Keraton Yogyakarta Dirampok Pasukan Inggris, Sultan Dibuang ke Penang

Peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai salah satu babak paling kelam bagi Kesultanan Yogyakarta. Pada Juni 1812, pasukan Inggris yang berkekuatan sekitar 1.200 personel, termasuk tentara sepoy d...

Aug 22, 2026 - 06:11
0 0
Keraton Yogyakarta Dirampok Pasukan Inggris, Sultan Dibuang ke Penang

Peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai salah satu babak paling kelam bagi Kesultanan Yogyakarta. Pada Juni 1812, pasukan Inggris yang berkekuatan sekitar 1.200 personel, termasuk tentara sepoy dari India, mengepung dan menyerbu Keraton Yogyakarta atas perintah Gubernur Letnan Thomas Stamford Raffles. Benteng pertahanan keraton jebol setelah dihujani tembakan meriam, dan dalam hitungan hari pusat kekuasaan Sultan Hamengkubuwana II jatuh ke tangan penjajah. Yang hilang bukan hanya kedaulatan, tetapi juga harta kekayaan kerajaan dalam jumlah besar: uang tunai, emas batangan, perhiasan, hingga koleksi naskah dan arsip yang selama ini dijaga turun-temurun.

Serangan Kilat yang Mengubah Peta Kekuasaan

Serangan ke Yogyakarta bukan peristiwa mendadak. Ketegangan antara Sultan Hamengkubuwana II, yang dikenal dengan gelar Sultan Sepuh, dan pihak Inggris telah memuncak sejak Inggris mengambil alih Jawa dari Belanda pada 1811. Raffles menilai sultan tidak bersahabat dan bahkan dicurigai menjalin hubungan dengan pihak lawan Inggris dalam pusaran Perang Napoleon di Eropa. Setelah perundingan gagal, pasukan Inggris melancarkan operasi militer pada 19 Juni 1812 dan berhasil membobol benteng keraton keesokan harinya. Perlawanan para prajurit keraton tak mampu menahan gempuran artileri yang jauh lebih modern.

Runtuhnya Keraton Yogyakarta dalam serangan yang nyaris tanpa perlawanan berarti itu menjadi pukulan telak bagi prestise Kesultanan. Untuk pertama kalinya, istana yang selama puluhan tahun menjadi simbol kedaulatan Jawa berhasil ditembus pasukan asing dalam waktu singkat. Kekalahan itu juga mengirim pesan ke seluruh pelosok Jawa: kekuatan militer Inggris tidak bisa dianggap remeh.

Uang, Emas, dan Perpustakaan yang Raib

Setelah benteng jebol, pasukan Inggris melakukan penyitaan besar-besaran. Sejumlah besar uang tunai dan emas diangkut keluar dari keraton, bersama perhiasan dan benda pusaka bernilai tinggi. Di luar harta bernilai ekonomis, yang paling memprihatinkan adalah dirampasnya perpustakaan kerajaan dan arsip-arsip penting. Ribuan naskah, surat-surat resmi, catatan silsilah, hingga dokumen perjanjian dibawa keluar dari keraton. Sebagian koleksi itu kemudian dikirim ke luar Jawa dan menjadi bagian dari koleksi lembaga-lembaga di Inggris dan India, tempat para sarjana mengkajinya selama bertahun-tahun.

Di satu sisi, pengambilalihan arsip itu merupakan perampasan warisan budaya yang menyakitkan. Di sisi lain, sejumlah sejarawan mencatat bahwa naskah-naskah yang dibawa pergi justru terselamatkan dari risiko kerusakan dan kemudian terdokumentasi dengan baik, sehingga menjadi sumber penting bagi penulisan sejarah Jawa hingga kini. Dua sudut pandang itu tetap menjadi perdebatan para ahli sampai sekarang, terutama soal nasib koleksi yang sebagian hingga kini masih berada di luar negeri.

Hamengkubuwana II: Takhta yang Hilang, Pengasingan yang Panjang

Nasib paling tragis menimpa Sultan Hamengkubuwana II. Setelah ditangkap, sultan yang telah dua kali naik takhta itu secara resmi diturunkan dari kekuasaannya. Ia kemudian diasingkan ke Pulau Penang, yang saat itu menjadi pos terdepan kekuasaan Inggris di Selat Malaka. Dari Yogyakarta, sultan yang telah memerintah sejak 1792 itu harus meninggalkan istana, keluarga, dan seluruh kekuasaannya. Kedudukannya digantikan oleh Hamengkubuwana III, putranya sendiri, yang dianggap lebih bersedia bekerja sama dengan pihak Inggris.

Pengasingan itu berlangsung hingga beberapa tahun. Sultan Sepuh baru diizinkan kembali ke Yogyakarta pada 1815, setelah Raffles digantikan oleh penguasa Inggris yang baru di Jawa. Namun, kembalinya ia bukan berarti memulihkan segala sesuatu. Kekuasaannya tidak pernah lagi sepenuhnya utuh, dan peristiwa 1812 menjadi luka yang membekas dalam sejarah keluarga keraton.

Bekas Luka yang Masih Terasa

Peristiwa perampokan Keraton Yogyakarta pada 1812 meninggalkan dampak jangka panjang. Secara ekonomi, keraton kehilangan kas dan cadangan emas yang selama ini menjadi penyangga keuangan kesultanan. Secara budaya, hilangnya koleksi perpustakaan dan arsip memutus sebagian rantai pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Secara politik, jatuhnya Hamengkubuwana II menegaskan bahwa kekuasaan raja-raja Jawa pada masa itu sangat bergantung pada restu kekuatan kolonial.

Hingga kini, para sejarawan masih menelusuri jejak harta dan naskah yang dibawa pasukan Inggris pada 1812. Sebagian koleksi telah berhasil diidentifikasi dan dipelajari, sebagian lagi masih menjadi misteri. Yang pasti, peristiwa itu mengajarkan bahwa di balik tembok megah sebuah keraton, tersimpan bukan hanya kemewahan, tetapi juga sejarah yang rapuh terhadap kekuatan politik yang jauh lebih besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User