Pesan Haru Komunitas Ojol Lepas Irjen Agus sebagai Kakorlantas Polri
Suasana haru menyelimuti perpisahan jabatan yang diemban oleh Irjen Pol Agus Suryonugroho sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri. Bagi sebagian besar masyarakat, khususnya komunitas pen
Suasana haru menyelimuti perpisahan jabatan yang diemban oleh Irjen Pol Agus Suryonugroho sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri. Bagi sebagian besar masyarakat, khususnya komunitas pengemudi ojek online (ojol), kepergian Irjen Agus bukan sekadar seremonial mutasi jabatan. Lebih dari itu, mereka merasa kehilangan figur seorang pemimpin yang telah melampaui batas-batas formal institusi, menjelma menjadi seorang bapak pengayom yang merangkul seluruh elemen jalan raya.
Kehilangan Seorang Idola di Jalanan
Rasa kehilangan itu diungkapkan secara mendalam oleh Erna, perwakilan dari Keluarga Besar URC Bergerak dan Ojol Nusantara Provinsi DKI Jakarta. Dalam pernyataannya yang penuh emosi, Erna menyampaikan betapa terkejutnya komunitas pengemudi ojol ketika mendengar kabar bahwa Irjen Agus mengakhiri masa baktinya di Korps Lalu Lintas. Bagi mereka, sosok jenderal bintang dua itu bukan hanya penegak hukum, melainkan sosok sentral yang memberikan ketenangan di tengah kerasnya aspal ibu kota.
Erna menuturkan bahwa ikatan yang baru saja mulai dirangkai oleh komunitas ojol dengan sang jenderal kini seolah terputus oleh roda tugas dan waktu. Komunikasi dan perhatian yang selama ini dibangun terasa begitu cepat berlalu. Ungkapan haru itu menggambarkan secara gamblang bagaimana positioning Irjen Agus di mata para pekerja informal yang kesehariannya bergelut dengan lalu lintas. Di tengah stigma dan beban hidup, kehadiran pemimpin yang mendengar curhatan mereka adalah sebuah anugerah yang langka.
Lebih dari Sekadar Penegak Aturan
"Waktu yang baru kita rangkai akan terputus oleh waktu dan tugas. Sebagai pemimpin, Bapak adalah sosok idola kami, sosok kebanggaan kami, sosok panutan kami yang bisa menjadi sahabat buat kami," ujar Erna, mengutip perasaan mayoritas rekan-rekan pengemudi ojol saat dihubungi, Minggu (5/7/2026).
Pernyataan tersebut menjadi cerminan dari gaya kepemimpinan Irjen Agus yang humanis selama menjabat sebagai Kakorlantas. Di mata para pengemudi ojol, seragam polisi yang dikenakannya tidak menciptakan jarak. Sebaliknya, Irjen Agus dinilai sebagai pemimpin yang bersedia turun langsung menjadi sahabat, mendengarkan keluh kesah mereka soal kebijakan aplikator, ketidakadilan di jalan, hingga persoalan ekonomi rumah tangga.
Pendekatan persuasif yang dilakukan oleh Irjen Agus selama masa jabatannya meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Ia berhasil membangun paradigma baru bahwa aparat kepolisian tidak hanya hadir untuk menilang atau menegur, tetapi juga untuk melindungi dan mengayomi dengan sepenuh hati. Hubungan paternalistik yang terjalin ini jarang terjadi antara institusi penegak hukum dan komunitas jalanan, sehingga wajar jika rotasi jabatan kali ini menimbulkan isak tangis dan rasa kehilangan yang begitu besar di hati para pengemudi ojol.
Comments (0)