Tim Dosen UPGRIS Edukasi Teknologi Pengolahan Rumput Laut Kendal

Kendal — Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi kembali diwujudkan oleh tim dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui program Pengabdian kepada Ma

Jul 09, 2026 - 12:31
0 0

Kendal — Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi kembali diwujudkan oleh tim dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Mororejo melalui Teknologi Pengolahan Rumput Laut”, kegiatan ini berfokus pada alih teknologi tepat guna sebagai upaya mengangkat nilai ekonomi komoditas lokal yang selama ini belum tergarap maksimal.

Tim pelaksana dipimpin langsung oleh Agus Mukhtar, S.Pd., M.T., serta beranggotakan Dr. Ir. Ibnu Toto Husodo, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng. dan Hisyam Ma’mun, S.T., M.T. Ketiganya menggandeng pemerintah desa, kelompok usaha masyarakat, dan pelaku UMKM setempat untuk merancang ekosistem pengolahan rumput laut yang modern, higienis, serta berorientasi pasar.

Potensi Lokal dan Teknologi Tepat Guna

Desa Mororejo sesungguhnya memiliki keunggulan komparatif berupa ketersediaan rumput laut yang melimpah. Namun observasi awal tim menunjukkan bahwa pemanfaatan komoditas ini masih terhenti pada penjualan bahan mentah dengan harga rendah. Problem struktural ini kemudian menjadi titik masuk bagi tim UPGRIS untuk mengenalkan teknologi tepat guna yang aplikatif.

“Tujuan utama kami adalah membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal berbasis teknologi. Dengan adanya inovasi dalam proses pengolahan, warga tidak lagi sekadar menjual rumput laut mentah, melainkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi sehingga kesejahteraan keluarga dapat meningkat,” jelas Agus Mukhtar.

Rangkaian intervensi yang dilakukan mencakup pelatihan teknis menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik pencucian, pengeringan yang memenuhi standar keamanan pangan, hingga pengolahan menjadi produk pangan dan turunan lainnya. Aspek hilirisasi juga disentuh melalui edukasi teknik pengemasan modern serta pengenalan manajemen usaha dan strategi pemasaran untuk pasar lokal maupun regional.

Sorotan Keberhasilan dan Risiko Keberlanjutan

Pro: Penerapan teknologi pengolahan secara langsung berdampak pada peningkatan kualitas dan daya saing produk. Dr. Ibnu Toto Husodo menekankan bahwa teknologi tepat guna dapat memperpanjang masa simpan, menghasilkan produk lebih higienis, serta menyelaraskan output dengan kebutuhan pasar. Bila berhasil, model ini akan menciptakan sentra ekonomi baru berbasis rumput laut yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan asli desa.

Kontra: Di sisi lain, terdapat kekhawatiran mengenai kesinambungan program pascapendampingan. Hisyam Ma’mun mengakui bahwa faktor penentu utamanya bukan hanya pada adopsi teknologi, tetapi juga konsistensi pengelolaan usaha dan ketersediaan akses pasar yang stabil. Tanpa dukungan kelembagaan dan modal lanjutan, inisiatif ini rentan berhenti di tahap pelatihan. Ketergantungan pada peralatan yang memerlukan perawatan serta dinamika harga bahan baku di tingkat petani juga menjadi variabel risiko yang perlu diantisipasi.

“Keberhasilan program pemberdayaan ini sesungguhnya terletak pada kemampuan masyarakat mengelola usaha secara berkelanjutan. Teknologi hanyalah alat bantu; yang paling penting adalah perubahan pola pikir dan konsistensi dalam menjalankan usaha,” ujar Hisyam Ma’mun.

Perspektif Ganda dan Jalan Tengah

Program pemberdayaan semacam ini menawarkan cetak biru ideal bagi pengembangan ekonomi pedesaan berbasis komoditas unggulan. Investasi pengetahuan yang diberikan oleh perguruan tinggi menjadi katalisator penting bagi transformasi produk mentah menjadi barang jadi bernilai jual lebih tinggi. Namun efektivitas jangka panjangnya sangat bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung, termasuk kepastian pasar, ketersediaan modal kerja, dan keberlanjutan kelembagaan kelompok usaha.

Pemantauan berkala pasca-program serta kemitraan strategis dengan sektor swasta atau koperasi akan menjadi variabel kunci untuk mengonversi keberhasilan pelatihan menjadi kemandirian ekonomi yang terukur. Tanpa itu, antusiasme awal berpotensi surut di tengah tantangan operasional sehari-hari.

Dengan pendekatan yang terintegrasi antara akademisi, pemerintah desa, dan pelaku usaha, Desa Mororejo memiliki peluang untuk menjadi percontohan klaster industri rumput laut skala kecil-menengah. Keberhasilan atau kegagalannya kelak akan menjadi pembelajaran berharga bagi replikasi model serupa di wilayah pesisir lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User