Sampit Dilanda Kabut Asap Akibat Kebakaran Lahan 3 Hektare Dekat Bandara
Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali berhadapan dengan ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebuah kebakaran lahan selu
Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali berhadapan dengan ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebuah kebakaran lahan seluas 3 hektare di kawasan Lingkar Utara, Sampit, tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga menyelimuti kota dengan kabut asap pekat yang mengganggu jarak pandang. Titik api yang muncul sejak Senin sore itu berada dalam radius yang cukup dekat dengan Bandara Haji Asan, memicu kekhawatiran akan keselamatan penerbangan dan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah perkotaan.
Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, setidaknya 3 hektare lahan gambut dan semak belukar sudah hangus terbakar. Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, BPBD, TNI, dan relawan masyarakat bahu-membahu melakukan pemadaman. Namun, upaya tersebut terhambat oleh karakteristik lahan gambut yang mudah menyimpan bara di bawah permukaan serta hembusan angin yang menyebarkan api ke titik-titik baru. Koordinator Lapangan BPBD Kalteng, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa "pemadaman total di lahan gambut bisa memakan waktu dua hingga tiga kali lebih lama dibandingkan lahan mineral, terutama saat musim kemarau seperti ini."
Dampak terhadap Transportasi Udara: Antara Keamanan dan Keekonomian
Bandara Haji Asan, yang merupakan pintu gerbang udara utama bagi Sampit, mulai merasakan dampak langsung dari kabut asap. Data operasional bandara mencatat penurunan jarak pandang hingga di bawah 1.500 meter pada pagi dan malam hari, angka yang mendekati batas minimum visual flight rules (VFR) untuk penerbangan komersial berbadan kecil. Meskipun belum ada pembatalan penerbangan resmi, keterlambatan (delay) mulai dilaporkan karena pilot harus menerapkan prosedur pendaratan berintensitas tinggi. Maskapai penerbangan dihadapkan pada dilema klasik: melanjutkan penerbangan dengan risiko keamanan lebih tinggi atau membatalkan dan menanggung beban kompensasi penumpang serta biaya operasional.
Otoritas Bandara Haji Asan, melalui pernyataan tertulisnya, memastikan masih memantau kondisi secara real-time dan akan mengikuti protokol dari AirNav Indonesia jika visibility terus memburuk. Sementara itu, kalangan pelaku usaha logistik menyampaikan keresahan mereka. "Setiap jam keterlambatan kargo menggerus margin keuntungan kami. Sampit masih sangat bergantung pada konektivitas udara untuk pasokan barang bernilai tinggi," ujar Ahmad Fauzi, perwakilan asosiasi pengusaha jasa titipan di Sampit.
| Indikator | Kondisi Normal | Kondisi Saat Kebakaran |
|---|---|---|
| Jarak pandang bandara (meter) | 3.000–5.000 | 800–1.500 |
| Jumlah penerbangan per hari | 6–8 | 4–6 (dengan delay) |
| Luas lahan terbakar (hektare) | 0 | 3+ |
| Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) | 0–50 (Baik) | 150–200 (Tidak Sehat) |
| Jumlah personel pemadam | Siaga (5–10) | 40+ (gabungan) |
Paradoks Pembangunan dan Ekologi: Mencari Titik Temu
Kebakaran di Lingkar Utara Sampit ini membuka kembali luka lama tentang tata kelola lahan di Kalimantan Tengah. Banyak pihak menuding praktik pembukaan lahan dengan cara membakar sebagai penyebab utama, meskipun pembakaran dengan dalih pembersihan lahan pertanian skala kecil sudah dilarang keras oleh regulasi daerah. Di sisi lain, petani kecil yang tergabung dalam serikat tani lokal mengklaim bahwa metode tebas-bakar adalah bagian dari kearifan lokal yang sudah dilakukan turun-temurun. Mereka berargumen bahwa tanpa alternatif mekanisasi yang terjangkau, praktik tersebut hampir mustahil dihilangkan dalam waktu singkat.
Pemerintah daerah saat ini terjepit di antara dua kepentingan: menindak tegas pelaku pembakaran dengan ancaman pidana lingkungan atau memberikan solusi ekonomi produktif yang bisa mengalihkan petani dari metode bakar. Sejumlah LSM lingkungan merekomendasikan program pertanian tanpa bakar (PBB) dengan insentif bantuan alat berat dan pupuk. Namun, sejauh ini realisasinya masih terkendala oleh terbatasnya anggaran daerah dan kompleksitas kepemilikan lahan.
Di tengah polemik itu, sektor kesehatan masyarakat sudah mulai menjadi korban. Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur melaporkan peningkatan kunjungan pasien dengan gejala ISPA hingga 27 persen dalam tiga hari terakhir. Petugas medis di Puskesmas Ketapang, Sampit, membenarkan tren ini dan menyatakan bahwa kelompok paling rentan adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun dan lansia. Pemerintah daerah kini menyiapkan rumah singgah ber-AC untuk warga yang ingin mengungsi sementara dari paparan asap.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya keseimbangan antara mobilitas manusia, aktivitas ekonomi, dan daya dukung lingkungan di kawasan rawan karhutla sepanjang tahun.
Pro: Kebakaran mendorong kolaborasi multipihak (TNI, BPBD, Manggala Agni, relawan) dalam respons cepat; peningkatan kesadaran publik akan bahaya karhutla; kesempatan bagi pemerintah daerah untuk merevisi kebijakan tata kelola lahan dengan lebih ketat dan memberi alternatif ekonomi bagi petani.
Kontra: Gangguan nyata pada sektor penerbangan dan logistik yang memukul ekonomi lokal; lonjakan kasus ISPA di masyarakat; risiko perluasan kebakaran ke area yang lebih luas; terungkapnya kelemahan struktural dalam pencegahan, terutama pada lahan gambut yang sulit dipadamkan.
Comments (0)