Keluarga Minta BK DPRD TTU Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha

Kefamenanu, TTU – Suasana haru menyelimuti halaman Gedung DPRD Timor Tengah Utara (TTU) saat puluhan orang menyalakan lilin dalam aksi bertajuk “1000 Lilin

Keluarga Minta BK DPRD TTU Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha

Kefamenanu, TTU – Suasana haru menyelimuti halaman Gedung DPRD Timor Tengah Utara (TTU) saat puluhan orang menyalakan lilin dalam aksi bertajuk “1000 Lilin untuk Dokter Icha”. Aksi tersebut digelar oleh keluarga dan kerabat dr. Icha Maya Sari, dokter muda yang diduga menjadi korban intimidasi oleh seorang oknum anggota DPRD TTU. Dengan membawa poster dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, mereka mendesak Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU untuk segera menindaklanjuti laporan etik yang sudah disampaikan dan memberikan keadilan bagi keluarga korban.

Aksi solidaritas ini merupakan puncak dari akumulasi kekecewaan keluarga terhadap lambannya proses penanganan dugaan intimidasi yang dialami Dokter Icha. Sang dokter, yang bertugas di Puskesmas Miomaffo Barat, sebelumnya dikenal sebagai sosok vokal yang aktif menyuarakan perbaikan layanan kesehatan di daerah terpencil. Namun, setelah ia mengungkap dugaan penyimpangan distribusi logistik obat-obatan di wilayah kerjanya, situasi berubah drastis. Intimidasi diduga mulai terjadi ketika ia mendapatkan pesan bernada ancaman melalui telepon dan media sosial yang diduga berasal dari nomor yang dikenali milik seorang anggota DPRD TTU berinisial YM.

Kronologi dan Bentuk Intimidasi yang Dialami Dokter Icha

Berdasarkan kronologi yang dihimpun dari pihak keluarga, peristiwa intimidasi berlangsung dalam beberapa tahap sejak awal Maret 2025. Berikut rincian kejadian yang dirangkum sesuai laporan keluarga:

  1. 1 Maret 2025: Dokter Icha mengirimkan laporan resmi ke Dinas Kesehatan TTU terkait ketidaksesuaian stok obat dan alat kesehatan di puskesmas tempatnya bertugas.
  2. 5 Maret 2025: Ia menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal, di mana penelepon menyebut dirinya sebagai “perwakilan dewan” dan meminta agar laporan tersebut dicabut.
  3. 8 Maret 2025: Dokter Icha menerima pesan singkat berisi ancaman akan “dibuat tidak nyaman” dan sindiran tentang posisinya yang masih tenaga kontrak.
  4. 15 Maret 2025: Akun media sosial Dokter Icha dibanjiri komentar bernada teror; keluarga memutuskan melaporkan ke polisi, namun belum ada perkembangan berarti.
  5. 20 Maret 2025: Keluarga mengadukan dugaan pelanggaran etik ke Badan Kehormatan DPRD TTU, disertai bukti rekaman telepon dan tangkapan layar.
  6. 23 Maret 2025: Aksi 1000 lilin digelar setelah dua pekan tak ada respons resmi dari BK DPRD.

Salah satu anggota keluarga, Maria Goreti Yanti, yang merupakan sepupu Dokter Icha, dalam orasinya menyatakan, “Kami sudah menyampaikan bukti-bukti kuat. Rekaman suara, tangkapan layar, dan kronologi lengkap sudah kami serahkan. Tapi BK seperti jalan di tempat. Ini menjadi pertanyaan besar: apakah anggota dewan kebal hukum?”

“Kami tidak ingin hal ini terulang pada tenaga kesehatan lain. Dokter Icha hanya menjalankan tugasnya melaporkan kondisi yang merugikan masyarakat. Jika ini dibiarkan, siapa lagi yang berani jujur?” – juru bicara keluarga, Benediktus Ola.

Respons Badan Kehormatan DPRD TTU

Ketua Badan Kehormatan DPRD TTU, Yohanes Lake, saat ditemui di sela-sela aksi, berjanji akan memproses laporan tersebut sesuai mekanisme yang berlaku. Ia menegaskan bahwa BK memiliki tata tertib yang harus dipatuhi, termasuk pemanggilan saksi dan verifikasi bukti. “Kami sudah terima laporan resmi pada 20 Maret. Sekarang kami sedang menjadwalkan rapat internal untuk menentukan langkah. Kami pastikan tidak ada intervensi dari pihak mana pun,” ujar Yohanes.

Namun, pernyataan tersebut direspons skeptis oleh para pengunjuk rasa. Mereka menilai BK terlalu lamban dan memberi kesan melindungi oknum yang dilaporkan. “Dua minggu hanya untuk menjadwalkan rapat? Itu bukan prioritas,” cetus salah satu peserta aksi. Ia menambahkan bahwa seharusnya BK bisa bekerja lebih gesit mengingat ancaman psikologis yang dialami korban terus berlanjut.

Desakan Publik dan Solidaritas Tenaga Medis

Kasus ini mulai mendapat perhatian lebih luas setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang TTU mengeluarkan pernyataan sikap yang mendesak perlindungan bagi Dokter Icha. Ketua IDI setempat, dr. Andreas Taolin, menyatakan bahwa intimidasi terhadap tenaga kesehatan yang tengah menjalankan fungsi kontrol sosial merupakan ancaman serius bagi reformasi sektor kesehatan. “Kami mendukung penuh agar proses etik di BK berjalan transparan dan adil. Dokter Icha harus dilindungi,” tegas Andreas.

Dukungan juga mengalir dari KontraS NTT dan sejumlah LSM yang mendampingi keluarga. Mereka menilai bahwa dugaan intimidasi oleh anggota legislatif adalah bentuk penyalahgunaan wewenang yang melanggar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD serta kode etik anggota dewan. Mereka siap mengawal proses ini hingga tuntas.

Hingga berita ini diturunkan, oknum yang dilaporkan belum memberikan klarifikasi resmi ke publik. Sementara itu, korban, Dokter Icha, masih enggan memberikan komentar panjang karena alasan keamanan psikologis. Keluarga berharap agar BK DPRD TTU benar-benar menunjukkan keseriusan dan menjatuhkan sanksi tegas jika terbukti terjadi pelanggaran etik. “Ini bukan hanya tentang satu dokter, tetapi tentang masa depan keberanian tenaga kesehatan di daerah terpencil untuk bersuara demi kepentingan warga kecil,” pungkas Maria Goreti.

[SOCIAL_TWEET]: Lilin harapan menyala di depan DPRD TTU. Keluarga Dokter Icha mendesak Badan Kehormatan segera usut dugaan intimidasi oleh oknum anggota dewan. Akankah keadilan ditegakkan? #DokterIcha #DPRDTorut #KeadilanUntukIcha[SOCIAL_TG]: 🕯️ Keluarga dan kerabat Dokter Icha desak Badan Kehormatan DPRD TTU usut tuntas dugaan intimidasi setelah ia laporkan penyimpangan logistik obat. Simak kronologinya:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User