Neraca Perdagangan Indonesia Defisit, Akhiri Rekor Surplus 72 Bulan

Jakarta - Sebuah babak baru dalam dinamika perdagangan internasional Indonesia resmi tercatat. Setelah menikmati periode panjang surplus selama enam tahun penuh, neraca perdagangan barang Indonesia a

Jul 08, 2026 - 00:25
0 0
Neraca Perdagangan Indonesia Defisit, Akhiri Rekor Surplus 72 Bulan

Jakarta - Sebuah babak baru dalam dinamika perdagangan internasional Indonesia resmi tercatat. Setelah menikmati periode panjang surplus selama enam tahun penuh, neraca perdagangan barang Indonesia akhirnya mencatatkan defisit pada Mei 2026.

Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada bulan tersebut. Angka ini secara dramatis memutus rekor surplus yang telah bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak pertengahan 2020.

Penyebab utama defisit ini adalah ketimpangan antara kinerja impor yang melonjak signifikan di tengah pelemahan ekspor. Data menunjukkan bahwa nilai impor pada Mei 2026 mencapai US$ 24,81 miliar. Capaian ini meroket sebesar 22,16% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year). Di sisi lain, kinerja ekspor justru mengalami kontraksi. Tercatat nilai ekspor Indonesia hanya menyentuh US$ 23,20 miliar, atau turun sebesar 5,73% secara tahunan.

Pemicu Defisit dan Respons Pemerintah

Kondisi defisit ini menjadi sinyal peringatan bagi perekonomian nasional yang selama ini sangat bergantung pada surplus komoditas. Lonjakan impor yang signifikan diduga kuat dipicu oleh peningkatan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk proyek infrastruktur, sementara pelemahan ekspor terjadi akibat menurunnya permintaan global dan fluktuasi harga komoditas unggulan seperti batu bara dan minyak sawit.

"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Dengan terputusnya rekor surplus ini, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan cadangan devisa berpotensi meningkat. Para analis ekonomi memperkirakan pemerintah perlu segera menyusun strategi untuk menggenjot kembali ekspor non-migas serta mengendalikan laju impor barang konsumsi agar neraca perdagangan bisa kembali ke zona hijau dalam beberapa bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User