Trump Dongkol Dibilang Putus Asa oleh Mojtaba Khamenei, Balas Bilang Begini

Washington, Beritadua.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka membalas pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang sebelumnya menyebut bahwa upaya diplomasi Washin

Jul 08, 2026 - 00:18
0 0
Trump Dongkol Dibilang Putus Asa oleh Mojtaba Khamenei, Balas Bilang Begini

Washington, Beritadua.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka membalas pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang sebelumnya menyebut bahwa upaya diplomasi Washington didorong oleh rasa putus asa. Melalui akun media sosialnya, Trump menegaskan bahwa justru Teheran-lah yang berada dalam posisi terdesak, bukan negaranya. Pernyataan tersebut langsung memanaskan kembali ketegangan antara kedua negara yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Perang retorika ini bermula setelah Khamenei melontarkan kritik pedas terhadap proposal kesepakatan damai yang diinisiasi oleh Amerika Serikat. Menurut pemimpin Iran itu, tawaran yang diajukan Trump tidak lebih dari cerminan kepanikan Washington akibat kian terisolasinya posisi mereka di panggung internasional. Namun, Trump dengan cepat membantah narasi tersebut dan membalikkan tuduhan itu ke pihak lawan.

“Iran yang Putus Asa”

Dalam unggahannya di Truth Social yang dipantau Beritadua.com pada Jumat (19/6/2026), Trump menuliskan kalimat balasan yang bernada sinis. Ia menegaskan bahwa dialog yang sempat dijajaki sama sekali bukan karena Amerika Serikat kehilangan arah atau strategi.

“Kami tidak bertemu karena putus asa, Iran-lah yang begitu.”

Unggahan tersebut disertai dengan sejumlah poin yang memperlihatkan tekanan ekonomi dan politik yang sedang dihadapi oleh rezim Teheran. Trump menyinggung bahwa Iran kini terpojok oleh sanksi-sanksi baru yang lebih ketat serta isolasi diplomatik yang kian menguat di kawasan Timur Tengah. Baginya, klaim Khamenei hanyalah siasat untuk menutupi krisis internal yang kian dalam.

Sumber-sumber di Gedung Putih, sebagaimana digali oleh Beritadua.com, menyebutkan bahwa Trump sebenarnya tengah menghadapi dilema ganda. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan bahwa kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran membuahkan hasil dengan adanya minat untuk berunding. Di sisi lain, ia harus meredakan suara sumbang dari kalangan Partai Republik dan para analis keamanan dalam negeri yang menilai draf kesepakatan itu terlalu lunak dan tidak memuat jaminan penghentian total program pengayaan uranium Iran. Kelompok garis keras di Washington khawatir bahwa Teheran hanya memanfaatkan pembicaraan untuk mengulur waktu dan mengikis tekanan internasional tanpa niat sungguh-sungguh membongkar infrastruktur nuklirnya.

Sementara itu, dari Teheran, belum ada respons resmi lanjutan setelah balasan pedas Trump tersebut. Namun, kantor-kantor berita di kawasan melaporkan bahwa kalangan elite militer Iran menyambut pernyataan Khamenei dengan dukungan penuh, sembari menegaskan bahwa setiap perundingan hanya bisa dilakukan dalam posisi yang setara dan tanpa paksaan. Kondisi ini menambah ketidakpastian tentang masa depan perundingan yang sudah berkali-kali menemui jalan buntu.

Ketegangan ini terjadi di tengah laporan bahwa stok uranium yang diperkaya Iran terus meningkat mendekati level senjata, sementara pengawasan internasional terhadap fasilitas nuklir negara itu semakin longgar. Bagi Trump, kesepakatan damai dengan Iran bisa menjadi warisan kebijakan luar negeri yang signifikan, namun label “putus asa” dari pemimpin tertinggi Iran jelas memantik kemarahan yang sulit ia bendung. Hingga berita ini diturunkan, ketidakjelasan masih menyelimuti apakah saling serang di ranah publik ini akan semakin menjauhkan prospek dialog atau justru menjadi awal dari fase advokasi yang lebih keras dari kedua pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Editor Politik. Editor dinamika politik dan kekuasaan.

Comments (0)

User