Teheran — Ghalibaf Tuduh AS Langgar MoU, Era Bullying Berakhir
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat yang dituduhnya telah melanggar nota kesepahaman (MoU) bi
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat yang dituduhnya telah melanggar nota kesepahaman (MoU) bilateral dalam serangkaian tindakan eskalatif terbaru. Pernyataan yang disampaikan melalui media sosial X pada Rabu (8/7/2026) dan dilansir Reuters ini menegaskan berakhirnya kesabaran Teheran terhadap apa yang disebutnya sebagai pola intimidasi Washington. Menurut Ghalibaf, era pemaksaan kehendak dan unilateralisme telah mencapai batas akhirnya.
Kesepakatan Rapuh yang Dikhianati
MoU yang disinggung Ghalibaf merupakan produk diplomasi maraton antara Iran dan AS yang dimediasi oleh sejumlah negara kawasan pada pertengahan 2025. Dokumen tersebut dirancang untuk menciptakan zona penurunan eskalasi di Timur Tengah, mencakup dua pilar utama: pertama, penghentian serangan militer langsung dan operasi rahasia oleh AS terhadap aset Iran; kedua, penyesuaian aktivitas patroli Iran di Selat Hormuz sebagai isyarat niat baik. Sebagai imbalan, Washington diharapkan melonggarkan sebagian sanksi, terutama yang berkaitan dengan ekspor minyak mentah.
Kronologi Pelanggaran yang Dipaparkan
Dalam utas di X, Ghalibaf merinci lima poin pelanggaran yang dimaksud, disusun berdasarkan urutan waktu kejadian:
- Serangan udara ke fasilitas riset di Teheran (29 Juni 2026). Pentagon mengklaimnya sebagai respons atas dukungan Iran kepada milisi Syiah di Irak, namun Teheran menilainya sebagai aksi ofensif yang melampaui wewenang yang diatur MoU.
- Pemberlakuan kembali sanksi penuh terhadap minyak Iran (1 Juli 2026). Langkah ini membatalkan janji relaksasi ekonomi dan memblokir akses Iran ke pasar energi internasional yang sebelumnya dibuka secara terbatas.
- Ancaman serangan susulan oleh Menteri Pertahanan AS (3 Juli 2026). Dalam konferensi pers, Menhan AS menyebut opsi "serangan presisi lebih luas" masih di atas meja, yang dianggap Teheran sebagai intimidasi pasca-serangan.
- Pengabaian penyesuaian Selat Hormuz (efektif sejak Juni). Iran telah mengurangi jumlah kapal patroli IRGC di selat tersebut, tetapi AS tidak mengakui langkah de-eskalasi ini dan justru menambah armada di sekitar perairan.
- Operasi militer Israel ke Lebanon selatan (berkelanjutan sejak Mei). Ghalibaf menekankan bahwa serangan Zionis ini tidak mungkin berlangsung tanpa persetujuan dan suplai intelijen dari AS, sehingga menjadi pelanggaran tidak langsung terhadap semangat MoU.
Retorika "Era Bullying Berakhir" dan Implikasinya
Frasa "Era bullying dan pemerasan telah berakhir" yang dipilih Ghalibaf bukan sekadar retorika populis, melainkan penanda pergeseran doktrin strategis Iran. Pernyataan ini ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Teheran akan meninggalkan pendekatan kooperatif selama ini dan mungkin menempuh jalan lebih ofensif, baik secara militer, siber, maupun diplomatik. Sejumlah analis membaca ini sebagai ancaman terbuka bahwa Iran akan kembali meningkatkan pengayaan uranium atau mengaktifkan penuh proksi regionalnya.
Reaksi Pasar dan Kekhawatiran Global
Harga minyak mentah Brent langsung terpantau naik 3,2% ke level $87,4 per barel pada perdagangan Rabu malam, kendati belum ada gangguan fisik di Selat Hormuz. Beberapa negara importir energi utama seperti India dan Jepang dilaporkan mulai menjajaki kontrak alternatif. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri AS, namun sumber internal mengisyaratkan frustrasi bahwa Teheran "kembali memelintir narasi". Sementara itu, China dan Rusia menyatakan keprihatinan dan mendesak semua pihak menahan diri, namun secara paralel meningkatkan kerja sama energi dengan Iran.
Comments (0)