Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2023, indeks literasi keuangan nasional mencapai 65,43 persen, naik dari 49,68 persen pada 2019. Namun, di wilayah perdesaan dengan ekonomi berbasis komoditas, seperti kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, inklusi keuangan masih menghadapi tantangan struktural. Perkebunan sawit menjadi denyut nadi ekonomi setempat, tetapi akses permodalan bagi petani kecil sering kali terhambat oleh keterbatasan agunan dan pemahaman produk pembiayaan.
Peran Mantri dalam Menjembatani Kesenjangan Likuiditas
Di tengah keterbatasan itu, kehadiran mantri atau petugas pembiayaan bank menjadi kunci. Alifia, seorang mantri di salah satu bank BUMN yang bertugas di OKI, menjadi contoh bagaimana pendekatan personal mampu menjaga akses keuangan tetap terbuka. Ia mendekati debitur dengan empati, menggali kebutuhan riil usaha, lalu merancang solusi pembiayaan yang disesuaikan dengan siklus panen sawit. Menurutnya, petani sawit kerap mengalami kesulitan likuiditas pada masa perawatan tanaman, bukan karena tidak produktif, melainkan karena pola arus kas yang tidak sejalan dengan jadwal angsuran.
"Setiap debitur punya karakter berbeda. Yang penting kita pahami dulu akar masalahnya, baru kita carikan skema yang tidak memberatkan," ujar Alifia.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan temuan Bank Indonesia yang mencatat rasio kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap total kredit perbankan sebesar 19,4 persen pada 2023. Angka ini masih di bawah target 30 persen yang dicanangkan pemerintah. Di sektor perkebunan, penetrasi pembiayaan formal bahkan lebih rendah karena banyak petani masih mengandalkan tengkulak atau skema bagi hasil informal.
Dua Sisi Akses Keuangan di Sektor Sawit
Di satu sisi, kehadiran mantri di lapangan terbukti meningkatkan inklusi keuangan. Data Bank Indonesia per triwulan IV 2023 menunjukkan pertumbuhan kredit investasi di sektor pertanian sebesar 9,2 persen year-on-year, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit total yang sebesar 7,1 persen. Artinya, ada tren positif penyaluran pembiayaan ke sektor primer, termasuk perkebunan. Keberadaan mantri yang aktif menyambangi debitur turut menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di segmen mikro, yang per Desember 2023 berada di level 2,8 persen, relatif terkendali.
Di sisi lain, ketergantungan pada pendekatan personal memiliki keterbatasan skala. Satu mantri idealnya membina 200 hingga 300 debitur, namun di wilayah dengan geografis luas seperti OKI, rasio itu bisa jauh lebih besar. Akibatnya, kapasitas pendampingan tidak merata. Selain itu, fluktuasi harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi risiko fundamental. Harga CPO sempat menembus USD 1.200 per ton pada 2022, lalu turun ke kisaran USD 800 per ton pada 2023. Penurunan ini langsung memukul kemampuan bayar petani, sehingga sentimen pasar terhadap sektor sawit menjadi lebih hati-hati.
Pro: pembiayaan mikro yang adaptif mampu menjaga konsumsi rumah tangga desa dan menekan kemiskinan. Kontra: tanpa diversifikasi ekonomi, guncangan harga komoditas bisa memicu kenaikan NPL dan capital outflow dari sektor perdesaan.
Proyeksi dan Tantangan Struktural
Ke depan, proyeksi pertumbuhan kredit perbankan nasional pada 2024 berada di kisaran 10 hingga 12 persen year-on-year. Namun, proyeksi itu sangat bergantung pada likuiditas dan kondisi fundamental daerah. Untuk wilayah sumsel, valuasi ekonomi sawit tetap menjadi penopang utama, tetapi diperlukan pendampingan berkelanjutan agar petani tidak hanya menjadi objek pembiayaan, melainkan subjek pemberdayaan. Penguatan literasi keuangan, digitalisasi pembayaran, serta integrasi data debitur menjadi agenda penting untuk memperluas portofolio inklusi tanpa mengorbankan kualitas aset.
Pada akhirnya, kisah mantri di OKI mencerminkan bahwa akses keuangan bukan sekadar angka di neraca bank. Ia menyangkut keberlanjutan ekonomi desa, ketahanan pangan, dan stabilitas sosial. Rasio inklusi yang naik harus dibarengi dengan kualitas pendampingan, agar tren positif ini tidak sekadar menjadi sentimen pasar sesaat, melainkan fondasi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Comments (0)