Pasar Warakas Sepi, Pedagang Keluhkan Daya Beli
Pantauan Beritadua.com di Pasar Warakas, Jakarta Utara, pada Senin (10/3) menggambarkan suasana yang jauh dari kesan ramai. Sejak pagi hingga siang hari, aktivitas jual beli di pasar tradisional ini
Pantauan Beritadua.com di Pasar Warakas, Jakarta Utara, pada Senin (10/3) menggambarkan suasana yang jauh dari kesan ramai. Sejak pagi hingga siang hari, aktivitas jual beli di pasar tradisional ini tampak lesu. Beberapa lorong pasar yang biasanya dipadati pembeli, kini hanya dilalui segelintir orang. Bahkan sejumlah lapak sengaja tidak dibuka oleh pemiliknya karena minimnya kunjungan pembeli.
Para pedagang yang masih bertahan mengeluhkan kondisi ini. Mereka menyebut penurunan daya beli masyarakat menjadi faktor utama anjloknya transaksi. Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, ditambah pendapatan warga yang tidak mengalami peningkatan, membuat warga lebih berhemat dalam berbelanja. Alhasil, pedagang di pasar tradisional seperti Warakas merasakan dampaknya secara langsung.
"Biasanya sehari bisa dapat pembeli puluhan orang, sekarang paling cuma lima sampai sepuluh orang. Omzet turun drastis," ungkap Rina, salah satu pedagang sayuran di Pasar Warakas kepada Beritadua.com.
Penurunan Transaksi Hampir 40 Persen
Berdasarkan pengakuan beberapa pedagang, omzet harian mereka merosot hingga 40 persen dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga barang dari pemasok yang tidak diimbangi dengan kenaikan daya beli. Pedagang terpaksa menaikkan harga jual secara terbatas agar tidak merugi, namun langkah itu justru semakin membuat pembeli berpikir dua kali untuk membeli.
Tidak hanya sayuran dan bahan pokok, pedagang pakaian dan perabot rumah tangga di lantai atas pasar juga mengalami nasib serupa. Mereka mengakui harus menawarkan diskon besar-besaran demi menarik minat pembeli, tetapi hasilnya tetap belum optimal. Seorang pedagang pakaian, Hendra, mengatakan bahwa ia terpaksa mengurangi stok barang karena perputaran uang yang lambat.
"Saya sekarang lebih sering menutup lapak lebih awal. Daripada menunggu pembeli yang tidak datang, lebih baik saya keliling menawarkan barang secara online. Tapi persaingan di online juga berat," kata Hendra.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Meski demikian, para pedagang masih menyimpan harapan agar situasi segera membaik. Mereka berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mendongkrak daya beli masyarakat, misalnya melalui bantuan sosial tepat sasaran atau program stabilisasi harga pangan. Selain itu, pengelola pasar juga diharapkan memberikan keringanan biaya sewa lapak selama masa sulit ini.
Dari pantauan Beritadua.com, beberapa pedagang mencoba bertahan dengan beralih ke pemasaran digital. Namun, tidak semua pedagang menguasai teknologi, sehingga upaya itu belum merata. Ketua paguyuban pedagang Pasar Warakas, Suharno, menyebut pihaknya akan mengajukan audiensi dengan dinas terkait untuk mencari solusi bersama.
Dengan berbagai tekanan yang ada, nasib pasar tradisional seperti Warakas kini benar-benar bergantung pada sejauh mana pemulihan ekonomi berjalan. Jika tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin pasar yang menjadi tumpuan ratusan kepala keluarga ini akan semakin kehilangan pengunjung setianya.
Comments (0)