Berdasarkan data Badan Statistik Vietnam (GSO) yang diumumkan akhir Desember 2024, perekonomian negara tersebut tumbuh 7,09% year-on-year sepanjang 2024, jauh melompat dari laju 5,05% pada tahun 2023 dan mendekati capaian 8,02% saat fase pemulihan pascapandemi. Angka itu menempatkan Vietnam sebagai salah satu ekonomi dengan kinerja tercepat di Asia Tenggara, sementara pertumbuhan Indonesia berada di kisaran 5,03% pada periode yang sama. Produk domestik bruto per kapita Vietnam kini ditaksir menembus sekitar US$4.700, semakin mendekati posisi Indonesia yang berkisar US$5.000, meskipun dua dekade lalu jarak antara keduanya jauh lebih lebar.
Pencapaian tersebut memantik perdebatan di kalangan pelaku industri dan pembuat kebijakan di tanah air: apa sebenarnya resep pertumbuhan Negeri Baju Merah itu, dan sejauh mana pola serupa dapat diterapkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang berbeda skala dan struktur? Dua perspektif berikut mencoba menimbangnya secara berimbang.
Proyeksi Ekspor dan Lonjakan Investasi Asing
Motor utama pertumbuhan Vietnam adalah sektor berorientasi ekspor. Sepanjang 2024, nilai ekspor barang mencapai kisaran US$405 miliar, menghasilkan surplus perdagangan sekitar US$30 miliar. Untuk perbandingan, total ekspor Indonesia pada tahun yang sama berada di sekitar US$258 miliar, padahal ekonomi Indonesia lebih dari empat kali lipat ukuran Vietnam. Kontribusi elektronik terhadap ekspor Vietnam kini menembus lebih dari 40% dengan satu dua pabrik raksasa, termasuk kompleks perakitan milik Samsung, menyumbang nilai ekspor tahunan puluhan miliar dolar AS — setara dengan sebagian besar kontribusi satu komoditas primer andalan Indonesia.
Di sisi investasi, realisasi penanaman modal asing (PMA) Vietnam pada 2024 tercatat sekitar US$25,3 miliar, sementara nilai terdaftar mencapai sekitar US$38 miliar. Angka realisasi itu melampaui realisasi PMA Indonesia yang berada di kisaran Rp 229,6 triliun atau setara US$14-15 miliar. Rasio investasi terhadap PDB Vietnam sekitar 6-7%, sedangkan Indonesia bertahan di bawah 2%. Perbedaan ini menunjukkan betapa agresifnya Vietnam menarik modal asing, sekaligus membuka diskusi tentang kualitas dan dampak ekonomi yang menyertainya.
SDM, Upah, dan Kekuatan Manufaktur
Di satu sisi, keberhasilan Vietnam tidak bisa dilepaskan dari investasi berkelanjutan pada pendidikan dan tenaga kerja terampil. Angka melek huruf penduduk Vietnam berada di kisaran 95-98%, dengan rata-rata usia penduduk yang lebih muda, yakni sekitar 32 tahun, dibandingkan Indonesia yang mendekati 30 tahun namun dengan total populasi dua setengah kali lipat. Jumlah angkatan kerja Vietnam sekitar 52 juta orang, dan upah minimum di banyak kawasan industri masih berada di rentang US$145-US$200 per bulan, membuat biaya tenaga kerja manufaktur kompetitif dibandingkan sejumlah wilayah di Indonesia yang upah minimumnya menembus Rp 2,8-5 juta per bulan.
Keunggulan regulasi juga terlihat dari jumlah kesepakatan perdagangan bebas yang dimiliki Vietnam, mencapai lebih dari 15 perjanjian termasuk CPTPP, EVFTA, dan RCEP. Melalui EVFTA yang berlaku sejak 2020, hampir 99% tarif bea masuk Uni Eropa terhadap produk Vietnam dihapus bertahap. Kombinasi akses pasar itu dengan disiplin upah menjadikan Vietnam sebagai tujuan favorit perusahaan yang memindahkan lini produksi dari Tiongkok, alias strategi rerouting rantai pasok global yang muncul ketika sentimen pasar terhadap risiko geopolitik meningkat.
Pro: Keunggulan yang Layak Dicontoh
Pro, yakni sisi yang mendukung adopsi model Vietnam, menyoroti beberapa hal konkret. Pertama, orientasi ekspor yang konsisten membuat perekonomian terbuka terhadap kompetisi sehingga produktivitas naik. Kedua, perizinan investasi yang ringkas dan kawasan industri yang terintegrasi memangkas waktu membangun pabrik. Ketiga, sumber daya manusia muda dengan keterampilan teknis menjadi daya tarik bagi investor elektronik dan komponen presisi. Bagi Indonesia, pelajarannya adalah pentingnya memperluas basis manufaktur bernilai tambah di luar sumber daya alam, bukan sekadar mengandalkan komoditas primer yang rentan terhadap fluktuasi harga.
Kontra: Risiko yang Sering Terlewat
Di sisi lain, Kontra mengingatkan bahwa ada sisi bayangan yang jarang dibahas. Ekonomi Vietnam sangat bergantung pada modal asing; perusahaan asing menguasai lebih dari 70% total ekspor, sementara sektor usaha dalam negeri berkontribusi hanya sekitar 40-45% terhadap PDB dengan skala yang masih kecil. Ketergantungan semacam ini membuat negara rentan terhadap gejolak global. Pada 2023 saja, krisis pasokan listrik di provinsi-provinsi utara memaksa sejumlah pabrik berhenti beroperasi sementara, menggambarkan keterbatasan infrastruktur dasar dibanding laju industrialisasi.
Risiko lain muncul dari sisi eksternal. Kebijakan tarif impor agresif dari mitra dagang utama, termasuk ancaman tarif balasan yang mencapai 46% terhadap produk Vietnam pada 2025, memicu tekanan terhadap nilai tukar dong dan potensi capital outflow dari pasar obligasi. Tingkat utang pemerintah relatif moderat, tetapi ketergantungan pada satu-dua pembeli besar membuat struktur ekspor rapuh. Diversifikasi pasar dan penguatan rantai pasok domestik menjadi agenda yang belum tuntas.
Implikasi bagi Indonesia
Implikasi bagi Indonesia bersifat dua arah. Dari satu sisi, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Vietnam: pasar domestik 279 juta penduduk, cadangan energi melimpah, dan posisi sebagai eksportir komoditas strategis. Kebijakan hilirisasi dan penguatan industri dalam negeri berpotensi menaikkan rasio manufaktur terhadap PDB dari kisaran 18-19% menjadi lebih tinggi dalam jangka panjang. Dari sisi lain, Indonesia perlu memperbaiki iklim investasi, memangkas biaya logistik, dan menyeimbangkan kebijakanTKDN dengan kebutuhan efisiensi agar tidak kehilangan daya saing dalam menarik investasi manufaktur padat karya.
Pada akhirnya, Vietnam membuktikan bahwa pertumbuhan tinggi bisa diraih dengan kombinasi pendidikan, tenaga kerja terampil, keterbukaan perdagangan, dan disiplin kebijakan. Namun proyeksi jangka panjang bergantung pada kemampuan negara tersebut memperkuat sektor domestik dan meredam risiko eksternal. Bagi Indonesia, belajar dari Vietnam bukan berarti meniru mentah-mentah, melainkan memetakan elemen mana yang kompatibel dengan karakteristik ekonomi sendiri sambil tetap menjaga stabilitas makro dan daya beli masyarakat.
Comments (0)