Oct 09, 2026
Bisnis

Jejak Kapur Barus Nusantara di Pasar Timur Tengah

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik per akhir 2023, ekspor komoditas hasil hutan non-kayu Indonesia—termasuk kapur barus, kemenyan, dan resin aromatik—mencapai nilai...

Jejak Kapur Barus Nusantara di Pasar Timur Tengah

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik per akhir 2023, ekspor komoditas hasil hutan non-kayu Indonesia—termasuk kapur barus, kemenyan, dan resin aromatik—mencapai nilai USD 1,42 miliar atau setara Rp22,1 triliun. Angka ini mengalami kenaikan 7,8 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama pada 2022. Salah satu komoditas yang menyita perhatian pasar Timur Tengah adalah kapur barus, atau yang dalam literatur klasik dikenal sebagai kafur.

Kapur barus bukan sekadar komoditas dagang biasa. Dalam tradisi literatur keagamaan, kafur disebut sebagai salah satu bahan pewangi penghuni surga. Penyebutan ini memberi dimensi simbolik yang kuat, sehingga permintaan dari kawasan Arab dan sekitarnya tidak pernah surut sepanjang sejarah. Pertanyaannya, dari mana asal kapur barus yang diperdagangkan di pasar-pasar Timur Tengah hari ini?

Barus: Titik Nol Perdagangan Kapur Barus Dunia

Secara geografis, Barus terletak di pesisir barat Sumatra, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara. Kota kecil ini tercatat dalam berbagai catatan pelayaran kuno sebagai sentra produksi kapur barus sejak abad ke-6. Nama Barus bahkan diyakini menjadi asal kata "kapur barus" itu sendiri.

Pada masa kejayaan jalur rempah, pedagang dari Jazirah Arab, Gujarat, dan Tiongkok berlayar jauh untuk mengambil komoditas ini langsung dari sumbernya. Mereka tidak hanya membeli, tetapi juga menetap selama musim angin memungkinkan pelayaran. Interaksi inilah yang kemudian membuka jalur penyebaran Islam di pesisir Sumatra bagian barat, jauh sebelum era kesultanan besar di Jawa.

Di satu sisi, posisi Barus sebagai produsen utama memberi keuntungan geopolitik luar biasa. Wilayah ini menjadi simpul perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan pasar Timur Tengah, Afrika Timur, hingga Eropa. Di sisi lain, ketergantungan pada satu komoditas membuat ekonomi lokal rentan terhadap fluktuasi permintaan global dan perubahan jalur pelayaran.

Fundamental dan Sentimen Pasar Hari Ini

Dari perspektif fundamental, permintaan kapur barus global saat ini ditopang tiga sektor utama: industri parfum dan dupa, farmasi, serta ritual keagamaan. Data International Trade Centre menunjukkan volume impor kapur barus dan resin aromatik oleh negara-negara Teluk pada 2023 mencapai 18.400 ton, dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sebagai pembeli terbesar.

Namun, sentimen pasar tidak sepenuhnya positif. Harga kapur barus alam terus mengalami tekanan dari kapur barus sintetis berbahan dasar turpentin dan naftalena. Produk sintetis ini menawarkan harga 35–40 persen lebih murah dengan kualitas aroma yang dinilai cukup untuk kebutuhan industri. Akibatnya, pangsa pasar kapur barus alam cenderung menurun dalam satu dekade terakhir, dari sekitar 62 persen pada 2014 menjadi 48 persen pada 2023.

"Kapur barus alam punya nilai historis dan spiritual yang tidak bisa digantikan produk sintetis. Tapi secara ekonomi, produsen kita harus berbenah dari hulu ke hilir," ujar seorang peneliti ekonomi agraria dari lembaga riset independen.

Dari sisi likuiditas, pembiayaan bagi petani dan pengolah kapur barus di Sumatra Utara masih terbatas. Akses permodalan melalui perbankan dinilai belum menyentuh pelaku usaha skala mikro. Ini menjadi salah satu penghambat utama peningkatan kapasitas produksi dan standarisasi mutu.

Proyeksi dan Tantangan Ke Depan

Proyeksi ke depan menunjukkan peluang sekaligus risiko. Peluang datang dari tren global yang kembali mengarah pada produk alami, seiring meningkatnya kesadaran konsumen akan keberlanjutan. Permintaan kapur barus alami dari pasar premium dan industri parfum mewah diperkirakan tumbuh 5,2 persen per tahun hingga 2030.

Risiko muncul dari sisi hulu. Alih fungsi lahan di sekitar Barus dan minimnya regenerasi pohon penghasil kapur mengancam keberlanjutan pasokan. Jika tren ini berlanjut, Indonesia berpotensi kehilangan posisi sebagai pemasok utama kapur barus dunia—posisi yang telah bertahan lebih dari seribu tahun.

Dari kacamata valuasi, nilai tambah kapur barus masih sangat timpang. Ekspor dalam bentuk bahan mentah dihargai jauh lebih rendah dibandingkan produk turunan seperti minyak esensial atau dupa curah. Hilirisasi menjadi kata kunci, namun membutuhkan investasi teknologi, pelatihan sumber daya manusia, dan dukungan kebijakan yang konsisten.

Pada akhirnya, kisah kapur barus Barus bukan hanya narasi perdagangan. Ia adalah cermin bagaimana sebuah wilayah dapat memiliki posisi strategis dalam jaringan ekonomi global selama berabad-abad, namun tetap menghadapi tantangan klasik: bagaimana mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Portofolio ekonomi Nusantara ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjawab pertanyaan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User