kata-kata. Itulah kenapa pelukan terakhir sering kali terasa begitu kuat dalam ingatan,” jelasnya.
Ilustrasi yang Menggugah Kesadaran Kolektif
Kembali pada ilustrasi yang menjadi perbincangan. Gambar tanpa wajah itu justru dianggap mampu mewakili universalitas perpisahan—siapa pun bisa merasakan getaran emosi yang sama. Netizen dengan akun @senja_bercerita menulis di Twitter, “Ilustrasi ini mengingatkan aku pada kepergian Ayah. Sederhana tapi menusuk. Terima kasih sudah mengabadikan momen yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.”
Fotografer di balik gambar tersebut, yang diabadikan oleh kontributor Beritadua.com melalui platform Pexels, memang tidak menyertakan takarir panjang. Namun justru di situlah letak kekuatannya: ia menjadi cermin bagi siapa saja yang pernah mengalami perpisahan, baik yang manis maupun pahit.
Kesimpulan: Merayakan Perpisahan sebagai Bagian dari Kehidupan
Perpisahan tidak selalu harus dimaknai negatif. Dalam siklus kehidupan, setiap perpisahan membuka jalan bagi pertemuan baru, pengalaman baru, dan pertumbuhan diri. Alih-alih dihindari, momen ini layak dirayakan dengan kesadaran penuh dan hati yang lapang.
Jadi, ketika Anda mengucapkan selamat tinggal esok hari—entah kepada rekan kerja yang pindah tugas, sahabat yang merantau, atau bahkan masa lalu yang perlu dilepaskan—lakukanlah dengan setulus mungkin. Karena pada akhirnya, cara kita mengucapkan selamat tinggal mencerminkan cara kita mencintai.
(Kontributor: Tim Redaksi Beritadua.com)
Comments (0)