Gonjang-ganjing politik Jakarta kembali tersentuh nuansa duka. Kabar berpulangnya Guruh Soekarnoputra, adik kandung Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, membawa gelombang simpati dari berbagai kalangan. Rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mendadak menjadi pusat perhatian pada Sabtu (26/9/2026). Sejumlah tokoh nasional, pejabat daerah, hingga kolega seniman datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir.
Rano Karno Tiba Lebih Dulu, Simbol Jakarta Berduka
Salah satu yang lebih dulu hadir adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. Pria yang akrab disapa Bang Doel itu tiba dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang, didampingi sejumlah staf protokol. Kehadirannya bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan wujud kedekatan emosional dengan keluarga besar Soekarno. Rano dikenal sebagai salah satu seniman yang tumbuh besar dalam lingkar budaya yang sama dengan Guruh.
"Kita kehilangan sosok yang luar biasa. Beliau bukan hanya politisi, tapi juga seniman, budayawan, dan penjaga api perjuangan Bung Karno. Jakarta turut berduka," ujar Rano Karno saat ditemui awak media di lokasi.
Pantauan di lokasi, tenda duka telah berdiri sejak pagi. Karangan bunga dari berbagai institusi negara, partai politik, hingga komunitas seni memadati halaman rumah. Sejumlah tokoh lain yang tampak hadir antara lain perwakilan DPP PDI Perjuangan, mantan menteri era Reformasi, serta sejumlah aktivis kebudayaan yang pernah bekerja sama dengan Guruh di dunia tari dan musik.
Guruh Soekarnoputra: Antara Politik dan Seni yang Tak Terpisahkan
Guruh dikenal sebagai figur multidimensi. Ia pernah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat sejak era 1990-an hingga beberapa periode berikutnya. Namun, namanya lebih lekat sebagai pencipta lagu, koreografer, dan pendiri kelompok seni yang kerap membawakan karya berakar pada budaya Nusantara. Salah satu karya monumentalnya, pertunjukan sendratari yang menggabungkan puisi, musik, dan gerak, menjadi bukti bahwa politik dan seni bisa berjalan seiring.
- Kiprah politik: Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan selama beberapa periode, fokus pada isu kebudayaan dan pendidikan.
- Jejak seni: Pencipta lagu, koreografer, dan pendiri kelompok seni yang aktif sejak 1980-an.
- Warisan ideologis: Anak Bung Karno yang setia menjaga narasi Marhaenisme dan Trisakti.
Anggota keluarga yang menerima tamu menyebut, almarhum sempat berpesan agar prosesi pemakaman dilakukan secara sederhana. Meski demikian, antusiasme publik untuk melayat tidak terbendung. Beberapa warga bahkan datang dari luar kota hanya untuk melihat prosesi dan menaburkan doa dari luar pagar rumah.
"Beliau itu sederhana, tapi gagasannya besar. Saya datang bukan karena siapa dia, tapi karena apa yang sudah dia lakukan untuk Indonesia," kata seorang pelayat, Yuni Astuti (54), warga Bekasi.
Ucapan Duka Mengalir, Agenda Politik Ditunda
Sejumlah agenda politik nasional disebut akan ditunda atau disesuaikan untuk menghormati masa berkabung. Partai berlambang banteng moncong putih menginstruksikan seluruh kader di daerah untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari. Sementara itu, kalangan seniman berencana menggelar malam renungan di Taman Ismail Marzuki dalam waktu dekat.
Duka ini bukan hanya milik keluarga Soekarno. Ia menyentuh mereka yang percaya bahwa seni dan politik dapat menjadi alat pembebasan. Kepergian Guruh meninggalkan pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan kerja kebudayaan yang selama ini ia rawat tanpa banyak bicara? Jakarta, dan Indonesia, kini menunggu jawabannya.
Comments (0)