Dua Dekade Gula Merah Sumenep: KUR Angkat Usaha Rosidah

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, portofolio Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan perbankan secara nasional tercatat berada di kisaran Rp270–280 triliun, dengan pert...

Aug 22, 2026 - 06:05
0 0
Dua Dekade Gula Merah Sumenep: KUR Angkat Usaha Rosidah

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, portofolio Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan perbankan secara nasional tercatat berada di kisaran Rp270–280 triliun, dengan pertumbuhan dobel digit secara year-on-year. Debitur hanya membayar bunga 3 persen per tahun, setengah dari bunga kredit komersial, karena sebagiannya ditanggung subsidi pemerintah. Di balik angka besar itu, tersimpan kisah-kisah kecil yang justru menjadi tulang punggung ekonomi: Rosidah, pengusaha gula merah di Sumenep, Madura, yang telah menggeluti usahanya selama dua dekade. Kisahnya menjadi potret bagaimana akses pembiayaan mampu mengubah skala usaha sekaligus kesejahteraan sebuah keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Dua Dekade Menjaga Api Tradisi

Sejak awal berdiri, usaha Rosidah berjalan dengan cara konvensional: memasak nira kelapa di tungku sederhana, mengemas hasilnya secara manual, dan memasarkan dari mulut ke mulut. Selama bertahun-tahun, skala produksinya nyaris stagnan karena keterbatasan modal kerja. Bahan baku harus dibeli tunai saat musim nira, sementara pembayaran dari tengkulak datang terlambat. Kondisi itu membuat likuiditas usahanya kerap tersendat.

Perubahan datang ketika Rosidah memutuskan memanfaatkan KUR dari BRI. Dengan tambahan modal itu, ia memperbaiki tungku, menambah kapasitas produksi, dan memperluas kemasan agar lebih higienis dan menarik. Produksi yang semula hanya untuk pasar lokal perlahan menjangkau pembeli di luar Sumenep. Tenaga kerja pun bertambah, sebagian besar tetangga sekitar yang ikut merasakan manfaat ekonomi dari usaha tersebut. Hasilnya terasa hingga ke ranah keluarga: penghasilan yang lebih stabil memungkinkan anak-anaknya menempuh pendidikan lebih tinggi, dan rumah tinggal mulai direnovasi bertahap. Bagi Rosidah, kredit bukan sekadar pinjaman, melainkan jembatan menuju skala usaha yang lebih besar.

KUR: Mekanisme dan Angka di Baliknya

KUR adalah kredit bersubsidi pemerintah yang ditujukan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang produktif. Ciri utamanya adalah bunga rendah, yakni 3 persen per tahun, serta kemudahan tanpa agunan untuk plafon tertentu. Bagi pembaca awam, agunan dapat dipahami sebagai jaminan aset yang biasa diminta bank; dengan skema KUR, pelaku usaha kecil yang tak memiliki aset berlebih tetap bisa mengakses pembiayaan formal.

Secara nasional, perbankan menyalurkan KUR dengan rasio kredit bermasalah yang relatif terjaga, berada di kisaran 2–3 persen. Bank Rakyat Indonesia tercatat sebagai penyalur terbesar, dengan porsi signifikan mengalir ke sektor pertanian, perikanan, dan pengolahan — sektor tempat usaha gula merah seperti milik Rosidah berada. Dari sisi fundamental, penyaluran KUR juga mengikuti tren permintaan yang meningkat setiap tahun, seiring membaiknya pemahaman pelaku UMKM akan pentingnya pembiayaan resmi dibandingkan pinjaman informal.

Dua Sisi Mata Uang Kredit Murah

Di satu sisi, KUR terbukti memperbaiki akses modal bagi usaha kecil yang selama ini bergantung pada rentenir dengan bunga jauh lebih tinggi. Kehadiran kredit murah menekan biaya produksi, memperbaiki likuiditas, dan memberi ruang bagi pengusaha seperti Rosidah untuk berinvestasi pada peralatan serta kualitas produk. Proyeksi pertumbuhan usaha pun menjadi lebih realistis karena beban biaya modal yang rendah.

Di sisi lain, para pengamat mengingatkan agar keberhasilan ini tidak membuat pelaku usaha bergantung sepenuhnya pada subsidi. Bila kebijakan bunga bersubsidi berubah, struktur biaya usaha bisa ikut berubah. Selain itu, kredit yang mudah diakses tanpa dibarengi literasi keuangan berisiko menciptakan utang berlebih. Kunci keberlanjutan ada pada produktivitas, bukan semata pada murahnya bunga.

"Kredit murah hanyalah penolong jangka pendek bila tidak diikuti perbaikan produktivitas dan akses pasar. Yang membangun usaha adalah kemampuan menjual lebih banyak, bukan sekadar meminjam lebih murah," ujar seorang pengamat UMKM.

Hal senada terlihat dari sisi sentimen pasar: dukungan pembiayaan yang tepat sasaran dapat memperkuat daya tahan UMKM, yang secara nasional menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Artinya, setiap usaha kecil yang naik kelas ikut memperbaiki indeks kesejahteraan di daerahnya masing-masing.

Pelajaran dari Dapur Gula Merah

Kisah Rosidah menunjukkan bahwa KUR bekerja paling baik ketika diiringi pendampingan: pembukuan sederhana, standar mutu, dan perluasan akses pasar. Ke depan, valuasi usaha kecil tidak cukup diukur dari omzet semata, tetapi dari kemampuan bertahan menghadapi guncangan, termasuk fluktuasi harga bahan baku dan perubahan musim. Dengan kombinasi modal murah, pelatihan, dan digitalisasi pemasaran, proyeksi usaha gula merah dari Sumenep berpeluang terus tumbuh dan menular ke pelaku UMKM lain di sekitarnya.

Dua dekade adalah waktu yang panjang bagi sebuah usaha rumahan. Namun, dengan dukungan pembiayaan yang tepat, dua dekade berikutnya bisa menjadi babak ekspansi — bagi Rosidah, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User