JAKARTA — Pakar Pendidikan Ingatkan Pemuda Bijak Gunakan Media Sosial, Prioritaskan Kewajiban

Di tengah pesatnya penetrasi internet dan gawai pintar di Indonesia, seruan untuk menyikapi teknologi secara arif kembali mencuat. Sejumlah lembaga pendidi

Jul 08, 2026 - 13:58
0 0
JAKARTA — Pakar Pendidikan Ingatkan Pemuda Bijak Gunakan Media Sosial, Prioritaskan Kewajiban

Di tengah pesatnya penetrasi internet dan gawai pintar di Indonesia, seruan untuk menyikapi teknologi secara arif kembali mencuat. Sejumlah lembaga pendidikan dan pemerhati anak melontarkan imbauan agar generasi muda tidak terlena oleh gawai dan tetap menempatkan kewajiban utama—belajar, beribadah, serta tanggung jawab sekolah atau pekerjaan—di atas segalanya. Peringatan ini menyusul temuan terbaru tentang peningkatan waktu layar (screen time) di kalangan remaja yang dianggap mulai menggerus produktivitas dan kesehatan mental.

Awal Mula Keprihatinan: Data Lima Tahun Terakhir

Lonjakan penggunaan media sosial dan gim daring pada kelompok usia 15–24 tahun menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Indeks Pembangunan Pemuda 2025. Meskipun indeks literasi digital naik tipis, indikator waktu yang dihabiskan untuk aktivitas nonproduktif justru melonjak.

  1. BPS merilis data (Januari 2025): rata-rata pemuda Indonesia menghabiskan 5,7 jam per hari di depan layar gawai untuk aktivitas non-akademik, naik dari 4,2 jam pada 2021.
  2. Survei Kementerian Kesehatan (Maret 2025): 34% remaja di kota besar mengalami gangguan tidur ringan akibat kebiasaan membuka media sosial hingga larut malam.
  3. Laporan Kemendikbudristek (April 2025): 61% pelajar mengaku pernah menunda mengerjakan tugas karena lebih memilih menonton video pendek atau bermain gim.

Puncak Diskusi: Webinar Nasional “Bijak Digital 2025”

Forum pendidikan yang digelar di Jakarta pada Selasa (15/7/2025) menjadi panggung utama penyampaian imbauan. Webinar yang dihadiri guru, orang tua, dan siswa ini menampilkan tiga narasumber utama: psikolog pendidikan, tokoh agama, dan pegiat literasi digital.

  1. Pukul 09.00–09.30 WIB: Moderator membuka sesi dengan menyoroti paradoks kemajuan teknologi: akses informasi tak terbatas, tetapi kedisiplinan kian rentan.
  2. Pukul 09.30–10.15 WIB: Psikolog pendidikan Dr. Andini memaparkan bahwa otak remaja masih dalam tahap perkembangan fungsi eksekutif, sehingga godaan dopamin dari notifikasi media sosial sulit ditolak tanpa pengaturan waktu yang sadar. Ia menekankan pentingnya kesepakatan keluarga tentang zona bebas gawai.
  3. Pukul 10.15–11.00 WIB: Perwakilan Kementerian Agama menyampaikan bahwa keseimbangan antara kehidupan digital dan spiritual tidak boleh diabaikan. “Jangan sampai waktu salat atau ibadah lain dikorbankan hanya demi scroll media sosial tanpa ujung,” ujarnya, mengutip data bahwa 42% remaja Muslim di perkotaan mengaku sering menunda salat karena terlalu fokus pada gawai.

Tanggapan dan Perdebatan Dua Sisi

Imbauan yang disampaikan menuai dukungan luas dari kalangan orang tua yang mengeluhkan menurunnya intensitas komunikasi keluarga. Namun, sebagian peserta muda juga menyuarakan pandangan bahwa penggunaan gawai tak melulu negatif—banyak yang memanfaatkan media sosial untuk belajar daring, mengikuti kursus gratis, atau bahkan membangun bisnis kecil.

  1. Sesi diskusi interaktif: Seorang mahasiswa menanyakan apakah semua bentuk konsumsi konten digital patut dibatasi, mengingat banyak peluang ekonomi kreatif lahir dari platform seperti YouTube dan TikTok.
  2. Jawaban narasumber: Mereka mengakui potensi positif, tetapi kembali menekankan pentingnya manajemen waktu yang terukur dan pemilahan konten berdasarkan prioritas. “Bukan gawainya yang salah, melainkan ketiadaan kendali diri,” tegas Dr. Andini.

Langkah Konkret yang Disepakati

Sebagai tindak lanjut, forum menghasilkan tiga rekomendasi yang akan disosialisasikan ke sekolah-sekolah dan komunitas pemuda.

  1. Gerakan “Jam Emas Tanpa Gawai”: mengampanyekan waktu khusus selama 2–3 jam setiap hari tanpa gawai, terutama saat belajar dan menjelang tidur.
  2. Integrasi literasi digital ke dalam kurikulum: sekolah didorong memasukkan modul tentang etika digital dan dampak psikologis media sosial dalam pelajaran Bimbingan Konseling.
  3. Pelibatan tokoh agama dan komunitas: memanfaatkan momentum ibadah untuk menyisipkan pesan bijak berteknologi.

Perspektif Pro dan Kontra

Seruan untuk bijak menggunakan gawai dan media sosial tak lepas dari dua kutub pandangan yang sama-sama berdasar. Berikut ringkasan perbandingannya:

  • Pro: Mendukung Pembatasan Ketat
    • Mencegah penurunan prestasi akademik akibat distraksi digital.
    • Menjaga kesehatan mental remaja dari tekanan sosial dan perundungan daring.
    • Memulihkan kualitas waktu bersama keluarga serta ketaatan beribadah.
  • Kontra: Menekankan Potensi Positif dan Kebebasan Individu
    • Media sosial telah menjadi ruang belajar alternatif, sumber informasi, dan ruang ekspresi yang mendorong kreativitas.
    • Produktivitas justru bisa meningkat jika gawai digunakan untuk mengakses alat-alat pendidikan atau kolaborasi proyek.
    • Pembatasan yang terlalu kaku dianggap mengabaikan hak remaja memanfaatkan teknologi sesuai perkembangan zaman.

Perdebatan ini menegaskan bahwa kunci utamanya bukan pada pelarangan total, melainkan pada kecakapan setiap individu untuk mengelola waktu, memilih konten, serta menempatkan kewajiban personal di atas hiburan digital.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User