Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemantauan Badan Pangan Nasional per Oktober 2026, pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan pangan strategis menyusul menguatnya indikasi fenomena iklim El Nino. Tiga komoditas yang berada di radar utama adalah cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam. Ketiganya merupakan penyumbang inflasi pangan bergejolak (volatile food) yang secara historis paling sensitif terhadap perubahan cuaca ekstrem.
El Nino sendiri adalah anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menghangat di atas rata-rata, memicu penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Bagi pembaca awam, sederhananya: musim kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Implikasinya pada sektor pertanian dan peternakan tidak bisa dianggap enteng.
Mengapa Cabai Menjadi Titik Rawan Pertama
Cabai merupakan tanaman hortikultura yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Penurunan curah hujan berdampak langsung pada penurunan produktivitas, terutama di sentra produksi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat. Berdasarkan proyeksi Kementerian Pertanian, penurunan produksi cabai rawit berpotensi mencapai 10–15 persen pada musim tanam berikutnya bila defisit air berlanjut hingga kuartal pertama 2027.
Secara year-on-year, harga cabai merah nasional sempat melonjak hingga 60 persen pada periode El Nino 2023–2024. Lonjakan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa komoditas ini memiliki elastisitas pasokan yang rendah dalam jangka pendek. Di sisi lain, permintaan rumah tangga dan industri kuliner cenderung kaku (inelastic), sehingga sedikit saja gangguan pasokan langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga di tingkat konsumen.
"Komoditas hortikultura seperti cabai tidak memiliki mekanisme penyangga yang kuat. Begitu pasokan terganggu, sentimen pasar bergerak lebih cepat daripada realokasi pasokan itu sendiri," ujar seorang ekonom pertanian dari lembaga riset independen.
Daging Ayam dan Rantai Pakan yang Tertekan
Di sisi lain, daging ayam menghadapi tekanan yang lebih berlapis. Gangguan bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada rantai pakan. Jagung dan kedelai sebagai bahan baku pakan juga rentan terhadap kekeringan. Bila harga pakan mengalami kenaikan, biaya produksi peternak meningkat, dan pada akhirnya harga di tingkat konsumen ikut terdorong naik.
Data historis menunjukkan bahwa pada periode El Nino 2015–2016, harga daging ayam ras di beberapa pasar induk mengalami kenaikan 8–12 persen dalam kurun tiga bulan. Tahun ini, faktor pembandingnya berbeda karena biaya logistik dan energi juga lebih tinggi. Artinya, tekanan terhadap harga bisa lebih kompleks.
Dari sisi fundamental, produksi ayam ras nasional masih tumbuh, namun pertumbuhannya melambat. Rasio ketersediaan terhadap kebutuhan yang biasanya di atas 1,1 berpotensi menyempit bila heat stress menurunkan bobot panen dan angka harian produksi (Hen Day Production).
Dua Sisi yang Harus Dibaca Seimbang
Pro: pemerintah telah memiliki instrumen mitigasi seperti operasi pasar, gerakan tanam cabai di lahan pekarangan, serta intervensi pakan bersubsidi terbatas. Cadangan pangan pemerintah di beberapa daerah juga dilaporkan masih memadai untuk jangka pendek. Kontra: efektivitas intervensi sangat bergantung pada kecepatan distribusi dan kapasitas fiskal daerah. Ketimpangan infrastruktur membuat kebijakan di pusat tidak selalu tersalurkan merata ke pasar tradisional.
Dari perspektif pasar, volatilitas harga pangan bergejolak dapat memukul daya beli rumah tangga berpendapatan rendah, sekaligus mengerek ekspektasi inflasi. Bila ekspektasi ini tidak terjangkar, pelaku usaha berpotensi menaikkan harga jasa dan barang lain, sehingga inflasi inti ikut terdampak.
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua El Nino berujung pada krisis pangan. Kekuatan fundamental, likuiditas pasokan, dan respons kebijakan menentukan hasil akhirnya. Yang paling berbahaya justru kepanikan pasar yang memicu penimbunan, karena dapat menciptakan kelangkaan buatan.
Portofolio kebijakan yang seimbang antara stabilisasi pasokan dan komunikasi publik yang tenang akan menjadi kunci. Tanpa itu, proyeksi kenaikan harga cabai dan daging ayam bukan lagi sekadar kekhawatiran musiman, melainkan tekanan struktural terhadap inflasi pangan nasional.
Comments (0)