Sep 29, 2026
Nasional

Perempuan Bermental Kuat Jadi Kunci Ketahanan Keluarga Indonesia

Isu kesehatan mental bukan lagi sekadar wacana pinggiran. Di tengah tekanan ekonomi, dinamika sosial, dan beban domestik yang tak seimbang, mental yang kua

Perempuan Bermental Kuat Jadi Kunci Ketahanan Keluarga Indonesia

Isu kesehatan mental bukan lagi sekadar wacana pinggiran. Di tengah tekanan ekonomi, dinamika sosial, dan beban domestik yang tak seimbang, mental yang kuat menjadi prasyarat mutlak bagi setiap individu untuk bertahan dan beradaptasi. Namun, satu kelompok yang paling sering diuji ketangguhannya justru jarang mendapat sorotan: perempuan.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat prevalensi gangguan depresi pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 6,1 persen atau setara lebih dari 11 juta jiwa. Dari angka itu, perempuan disebut memiliki risiko dua kali lebih tinggi dibanding laki-laki untuk mengalami kecemasan dan depresi. Ini bukan statistik yang bisa diabaikan.

Beban Ganda yang Menumpuk di Pundak Perempuan

Fenomena beban ganda alias double burden membuat perempuan dituntut tampil sempurna di dua ranah sekaligus: sebagai pekerja di ruang publik dan pengelola rumah tangga di ranah domestik. Survei Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata perempuan Indonesia menghabiskan 4,5 jam per hari untuk pekerjaan rumah tangga tak berbayar, sementara laki-laki hanya 1,6 jam. Ketimpangan ini menjadi sumber stres kronis yang sering dinormalisasi.

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ayu Puspitasari, menilai ketangguhan mental perempuan kerap disalahartikan sebagai kemampuan menahan diri tanpa keluhan.

"Mental kuat itu bukan berarti perempuan harus diam dan menanggung semuanya sendiri. Mental kuat adalah kemampuan mengenali batas diri, mencari bantuan, dan bangkit setelah tekanan. Sayangnya, konstruksi sosial kita masih mengajarkan perempuan untuk tidak mengeluh," ujarnya.

Pandangan itu diperkuat temuan riset Lembaga Demografi yang menyebut hanya 1 dari 5 perempuan yang mengalami tekanan psikologis berat benar-benar mencari bantuan profesional. Stigma, keterbatasan biaya, dan rasa malu menjadi penghalang utama.

Ketangguhan Mental dan Daya Tahan Ekonomi Keluarga

Ketangguhan mental perempuan bukan sekadar urusan personal. Dampaknya sistemik. Ketika seorang ibu berperan sebagai penopang ekonomi utama keluarga—fenomena yang lazim pascapandemi—kestabilan emosinya langsung memengaruhi kesejahteraan anak-anak.

Berikut gambaran perbandingan yang merangkum kondisi di lapangan:

IndikatorPerempuanLaki-laki
Risiko depresi (usia 15+)2x lebih tinggiLebih rendah
Jam kerja rumah tangga/hari4,5 jam1,6 jam
Mencari bantuan psikolog20 persen30 persen

Angka-angka ini tidak muncul di ruang kosong. Struktur sosial yang menempatkan perempuan pada posisi pelindung keluarga menjadikan mereka benteng pertama sekaligus korban pertama dari krisis yang melanda.

Jalan Menuju Kesehatan Mental yang Setara

Penguatan mental perempuan perlu didorong lewat tiga jalur utama. Pertama, literasi kesehatan mental sejak dini di sekolah dan lingkungan kerja. Kedua, pembagian peran domestik yang lebih adil antara pasangan. Ketiga, akses layanan konseling yang terjangkau hingga ke tingkat desa.

Pemerintah sendiri telah memasukkan layanan kesehatan jiwa dalam program Puskesmas, namun jangkauannya dinilai belum merata. Kesenjangan antara kebijakan di atas kertas dan realitas di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Mental yang kuat, pada akhirnya, bukan bakat bawaan. Ia dibentuk oleh lingkungan yang mendukung, dukungan sosial yang nyata, dan keberanian untuk mengakui kerentanan. Perempuan Indonesia layak mendapat ketiganya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User