Tentang Rudal BrahMos Hasil Kesepakatan RI-India, Bagaimana Spesifikasinya?
Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi mencapai kesepakatan strategis di bidang pertahanan, salah satunya mencakup kerja sama pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos. Ke
Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi mencapai kesepakatan strategis di bidang pertahanan, salah satunya mencakup kerja sama pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos. Kesepakatan ini menandai babak baru dalam modernisasi sistem pertahanan Indonesia, dengan menghadirkan salah satu rudal paling mematikan dan berteknologi tinggi di dunia.
Asal-Usul dan Filosofi Nama BrahMos
Rudal BrahMos merupakan hasil kolaborasi strategis antara India dan Rusia yang dikembangkan oleh BrahMos Aerospace, sebuah perusahaan patungan yang didirikan pada 1998. Nama "BrahMos" sendiri merupakan simbol persahabatan dua negara besar, diambil dari perpaduan nama dua sungai ikonik: Sungai Brahmaputra yang mengalir melintasi India, dan Sungai Moskva yang membelah kota Moskow di Rusia. Rudal ini lahir dari kebutuhan angkatan bersenjata India akan rudal jelajah yang mampu menembus pertahanan musuh dengan kecepatan dan presisi tinggi.
Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Tempur
Berdasarkan data yang dihimpun media kami, BrahMos dikenal sebagai rudal jelajah supersonik dua tahap. Tahap pertama menggunakan pendorong roket berbahan bakar padat yang membawanya mencapai kecepatan supersonik, kemudian tahap kedua ditenagai mesin ramjet berbahan bakar cair yang mempertahankan kecepatan jelajah di kisaran Mach 2,8 hingga Mach 3,0—atau hampir tiga kali lipat kecepatan suara. Kecepatan ini membuat BrahMos sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional, karena waktu reaksi yang diperlukan musuh menjadi sangat sempit.
Rudal ini memiliki jangkauan operasional yang cukup luas, awalnya sekitar 290 kilometer, namun peningkatan teknologi terkini memungkinkan varian terbarunya menjangkau target hingga 450 kilometer atau lebih, mengikuti regulasi Missile Technology Control Regime (MTCR) yang kini ditaati India sebagai anggota. BrahMos mampu membawa hulu ledak konvensional seberat 200 hingga 300 kilogram, menjadikannya efektif untuk menghancurkan instalasi strategis seperti pusat komando, landasan pacu, gudang amunisi, atau kapal permukaan.
Salah satu fitur unggulan BrahMos adalah kemampuannya bermanuver menjelang target. Tidak sekadar terbang lurus, rudal ini dapat melakukan manuver "S" atau "sea-skimming" saat mendekati sasaran di permukaan laut, di mana ia terbang hanya beberapa meter di atas air untuk menghindari deteksi radar. Ketika target di darat, profil terbangnya bisa mengikuti kontur medan, memanfaatkan teknologi pemandu inersia dan sistem navigasi satelit dual-band untuk akurasi tinggi hingga ketepatan satu digit meter.
Varian dan Relevansi bagi Indonesia
BrahMos tersedia dalam beberapa varian: peluncur darat bergerak, peluncur dari kapal perang, dan versi serangan udara yang dapat dibawa oleh pesawat tempur seperti Sukhoi Su-30MKI. Untuk Indonesia, ketertarikan terhadap rudal ini terutama pada varian pesisir atau kapal, guna memperkuat pertahanan maritim di tengah dinamika geopolitik regional. Dengan kecepatan dan daya hancurnya, BrahMos akan menjadi aset deterens yang signifikan bagi TNI AL maupun TNI AU di masa depan.
Kesepakatan ini juga mencakup potensi alih teknologi dan pengembangan sumber daya manusia di sektor pertahanan, sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun kemandirian industri strategis nasional. Proses negosiasi lebih lanjut akan menentukan model kerja sama yang tepat, apakah berupa pembelian langsung, produksi lisensi, atau proyek pengembangan bersama. Demikian laporan Beritadua.com dari Jakarta.
Comments (0)