Oct 09, 2026
Bisnis

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, Ini Pendorongnya

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto nasional mencapai sekitar 61 persen, dengan serapan tena...

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, Ini Pendorongnya

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto nasional mencapai sekitar 61 persen, dengan serapan tenaga kerja mendekati 97 persen dari total angkatan kerja. Di tengah angka makro tersebut, sejumlah pelaku usaha kuliner dari daerah mulai mencatatkan ekspansi ke pasar lintas negara, salah satunya unit usaha asal Sumatera Utara yang bergerak di sektor bumbu dan olahan pangan siap saji.

Fenomena ini menarik dicermati karena terjadi ketika tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah dan perlambatan permintaan global masih membayangi kinerja ekspor nasional. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekspor nonmigas sepanjang 2023 tumbuh tipis 3,2 persen year-on-year, jauh melandai dibandingkan capaian dua tahun sebelumnya yang sempat menyentuh dua digit. Artinya, setiap pelaku UMKM yang mampu menembus pasar luar negeri menjadi sinyal positif di tengah tren yang menantang.

Fundamental Usaha dan Peran Pendanaan

Perluasan jangkauan pasar sebuah UMKM umumnya tidak berdiri sendiri. Ada tiga fondasi utama yang menentukan keberhasilan, yaitu kapasitas produksi, standardisasi mutu, dan akses likuiditas. Pada aspek ketiga, peran intermediasi perbankan menjadi krusial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan berada di kisaran 19 persen pada 2023, masih di bawah target pemerintah sebesar 30 persen pada 2024.

Skema pembiayaan yang menyasar pelaku usaha kecil, termasuk yang berbasis di daerah, disebut menjadi katalis bagi ekspansi kapasitas. Dukungan tersebut tidak sekadar berbentuk pinjaman modal kerja, tetapi juga pendampingan kemasan, sertifikasi, hingga akses jejaring pemasaran lintas negara. Dalam konteks ini, pelaku usaha kuliner yang mampu menyesuaikan cita rasa lokal dengan preferensi pasar global memiliki valuasi prospek yang lebih baik.

Pro: Daya Saing Produk Lokal Menguat

Di satu sisi, masuknya produk UMKM daerah ke pasar internasional mencerminkan penguatan daya saing. Produk berbasis rempah dan bumbu khas Nusantara memiliki keunggulan diferensiasi yang sulit ditiru pesaing. Permintaan global terhadap makanan etnik dan sehat terus mengalami kenaikan, sejalan dengan tren konsumen negara maju yang mencari alternatif bercita rasa kuat namun berbahan alami.

Selain itu, ekspansi ini berpotensi memperbaiki struktur neraca perdagangan dalam jangka menengah. Setiap dolar devisa yang masuk dari ekspor UMKM membantu menopang cadangan devisa dan meredam tekanan capital outflow pada pasar keuangan domestik. Efek berganda lainnya adalah penciptaan lapangan kerja di daerah dan penguatan rantai pasok petani bahan baku setempat.

"UMKM yang naik kelas menjadi eksportir tidak hanya menambah devisa, tetapi juga membangun ketahanan ekonomi daerah yang lebih mandiri," ujar seorang ekonom yang meneliti sektor UMKM.

Kontra: Skala dan Konsistensi Masih Jadi Tantangan

Di sisi lain, keberhasilan satu-dua pelaku usaha belum tentu menggambarkan kondisi umum. Kendala klasik masih membayangi, mulai dari kapasitas produksi yang terbatas, mutu yang belum konsisten antar-batch, hingga biaya logistik yang tinggi. Rasio biaya logistik Indonesia terhadap PDB masih di kisaran 14 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN lain yang berkisar 10-11 persen.

Dari sisi permintaan, sentimen pasar global yang fluktuatif membuat proyeksi ekspor UMKM rentan terhadap gejolak. Pelemahan ekonomi negara tujuan utama dapat menekan volume pesanan secara signifikan. Belum lagi persoalan literasi keuangan pelaku usaha, di mana indeks literasi keuangan nasional baru menyentuh 65,4 persen pada 2023, yang berimplikasi pada pengelolaan arus kas dan risiko usaha yang belum optimal.

Kesimpulannya, kisah ekspansi UMKM kuliner daerah menunjukkan potensi nyata sekaligus kerentanan struktural. Portofolio pembiayaan yang sehat, pendampingan berkelanjutan, dan penguatan ekosistem logistik menjadi kunci agar tren ini tidak berhenti pada kasus per kasus. Tanpa perbaikan fundamental tersebut, lonjakan ekspor UMKM berisiko hanya menjadi sentimen pasar sesaat alih-alih transformasi ekonomi yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User