Oct 10, 2026
Bisnis

Lonjakan Avtur Mandalika 48 Persen Uji Ketahanan Logistik Energi

Berdasarkan data PT Pertamina Patra Niaga per periode penyelenggaraan MotoGP Mandalika, konsumsi avtur di Bandara Internasional Lombok (BIL) mengalami kenaikan hingga 48 persen dibandingkan periode no...

Lonjakan Avtur Mandalika 48 Persen Uji Ketahanan Logistik Energi

Berdasarkan data PT Pertamina Patra Niaga per periode penyelenggaraan MotoGP Mandalika, konsumsi avtur di Bandara Internasional Lombok (BIL) mengalami kenaikan hingga 48 persen dibandingkan periode normal. Angka ini menjadi salah satu lonjakan permintaan bahan bakar penerbangan tertinggi yang tercatat pada satu bandara domestik dalam satu event tunggal, dan langsung memicu pertanyaan tentang ketahanan rantai pasok energi di kawasan Indonesia Timur.

Avtur sendiri adalah bahan bakar khusus pesawat bermesin turbin, yang kualitasnya jauh lebih ketat daripada solar maupun bensin karena harus stabil pada suhu ekstrem di ketinggian jelajah. Lonjakan 48 persen berarti kebutuhan pasokan harian melonjak signifikan dalam hitungan hari, seiring bertambahnya frekuensi penerbangan tambahan (extra flight) yang mengangkut tim, logistik, dan penonton.

Di Satu Sisi: Momentum Ekonomi yang Nyata

Di satu sisi, kenaikan konsumsi avtur ini adalah cerminan langsung dari multiplier effect sebuah event berskala internasional. Setiap penonton yang datang melalui udara membawa belanja akomodasi, kuliner, transportasi darat, dan oleh-oleh. Menurut proyeksi sejumlah lembaga, dampak ekonomi langsung dan tidak langsung MotoGP Mandalika berkisar pada ratusan miliar rupiah per edisi, dengan sektor pariwisata dan UMKM sebagai penerima manfaat terbesar.

Dari kacamata neraca perdagangan, geliat ini juga positif. Penerbangan internasional yang masuk membawa devisa, sementara okupansi hotel di kawasan Mandalika dan Mataram mengalami kenaikan year-on-year yang cukup tajam. Indeks Keyakinan Konsumen di NTB pada bulan penyelenggaraan umumnya menunjukkan tren menguat, sejalan dengan meningkatnya perputaran uang di daerah.

"Permintaan avtur yang melonjak tajam dalam waktu singkat adalah indikator paling jujur bahwa aktivitas ekonomi riil sedang bergerak," catat seorang analis energi dalam kajiannya soal pola konsumsi bahan bakar penerbangan pada event-event besar.

Pertamina Patra Niaga memastikan stok avtur di BIL dalam kondisi aman, dengan penambahan pasokan dan pengaturan jadwal pengiriman agar tidak terjadi kekosongan. Jaminan ini penting karena avtur tidak bisa disubstitusi dengan bahan bakar lain—jika stok kering, penerbangan berhenti, dan reputasi bandara sebagai pintu masuk wisata bisa rusak dalam sekejap.

Di Sisi Lain: Beban Biaya dan Risiko Struktural

Di sisi lain, lonjakan 48 persen bukan tanpa konsekuensi. Avtur merupakan komponen biaya terbesar dalam struktur operasional maskapai, berkisar antara 30 hingga 40 persen dari total biaya penerbangan. Ketika permintaan naik tajam dalam waktu singkat, tekanan pada likuiditas dan logistik distribusi meningkat, terutama karena BIL bukan pusat penyimpanan avtur utama dan pasokan harus didatangkan dari terminal bahan bakar di wilayah lain.

Ada pula dimensi fiskal yang perlu dicermati. Harga avtur domestik mengikuti formula yang mempertimbangkan harga Minyak Mentah Indonesia (ICP), nilai tukar rupiah, dan faktor distribusi. Dalam periode volatilitas global, sentimen pasar terhadap harga minyak bisa membuat biaya avtur naik lebih cepat daripada kemampuan maskapai menyesuaikan tarif. Jika rupiah melemah, harga avtur dalam negeri ikut tertekan naik, dan margin maskapai tergerus.

Kritik lain menyoroti sifat event-based dari lonjakan ini. Setelah MotoGP berakhir, permintaan avtur berpotensi menurun kembali ke level fundamental, menciptakan pola konsumsi yang tidak stabil dari sisi perencanaan pasokan. Ini berbeda dengan kenaikan permintaan yang didorong pertumbuhan penumpang reguler, yang lebih berkelanjutan dan mudah diproyeksikan.

Valuasi Manfaat versus Ketahanan Rantai Pasok

Dari sudut pandang valuasi ekonomi, pertanyaannya bukan sekadar apakah stok aman, tetapi apakah infrastruktur energi di kawasan mampu menopang gelaran berulang. Kapasitas penyimpanan avtur, jumlah truk tangki, dan waktu pengiriman menjadi variabel kritis. Rasio antara konsumsi puncak dan kapasitas penyimpanan harian menjadi indikator ketahanan yang perlu dievaluasi setiap tahun, bukan hanya saat event berlangsung.

Ke depan, tren permintaan avtur di Indonesia Timur diperkirakan tetap tumbuh seiring pemulihan pariwisata dan pembukaan rute-rute baru. Proyeksi konservatif menempatkan pertumbuhan konsumsi avtur nasional pada kisaran 5 hingga 8 persen year-on-year, dengan puncak musiman pada periode event dan libur panjang. Artinya, lonjakan 48 persen seperti di Mandalika bisa menjadi preseden, bukan anomali, jika kalender event daerah makin padat.

Kesimpulannya, jaminan stok avtur adalah kabar baik, namun jangan berhenti di situ. Di satu sisi, momentum ekonomi dari event internasional layak dioptimalkan; di sisi lain, ketahanan logistik energi dan stabilitas biaya harus menjadi prioritas kebijakan agar lonjakan permintaan tidak berubah menjadi risiko inflasi dan gangguan konektivitas di kemudian hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User