Trump Kaget Begitu Banyak Orang Hadiri Pemakaman Khamenei
Beritadua.com melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terkejut melihat jumlah besar pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Kham
Beritadua.com melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terkejut melihat jumlah besar pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh media kami pada Senin (6/7/2026), menunjukkan adanya kontradiksi antara persepsi Trump dan realitas di lapangan terkait popularitas mendiang pemimpin revolusi Islam tersebut.
“Saya terkejut. Saya pikir orang-orang membencinya,” ujar Trump, seperti dilansir laporan media kami. Kekagetan Trump ini lahir dari asumsi sebelumnya bahwa Khamenei sudah sangat tidak populer di kalangan rakyat Iran, mengingat berbagai kritik internasional dan ketegangan internal yang biasa diberitakan. Namun, lautan manusia yang membanjiri jalan-jalan Teheran selama upacara pemakaman justru menggambarkan hal sebaliknya.
“Mungkin itu air mata palsu,” tambah Trump, meragukan emosi para pelayat yang terlihat menangis selama prosesi. Komentar ini mengindikasikan skeptisisme mendalam Trump terhadap sentimen publik Iran yang dinilainya mungkin direkayasa atau dilebih-lebihkan oleh rezim setempat.
Di luar fokus pada pemakaman, Trump juga mengklaim bahwa Iran sedang sangat bersemangat untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat. “Mereka memohon untuk membuat kesepakatan,” katanya dengan nada percaya diri. Pernyataan ini mencuat di tengah hubungan bilateral yang masih diwarnai ketegangan, meskipun ada isyarat-isyarat diplomatik yang berlangsung diam-diam.
Menurut Trump, kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan untuk menunda semua pembicaraan resmi hingga prosesi pemakaman Khamenei selesai sepenuhnya. Ini dianggap sebagai langkah menghormati masa berkabung nasional di Iran, meskipun pengamat menilai penundaan ini lebih bersifat praktis untuk menghindari distraksi politik selama momen sensitif tersebut.
Pemakaman Khamenei sendiri menjadi salah satu peristiwa dengan mobilisasi massa terbesar dalam sejarah Iran modern, mengingat kembali momen serupa saat wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Ribuan pelayat turun ke jalan, meneriakkan slogan-slogan kesetiaan, dan memperlihatkan duka mendalam. Adegan ini seakan menantang narasi yang selama ini dibangun oleh pihak-pihak yang meragukan dukungan rakyat terhadap sistem teokrasi Iran.
Reaksi Trump yang mencampur adukkan antara keterkejutan, kecurigaan, dan klaim politik ini menciptakan spekulasi baru tentang arah kebijakan AS terhadap Iran pasca-Khamenei. Beberapa analis menduga bahwa pernyataan “memohon untuk membuat kesepakatan” adalah bagian dari strategi retorika Trump untuk membingkai Iran sebagai pihak yang lemah dan butuh, sekaligus menunjukkan posisi tawarnya yang kuat. Namun, di lapangan, prosesi yang monumental itu justru bisa dibaca sebagai pesan persatuan dan resistensi yang mungkin membuat setiap negosiasi menjadi lebih rumit dari yang dibayangkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Iran terkait komentar Trump ini. Akan tetapi, sumber-sumber diplomatik yang dihubungi media kami mengisyaratkan bahwa Iran tetap terbuka pada dialog, namun tidak dalam posisi memohon. Agenda dan timing yang disepakati pasca-pemakaman akan menjadi penentu sejauh mana hubungan kedua negara bisa bergeser dari konfrontasi menuju diplomasi.
Comments (0)