Oct 13, 2026
Bisnis

Pemerintah Kejar Defisit APBN 2,85 Persen di Akhir Tahun

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir tahun anggaran, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan menyentuh 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka in...

Pemerintah Kejar Defisit APBN 2,85 Persen di Akhir Tahun

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir tahun anggaran, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan menyentuh 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menjadi kompas penting bagi arah kebijakan fiskal kuartal IV, sekaligus menggambarkan tensi antara kebutuhan belanja negara dan realisasi penerimaan yang belum sepenuhnya pulih.

Defisit sendiri, dalam bahasa sederhana, adalah selisih antara pengeluaran dan pendapatan negara. Ketika belanja lebih besar dari pemasukan, pemerintah harus menutup celah itu, umumnya melalui penerbitan surat utang atau penarikan pinjaman. Rasio 2,85 persen masih berada di bawah batas legal 3 persen PDB, namun ruang fiskal yang tersisa kian tipis menjelang penutupan tahun buku.

Dinamika Penerimaan dan Belanja Negara

Di satu sisi, penerimaan perpajakan menunjukkan tren yang relatif terjaga. Penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) badan dilaporkan mengalami kenaikan year-on-year, ditopang konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh di kisaran 5 persen. Pemerintah juga mengandalkan setoran dari sektor komoditas serta program pengampunan pajak jilid dua yang diharapkan menambah likuiditas kas negara.

Di sisi lain, tekanan datang dari sisi belanja. Subsidi energi, termasuk bahan bakar minyak dan listrik, membengkak seiring fluktuasi harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Ditambah lagi, belanja bantuan sosial menjelang akhir tahun biasanya meningkat untuk menjaga daya beli masyarakat. Kombinasi ini membuat ruang manuver pemerintah untuk menambal defisit semakin sempit.

"Defisit 2,85 persen masih dalam koridor aman, tetapi pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal agar sentimen pasar tetap positif," ujar sejumlah ekonom dalam diskusi terbatas di Jakarta.

Pro dan Kontra Kebijakan Tambal Defisit

Pro: Menjaga defisit di bawah 3 persen PDB menunjukkan disiplin fiskal yang dihargai pasar. Rasio utang terhadap PDB yang saat ini berada di kisaran 39 persen masih tergolong moderat dibanding negara tetangga. Dengan begitu, biaya pinjaman atau yield surat utang negara bisa ditekan, sehingga beban bunga APBN tidak melonjak. Pemerintah juga punya ruang untuk mendorong belanja produktif seperti infrastruktur dan pendidikan yang berdampak jangka panjang.

Kontra: Menambal defisit di akhir tahun rentan dilakukan dengan cara yang kurang ideal, misalnya menunda pembayaran ke vendor atau mempercepat penerbitan utang. Langkah ini bisa mengganggu arus kas dunia usaha dan menambah tekanan pada likuiditas perbankan. Selain itu, mengandalkan penerimaan jangka pendek seperti setoran pajak di akhir tahun berisiko menciptakan volatilitas penerimaan di tahun berikutnya. Bila capital outflow akibat kebijakan moneter global membesar, pemerintah harus membayar bunga lebih tinggi, yang pada akhirnya membebani anggaran.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Ke depan, proyeksi defisit ini akan sangat bergantung pada realisasi penerimaan negara di kuartal IV dan disiplin belanja kementerian/lembaga. Bila target penerimaan tidak tercapai, pemerintah memiliki beberapa opsi: memangkas belanja non-prioritas, menggenjot penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), atau memanfaatkan sisa anggaran lebih (SAL). Setiap opsi punya konsekuensi berbeda terhadap fundamental ekonomi dan persepsi investor.

Dari sisi pasar, pelaku obligasi akan mencermati arah lelang SBN dan kepemilikan asing. Penurunan kepemilikan asing di SBN bisa menjadi sinyal capital outflow yang perlu diwaspadai, karena berdampak pada pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil. Namun, selama defisit terjaga dan komunikasi kebijakan konsisten, valuasi aset domestik masih berpotensi stabil.

Kesimpulannya, angka 2,85 persen bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan pilihan sulit antara menjaga daya beli, membiayai pembangunan, dan merawat kepercayaan pasar. Tanpa pengelolaan portofolio utang yang hati-hati serta perbaikan struktural di sisi penerimaan, ruang fiskal akan terus menyempit dan ketergantungan pada utang kian menguat. Publik pun berhak mencermati apakah tambalan akhir tahun ini benar-benar solutif atau hanya menunda persoalan ke tahun berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User