Pemberdayaan BRI Bantu KAINRATU Ekspor Tenun Troso ke Pasar Dunia

Berdasarkan data Bank Indonesia per Juni 2026, penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami kenaikan sekitar 6,7 persen year-on-year—istilah untuk perbandingan k...

Aug 22, 2026 - 06:06
0 0
Pemberdayaan BRI Bantu KAINRATU Ekspor Tenun Troso ke Pasar Dunia

Berdasarkan data Bank Indonesia per Juni 2026, penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami kenaikan sekitar 6,7 persen year-on-year—istilah untuk perbandingan kinerja dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya—didukung membaiknya permintaan domestik dan pemulihan ekspor produk kerajinan. Di tengah tren tersebut, nama KAINRATU, produsen tenun ikat asal Troso, Jepara, Jawa Tengah, kerap muncul sebagai studi kasus pemberdayaan UMKM. Melalui pendampingan, pelatihan, dan perluasan akses pasar yang difasilitasi BRI, produk tenun ikat buatan perajin lokal kini dikirim ke sejumlah negara tujuan ekspor.

Troso sendiri dikenal sebagai sentra tenun dengan lebih dari 700 pengrajin yang tersebar di beberapa desa. Dalam ekosistem seperti ini, satu usaha berkelas ekspor dapat menjadi penggerak bagi puluhan perajin rumahan di sekitarnya.

Program Pemberdayaan dan Akses Pasar

Program yang dijalankan BRI terhadap KAINRATU mencakup tiga pilar utama. Pertama, pelatihan kapasitas produksi dan manajemen usaha, mulai dari standarisasi kualitas benang hingga pengelolaan keuangan sederhana. Kedua, pendampingan pemasaran, termasuk keikutsertaan pada pameran dagang domestik maupun internasional. Ketiga, akses pembiayaan dengan skema yang disesuaikan dengan siklus produksi usaha tenun, yang umumnya membutuhkan modal kerja dalam jumlah besar untuk pembelian bahan baku.

Bagi pembaca awam, modal kerja merujuk pada dana yang dipakai untuk kebutuhan operasional sehari-hari usaha, seperti membeli benang, membayar upah penenun, dan biaya pewarnaan. Keterlambatan ketersediaan dana pada tahap ini kerap menjadi penyebab utama UMKM gagal memenuhi tenggat pesanan ekspor.

Di Satu Sisi: Dampak Positif yang Terukur

Dari sisi manfaat, dampak pemberdayaan ini terbilang nyata. KAINRATU dilaporkan mengalami kenaikan volume produksi dan perluasan portofolio produk—ragam varian yang ditawarkan—dari kain tradisional menjadi produk turunan seperti kemeja, gaun, hingga aksesori. Dengan harga jual tenun ikat di pasar ekspor yang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding pasar domestik, nilai tambah bagi perajin ikut meningkat.

Secara lebih luas, keberhasilan semacam ini memperkuat fundamental sektor UMKM, yaitu daya tahan usaha yang ditopang permintaan nyata, bukan sekadar gejolak sentimen pasar. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat UMKM menyerap lebih dari 96 persen tenaga kerja nasional. Ketika satu klaster naik kelas, efek berantainya terasa pada pendapatan rumah tangga di desa-desa sekitar sentra produksi.

Dari sisi perbankan, pembiayaan UMKM juga menjadi penyeimbang portofolio kredit di tengah ketatnya persaingan di segmen korporasi. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan) segmen UMKM yang relatif terjaga membuat segmen ini semakin dilirik sebagai mesin pertumbuhan kredit jangka panjang.

Di Sisi Lain: Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan

Namun, analisis dua sisi menuntut kejujuran terhadap risiko. Di sisi lain, keberhasilan satu merek tidak otomatis menggambarkan kondisi ratusan perajin lain yang belum tersentuh program. Kesenjangan kapasitas antara usaha binaan dan non-binaan justru berpotensi melebar, terutama dalam hal akses teknologi dan pengetahuan pasar.

Tantangan kedua adalah fluktuasi harga bahan baku. Harga benang dan pewarna sintetis ikut bergerak mengikuti kurs dan harga komoditas global. Bila biaya produksi mengalami kenaikan lebih cepat daripada daya tawar harga jual, margin usaha bisa tergerus. Kondisi ini kerap memaksa UMKM menahan ekspansi, atau bahkan menunda pesanan.

Ketiga, permintaan pasar global bersifat musiman dan rentan terhadap perubahan selera. Tenun ikat adalah produk mode; ketika tren berubah, valuasi—penilaian nilai produk di mata konsumen—ikut berfluktuasi. Ketergantungan pada satu atau dua negara tujuan juga meningkatkan kerentanan terhadap kebijakan tarif dan gangguan logistik internasional.

Dari sisi makro, penguatan dolar AS yang mendorong capital outflow—keluarnya dana asing dari pasar domestik—di pasar keuangan global dapat menekan likuiditas perbankan dan berimbas pada suku bunga pembiayaan. Bila hal itu terjadi, biaya modal UMKM ikut naik pada saat yang bersamaan dengan naiknya biaya bahan baku.

Proyeksi dan Catatan untuk Keberlanjutan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan ekspor produk kerajinan Indonesia masih menjanjikan, ditopang permintaan konsumen global yang semakin menghargai produk berkelanjutan dan bernilai budaya. Indeks daya saing produk kreatif Indonesia, meski belum berada di jajaran teratas, mengalami perbaikan dalam lima tahun terakhir.

“Keberhasilan pemberdayaan tidak diukur dari satu merek yang naik kelas, tetapi dari seberapa banyak perajin di sekitarnya ikut terangkat. Skala dan keberlanjutan adalah kuncinya,” ujar seorang pengamat UMKM yang enggan disebutkan namanya kepada Beritadua.

Catatan kritis ini penting disampaikan agar optimisme tidak berubah menjadi hype tanpa data. Pemberdayaan yang ideal bukan hanya melahirkan satu eksportir, melainkan membangun ekosistem: rantai pasok bahan baku yang stabil, regenerasi penenun muda, standar mutu yang konsisten, serta perlindungan kekayaan intelektual motif tenun khas Troso.

Dengan kombinasi pembiayaan yang tepat, pendampingan yang berkelanjutan, dan dukungan kebijakan, tenun ikat Troso memiliki peluang nyata untuk menjadi salah satu motor ekspor kreatif nasional. Namun, tanpa penguatan kapasitas kolektif dan mitigasi risiko biaya, keberhasilan yang diraih hari ini bisa menjadi cerita sukses yang sulit direplikasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User