Oct 12, 2026
Bisnis

Mikroalga dan Masa Depan Bahan Bakar Penerbangan Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2023, konsumsi bahan bakar penerbangan nasional mencapai sekitar 8,5 juta kiloliter per tahun dan terus mengalami kenaikan ...

Mikroalga dan Masa Depan Bahan Bakar Penerbangan Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2023, konsumsi bahan bakar penerbangan nasional mencapai sekitar 8,5 juta kiloliter per tahun dan terus mengalami kenaikan seiring pemulihan industri pariwisata pascapandemi. Di tengah tekanan untuk menurunkan emisi karbon sektor transportasi udara, perhatian mulai bergeser ke sumber energi alternatif yang sebelumnya jarang dibahas: mikroalga. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap bahwa organisme mikroskopis ini berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar pesawat yang lebih ramah lingkungan.

Mengapa Mikroalga Menarik Secara Ekonomi dan Ekologis

Mikroalga adalah organisme fotosintetik berukuran mikro yang mampu tumbuh cepat di lahan marginal, air payau, bahkan air limbah. Menurut sejumlah kajian akademik, produktivitas minyak mikroalga dapat mencapai 10 hingga 20 kali lipat dibandingkan tanaman penghasil biodiesel konvensional seperti kelapa sawit per satuan luas lahan. Artinya, untuk menghasilkan volume bahan bakar yang sama, kebutuhan lahan bisa jauh lebih kecil. Ini menjadi nilai tambah bagi negara seperti Indonesia yang memiliki garis pantai panjang namun juga menghadapi tekanan alih fungsi lahan.

Dari sisi ekologis, bahan bakar penerbangan berbasis mikroalga masuk kategori sustainable aviation fuel (SAF), yaitu bahan bakar yang dapat menurunkan emisi karbon hingga 60–80 persen dibandingkan avtur fosil, tergantung metode produksi dan rantai pasoknya. Angka ini penting karena aviasi menyumbang sekitar 2–3 persen emisi karbon global, dan proyeksi International Air Transport Association (IATA) menunjukkan permintaan SAF global bisa menembus 100 juta metrik ton pada 2050.

Di satu sisi, potensi ini sejalan dengan target pemerintah menurunkan intensitas energi dan emisi di sektor transportasi, sekaligus membuka peluang ekspor SAF ke pasar Eropa dan Jepang yang mulai menerapkan mandat pencampuran bahan bakar berkelanjutan.

Tantangan Komersialisasi dan Fundamental Biaya

Di sisi lain, realitas ekonomi belum sepenuhnya berpihak. Hingga kini, biaya produksi SAF berbasis mikroalga diperkirakan masih berada di kisaran USD 1.500–2.500 per ton, jauh di atas harga avtur fosil yang rata-rata bergerak antara USD 700–900 per ton dalam dua tahun terakhir. Selisih ini menjadi hambatan fundamental bagi maskapai yang beroperasi dengan margin tipis, terlebih setelah lonjakan biaya operasional dan volatilitas harga minyak dunia.

Selain itu, teknologi kultivasi mikroalga dalam skala industri masih menghadapi kendala pada tahap harvesting dan ekstraksi lipid yang tergolong intensif energi. Rasio energi bersih (net energy ratio) dari beberapa proyek percontohan global bahkan masih di bawah ambang batas komersial. Ini berarti, secara valuasi ekonomi, proyek mikroalga saat ini lebih cocok berada di tahap riset terapan dan pilot project ketimbang produksi massal.

"Transisi energi bukan hanya soal teknologi, tetapi soal bagaimana kita membangun ekosistem industri yang mampu bersaing secara biaya dalam jangka panjang," ujar seorang analis energi dalam sebuah diskusi panel industri di Jakarta.

Peta Jalan, Likuiditas Investasi, dan Sentimen Pasar

Dari kacamata kebijakan, langkah mengangkat mikroalga ke permukaan menunjukkan upaya mendiversifikasi portofolio energi nasional, yang selama ini bertumpu pada biodiesel B35 dan rencana B40. Namun, keberhasilan pengembangan SAF berbasis mikroalga sangat bergantung pada empat faktor: ketersediaan likuiditas investasi riset, insentif fiskal, kemitraan dengan produsen pesawat dan maskapai, serta kepastian pasar offtake.

Pemerintah sendiri telah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2030. Jika mikroalga dapat masuk dalam kerangka ini, ada peluang alokasi anggaran riset dan insentif pajak yang lebih terarah. Sebaliknya, tanpa dukungan pendanaan yang konsisten, inisiatif ini berisiko berhenti di tahap wacana, sebagaimana beberapa proyek bioenergi generasi kedua sebelumnya.

Sentimen pasar terhadap sektor energi hijau masih fluktuatif. Capital outflow dari pasar negara berkembang sepanjang 2023–2024 turut mempersempit ruang pendanaan ventura di sektor deep tech, termasuk bioenergi. Meski demikian, tren jangka panjang menunjukkan permintaan SAF terus mengalami kenaikan, terutama dari maskapai Eropa yang terikat mandat pencampuran 2 persen pada 2025 dan 6 persen pada 2030.

Kesimpulannya, mikroalga menawarkan proyeksi jangka panjang yang menjanjikan bagi ketahanan energi aviasi Indonesia, tetapi fundamental biaya dan kesiapan teknologi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di satu sisi, potensi ekologis dan ketersediaan lahan menjadi modal awal. Di sisi lain, disparitas harga, kebutuhan infrastruktur, dan risiko investasi menuntut strategi bertahap yang realistis. Tanpa keseimbangan antara ambisi iklim dan disiplin ekonomi, transisi ini hanya akan menjadi narasi tanpa dampak nyata bagi industri penerbangan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User