Oct 12, 2026
Bisnis

Membedah 10 Pilar CT Way Menuju Kesuksesan yang Berkelanjutan

Dalam lanskap perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,05 persen secara year-on-year pada kuartal II 2025 menurut data Badan Pusat Statistik, pertanyaan tentang bagaimana individu dan pelaku usaha dapat m...

Membedah 10 Pilar CT Way Menuju Kesuksesan yang Berkelanjutan

Dalam lanskap perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,05 persen secara year-on-year pada kuartal II 2025 menurut data Badan Pusat Statistik, pertanyaan tentang bagaimana individu dan pelaku usaha dapat meraih kesuksesan menjadi semakin relevan. Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, membagikan sebuah kerangka kerja yang ia sebut sebagai "CT Way"—sepuluh poin yang menurutnya menjadi fondasi perjalanan menuju puncak. Namun, di balik narasi inspiratif tersebut, para analis mengingatkan bahwa kesuksesan bukan sekadar formula personal, melainkan hasil interaksi kompleks antara fundamental ekonomi, likuiditas pasar, dan sentimen yang terbentuk di masyarakat.

Sepuluh Poin sebagai Kerangka, Bukan Jaminan

CT Way terdiri dari sepuluh prinsip yang mencakup aspek visi, disiplin, ketekunan, hingga kemampuan membaca peluang. Dalam sebuah forum ekonomi, Chairul Tanjung menegaskan bahwa kesuksesan adalah hak semua orang, tetapi tidak ada jalan pintas untuk mencapainya.

"Kesuksesan itu hak semua orang, tetapi bukan sesuatu yang mudah. Ada proses, ada kegagalan, dan ada konsistensi yang harus dijaga," ujarnya.

Dari sudut pandang ekonomi, sepuluh poin tersebut dapat dibaca sebagai representasi dari modal manusia dan modal sosial—dua variabel yang dalam berbagai studi empiris berkorelasi positif dengan peningkatan pendapatan dan produktivitas. Sebuah riset Bank Dunia pada 2024 menempatkan Indonesia pada peringkat 54 dari 134 negara dalam Human Capital Index, menandakan bahwa pengembangan kualitas individu masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Di satu sisi, kerangka seperti CT Way memberikan panduan praktis bagi generasi muda yang ingin membangun portofolio keterampilan. Di sisi lain, tanpa akses terhadap pendidikan berkualitas, permodalan, dan jaringan, sepuluh poin tersebut berisiko menjadi jargon yang hanya bisa dieksekusi oleh kelompok tertentu.

Fundamental Ekonomi dan Realitas Struktural

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2025, pertumbuhan kredit perbankan berada di kisaran 10,4 persen secara year-on-year, sementara rasio kredit macet atau NPL terjaga di level 2,2 persen. Angka ini menunjukkan bahwa likuiditas perbankan masih cukup longgar untuk membiayai ekspansi usaha. Namun, penyerapan kredit masih terpusat pada sektor-sektor tertentu, terutama infrastruktur dan konsumsi rumah tangga.

Pro: bagi mereka yang memiliki akses ke permodalan, momentum ini merupakan peluang emas untuk memperluas skala usaha. Kontra: bagi usaha mikro, kecil, dan menengah yang menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional, akses terhadap kredit formal masih menjadi hambatan klasik. Data Otoritas Jasa Keuangan mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 75,02 persen pada 2024, artinya masih ada sekitar seperempat penduduk dewasa yang belum tersentuh layanan keuangan formal.

Dalam konteks ini, sepuluh poin CT Way perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih konkret: penguatan literasi keuangan, penyederhanaan perizinan usaha, dan insentif bagi penciptaan lapangan kerja. Tanpa itu, narasi kesuksesan hanya akan berputar pada level individu tanpa efek berganda bagi perekonomian secara luas.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari sisi pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatat kenaikan sekitar 3,8 persen sepanjang 2025 hingga Oktober, dengan valuasi Price to Earning Ratio berada di level 14,2 kali. Angka ini relatif moderat dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir yang menyentuh 16 kali. Capital outflow yang tercatat di pasar obligasi negara sebesar Rp 34,7 triliun secara year-to-date menjadi sinyal bahwa sentimen global masih berfluktuasi, terutama dipengaruhi kebijakan suku bunga The Fed.

Bagi pelaku usaha, kondisi ini menuntut strategi yang adaptif. Kesuksesan tidak lagi hanya soal visi besar, tetapi juga kemampuan mengelola risiko, menjaga likuiditas, dan membaca tren. Proyeksi pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada 2026, namun capaian tersebut sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.

Pada akhirnya, sepuluh poin CT Way dapat menjadi kompas personal, tetapi ia bukan pengganti dari reformasi struktural yang lebih luas. Kesuksesan—baik individu maupun kolektif—adalah hasil dari kombinasi antara disiplin pribadi, fundamental ekonomi yang sehat, dan kebijakan publik yang inklusif. Tanpa keseimbangan ketiganya, janji bahwa kesuksesan adalah hak semua orang akan tetap menjadi cita-cita yang menunggu untuk diwujudkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User