Oct 08, 2026
Bisnis

Etika Kerja Nabi Muhammad dan Relevansinya bagi Pekerja Modern

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat sebesar 4,82 persen, turun dari 5,45 persen pada periode yang sama tahun sebelumny...

Etika Kerja Nabi Muhammad dan Relevansinya bagi Pekerja Modern

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat sebesar 4,82 persen, turun dari 5,45 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah perbaikan angka ketenagakerjaan tersebut, persoalan kualitas hubungan antara pekerja dan pemberi kerja masih menjadi tantangan tersendiri. Survei lembaga riset independen pada 2023 menunjukkan bahwa sekitar 62 persen karyawan di kawasan Asia Tenggara mempertimbangkan pindah kerja dalam dua tahun ke depan, terutama karena isu pengakuan dan kompensasi.

Menarik untuk dicermati, praktik ketenagakerjaan yang berlandaskan etika kerja kuat ternyata telah dicontohkan jauh sebelum era manajemen modern berkembang. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW, sebelum menerima kenabian, dikenal sebagai pekerja yang menjalankan profesinya dengan standar integritas tinggi. Kiprah beliau dalam dunia kerja, khususnya saat mengelola perdagangan bersama Siti Khadijah, kerap dikaji dalam literatur ekonomi Islam sebagai model hubungan industrial yang sehat.

Fondasi Etika Kerja yang Melampaui Zaman

Dalam kajian ekonomi syariah, terdapat sejumlah prinsip yang dipegang teguh oleh Nabi Muhammad dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Prinsip-prinsip tersebut mencakup kejujuran dalam bertransaksi, amanah dalam menjaga barang maupun modal, serta kedisiplinan dalam memenuhi kesepakatan. Literatur akademik mencatat bahwa reputasi beliau sebagai al-amin atau sosok yang dapat dipercaya menjadi modal sosial utama yang mengangkat nilai tawaran kerja beliau di pasar tenaga kerja saat itu.

"Integritas adalah mata uang paling berharga dalam pasar tenaga kerja. Seorang pekerja yang dapat dipercaya akan selalu memiliki valuasi lebih tinggi di mata pemberi kerja," demikian tesis yang sering dikutip para pengkaji manajemen Islam mengenai rekam jejak tersebut.

Dari sisi teori ekonomi, apa yang dialami Nabi Muhammad mencerminkan konsep signaling theory dalam pasar tenaga kerja. Kualitas yang sulit diamati secara langsung, seperti kejujuran dan loyalitas, disampaikan kepada pemberi kerja melalui sinyal berupa rekam jejak dan reputasi. Ketika sinyal tersebut terbukti akurat, terjadi asymmetric information yang berkurang, dan pekerja memperoleh kompensasi yang lebih tinggi sebagai imbalan atas risiko yang lebih rendah bagi perusahaan.

Dua Sisi dalam Perspektif Ekonomi Ketenagakerjaan

Di satu sisi, narasi etika kerja religius menawarkan kerangka moral yang kuat bagi peningkatan produktivitas. Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat keterlibatan karyawan tinggi mencatat produktivitas hingga 21 persen lebih baik dibandingkan perusahaan dengan keterlibatan rendah. Etika kerja yang kuat berkorelasi positif dengan penurunan tingkat pergantian karyawan (turnover), yang pada akhirnya menekan biaya rekrutmen dan pelatihan.

Di sisi lain, para ekonom ketenagakerjaan mengingatkan bahwa pendekatan moralitas semata tidak cukup. Struktur upah yang adil, jaminan sosial, dan kepastian hukum tetap menjadi variabel fundamental. Tanpa perbaikan struktural, ajakan bekerja jujur berpotensi menjadi beban tidak seimbang bagi pekerja. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2023 berada di angka 74,39, masih tertinggal dari beberapa negara tetangga, yang mengindikasikan bahwa kualitas kerja belum sepenuhnya sejalan dengan kesejahteraan.

Implikasi bagi Pasar Kerja Kontemporer

Jika ditarik ke konteks sekarang, kisah keteladanan tersebut sejalan dengan tuntutan pasar kerja yang semakin menilai soft skills. Laporan World Economic Forum 2023 menempatkan integritas, keandalan, dan kemampuan berkomunikasi sebagai tiga keterampilan teratas yang dicari pemberi kerja hingga 2027. Artinya, tren permintaan tenaga kerja bergerak menuju kualitas personal, bukan sekadar kompetensi teknis.

Namun, penting dicatat bahwa konteks ekonomi abad ke-7 sangat berbeda dengan ekonomi digital saat ini. Struktur pasar, teknologi, dan regulasi telah berubah drastis. Karena itu, relevansi etika kerja tersebut lebih tepat diposisikan sebagai fondasi nilai, bukan resep instan untuk mendapat gaji besar. Pemberi kerja modern menilai kombinasi antara integritas, kapasitas teknis, dan kontribusi terukur terhadap kinerja perusahaan.

Secara keseluruhan, refleksi atas praktik kerja masa lalu menawarkan perspektif yang menyeimbangkan antara nilai moral dan realitas pasar. Pada akhirnya, kesejahteraan pekerja merupakan hasil interaksi antara kualitas individu dan kualitas institusi tempat ia bekerja. Tanpa keduanya berjalan seiring, proyeksi peningkatan kesejahteraan pekerja hanya akan bertahan di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User