Pramono Mau Hidupkan TIM, Singgung Antrean Pengunjung di Planetarium
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk mengembalikan kejayaan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kebudayaan dan rumah bagi para seniman. Dalam acara peringatan 100 tahu
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk mengembalikan kejayaan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kebudayaan dan rumah bagi para seniman. Dalam acara peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin di TIM, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026), Pramono menyebut bahwa warisan terpenting sang legenda bukan semata infrastruktur megah, melainkan perhatiannya yang mendalam pada dunia seni dan budaya.
"Bagi saya pribadi sebenarnya bukan hanya hal yang bersifat fisik, tetapi karya paling utama beliau adalah bagaimana yang berkaitan dengan budaya, seni, yang salah satunya adalah di tempat ini," ujar Pramono di hadapan para seniman dan tamu undangan.
"Bagi saya pribadi sebenarnya bukan hanya hal yang bersifat fisik, tetapi karya paling utama beliau adalah bagaimana yang berkaitan dengan budaya, seni, yang salah satunya adalah di tempat ini."
Pramono menambahkan, visi Ali Sadikin dalam membangun TIM sebagai ruang ekspresi kreatif harus terus dihidupkan. Ia ingin memastikan bahwa kompleks seni yang telah menjadi ikon Jakarta sejak 1968 itu kembali menjadi magnet bagi aktivitas kesenian, bukan sekadar gedung kosong yang kehilangan rohnya. Selain Ancol dan Ragunan yang kerap disebut sebagai bukti pembangunan fisik masa Ali Sadikin, Pramono menekankan bahwa TIM adalah monumen kebudayaan yang tak kalah penting.
Di tengah pidatonya, Pramono juga menyinggung fenomena yang kini terjadi di Planetarium Jakarta, salah satu fasilitas di dalam kawasan TIM. Ia menyoroti bahwa antrean pengunjung Planetarium tidak lagi sepanjang yang pernah terlihat di masa keemasannya. Menurutnya, menurunnya minat publik terhadap wahana edukasi sains itu menjadi sinyal perlunya gerakan serius untuk menarik kembali masyarakat, terutama generasi muda, agar menjadikan TIM sebagai destinasi belajar dan berekspresi.
"Dulu, antrean di Planetarium bisa mengular. Itu menunjukkan betapa besarnya rasa ingin tahu dan kecintaan warga Jakarta terhadap ilmu pengetahuan dan seni. Kita harus mengembalikan gairah itu," imbuhnya, sembari menegaskan bahwa revitalisasi fungsi TIM akan menjadi salah satu prioritas pemerintahannya.
Sejumlah seniman yang hadir menyambut baik pernyataan Pramono. Mereka berharap agar rencana tersebut tidak berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam kebijakan konkret seperti penyediaan ruang pameran yang lebih inklusif, pendanaan bagi komunitas kreatif, serta perawatan fasilitas yang kini mulai termakan usia. TIM, yang di dalamnya juga terdapat Graha Bhakti Budaya, Galeri Cipta, dan Institut Kesenian Jakarta, dinilai memerlukan sentuhan modern tanpa menghilangkan karakter historisnya.
Pramono mengaku akan segera berkoordinasi dengan jajaran Dinas Kebudayaan dan pengelola TIM untuk merancang peta jalan revitalisasi. Ia membayangkan TIM kelak tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga laboratorium budaya yang hidup sepanjang hari, dengan program-program yang melibatkan pelajar, mahasiswa, hingga komunitas lokal. Dengan semangat 100 tahun Ali Sadikin, Pramono ingin memastikan bahwa jejak kebudayaan yang dirintis sang pendahulu terus menginspirasi dan memberikan manfaat nyata bagi warga Jakarta.
Laporan ini dikutip dari Beritadua.com.
Comments (0)