Presiden Pezeshkian Percepat Pulang dari Irak Pasca Serangan AS
Di tengah suasana duka mendalam pasca wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian tiba-tiba harus mengubah rencana lawatannya
Di tengah suasana duka mendalam pasca wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian tiba-tiba harus mengubah rencana lawatannya di Irak. Kunjungan yang semula dijadwalkan sebagai bagian dari prosesi pemakaman dan diplomasi tingkat tinggi, berubah menjadi manuver kepulangan darurat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran pada Rabu (8/7/2026).
Menurut laporan Al Jazeera yang dikonfirmasi kantor kepresidenan, Pezeshkian yang sejak awal pekan ini berada di Najaf, terpaksa meninggalkan kota suci itu lebih cepat dari jadwal. Keberadaannya di Irak sejatinya akan memuncak pada acara arak-arakan jenazah Khamenei dari Najaf ke Karbala—dua tempat sakral bagi Muslim Syiah—sebelum dijadwalkan melakukan pertemuan strategis dengan jajaran pemerintahan Irak.
"Keselamatan nasional dan kebutuhan untuk segera mengoordinasikan respons terhadap agresi militer ini membuat Presiden Pezeshkian memutuskan untuk langsung kembali ke Teheran. Ia tidak bisa berada jauh dari pusat komando saat negara dalam kondisi darurat," ujar seorang pejabat senior Iran yang enggan disebutkan namanya.
Suasana di Najaf seketika berubah. Para delegasi yang semula khidmat, mendadak dirundung kecemasan. Sejumlah staf presiden tampak sibuk mengemas dokumen-dokumen protokoler, sementara beberapa pesawat militer disiapkan untuk penerbangan cepat menuju ibu kota. Momen ini menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas kawasan, meskipun tengah diselimuti ritual sakral keagamaan.
Agenda Ziarah yang Terhenti
Rencana awal Pezeshkian adalah mengikuti langsung prosesi pemakaman Ali Khamenei di tanah suci Najaf dan Karbala. Kehadirannya di sana bukan sekadar kunjungan kenegaraan, melainkan simbol penghormatan mendalam terhadap seorang pemimpin spiritual yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade. Jenazah Khamenei yang dijadwalkan diarak melintasi kedua kota tersebut diperkirakan akan dihadiri jutaan peziarah dari berbagai penjuru negeri.
Namun, serangan militer AS yang terjadi pada Rabu dini hari mengubah segalanya. Meski detail sasaran belum diungkap secara resmi, sumber keamanan Iran menyebut rudal-rudal itu menghantam fasilitas militer di wilayah perbatasan, menimbulkan kepanikan di kalangan elite politik. Keputusan presiden untuk pulang diambil hanya beberapa jam setelah laporan pertama serangan masuk.
Diplomasi Tingkat Tinggi yang Batal
Pezeshkian sejatinya memiliki agenda padat di Baghdad, termasuk pembicaraan dengan Perdana Menteri dan sejumlah menteri kunci Irak. Topik yang akan dibahas meliputi kerja sama ekonomi, keamanan perbatasan, dan stabilitas regional—isu yang menjadi sorotan setelah perubahan geopolitik besar-besaran di Timur Tengah. Namun, seluruh rencana itu urung terlaksana. Delegasi tingkat rendah tetap berada di Irak untuk melanjutkan komunikasi teknis, namun kehadiran presiden sebagai simbol kekuatan politik jelas tidak tergantikan.
Pembatalan ini meninggalkan sejumlah ketidakpastian. Para analis menilai bahwa Irak, yang selama ini menjadi penyeimbang antara Teheran dan Washington, akan terjebak dalam posisi sulit. Di satu sisi, hubungan historis dan sektarian dengan Iran sangat kuat; di sisi lain, tekanan dari AS untuk memutus poros Tehran selalu membayangi.
Sekembalinya ke Teheran, Presiden Pezeshkian langsung menggelar rapat darurat dengan Dewan Keamanan Nasional. Tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan, namun suasana di ibu kota dilaporkan tegang. Pangkalan militer meningkatkan siaga, sementara siaran televisi nasional menayangkan pengumuman mobilisasi parsial. Respons internasional pun beragam; beberapa negara menyerukan penghentian eskalasi, sementara yang lain justru memperkuat dukungan terhadap aliansi masing-masing, memperlihatkan betapa rentannya keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Comments (0)