Oct 08, 2026
Bisnis

IHSG Menguat Usai FSTE Pertahankan Status Pasar Modal RI

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia per akhir Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat setelah sempat tertekan dua hari berturut-turut. penguatan ini terjadi meny...

IHSG Menguat Usai FSTE Pertahankan Status Pasar Modal RI

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia per akhir Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat setelah sempat tertekan dua hari berturut-turut. penguatan ini terjadi menyusul pengumuman lembaga penyedia indeks global FSTE Russell yang memutuskan mempertahankan Indonesia pada status Secondary Emerging Market. Keputusan tersebut menjadi katalis positif bagi sentimen pasar yang sebelumnya dilanda ketidakpastian.

Respons Pasar dan Pergerakan Indeks

Penguatan IHSG hari itu tercatat sekitar 0,7% dibanding penutupan sebelumnya, setelah sebelumnya mengalami koreksi cukup dalam akibat gejolak internal di bursa. Nilai transaksi harian juga menunjukkan peningkatan likuiditas, dengan investor asing mencatatkan net buy tipis di beberapa sektor unggulan seperti perbankan, energi, dan konsumer.

Secara year-on-year, IHSG masih mencatatkan tren positif meskipun volatilitas jangka pendek cukup tinggi. Keputusan FSTE ini dinilai pasar sebagai konfirmasi bahwa fundamental pasar modal Indonesia tetap solid di mata investor global. Status Secondary Emerging Market sendiri adalah klasifikasi yang diberikan kepada negara dengan tingkat likuiditas dan akses pasar yang berada di bawah pasar maju, namun masih di atas frontier market. Bagi investor institusi global, status ini menentukan bobot alokasi portofolio mereka di Indonesia.

Pro: Stabilitas Status Menjaga Aliran Modal

Di satu sisi, mempertahankan status tersebut berarti Indonesia terhindar dari risiko capital outflow besar-besaran yang biasanya menyertai penurunan klasifikasi. Sejumlah analis memperkirakan bahwa penurunan status dapat memicu keluarnya dana asing hingga USD 1-2 miliar dari pasar saham dan obligasi dalam jangka pendek.

"Keputusan ini menunjukkan bahwa mitigasi risiko dan perbaikan tata kelola pasar modal Indonesia diakui secara internasional," ujar seorang ekonom pasar modal.

Stabilitas status juga menjaga valuasi saham-saham blue chip tetap menarik, karena investor global cenderung mempertahankan eksposur pada negara dengan klasifikasi yang tidak berubah. Rasio price-to-earnings (PE) IHSG yang berada di kisaran 13-14 kali masih tergolong murah dibandingkan beberapa negara peers di kawasan ASEAN.

Kontra: Tantangan Fundamental Masih Membayangi

Di sisi lain, mempertahankan status bukan berarti tanpa tantangan. Beberapa indikator makro masih perlu diperhatikan, seperti defisit transaksi berjalan, volatilitas nilai tukar rupiah, dan ketergantungan pada sektor komoditas. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat juga dapat memengaruhi sentimen pasar ke depan.

Selain itu, keputusan FSTE ini tidak secara otomatis menjamin kenaikan aliran modal masuk. Investor tetap melihat faktor likuiditas harian, kedalaman pasar, dan konsistensi kebijakan. Tanpa perbaikan struktural, penguatan IHSG bisa bersifat sementara dan kembali terkoreksi jika sentimen global berubah.

Dengan demikian, penguatan IHSG kali ini lebih banyak didorong oleh sentimen jangka pendek, sementara fundamental jangka panjang masih memerlukan perhatian. Pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan domestik dan dinamika ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User