Jakarta — India Akan Revitalisasi Candi Perwara Prambanan, Kata Fadli Zon

Jakarta — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa rencana pemugaran Candi Prambanan oleh Pemerintah India telah disampaikan Perdana Menteri Narend

Jul 08, 2026 - 17:31
0 0
Jakarta — India Akan Revitalisasi Candi Perwara Prambanan, Kata Fadli Zon

Jakarta — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa rencana pemugaran Candi Prambanan oleh Pemerintah India telah disampaikan Perdana Menteri Narendra Modi sejak satu setengah tahun lalu. Kini, rencana itu memasuki tahap lebih konkret dengan fokus utama pada candi-candi kecil atau candi perwara yang selama ini belum banyak tersentuh revitalisasi.

“Oh ya, jadi memang ini sudah disampaikan oleh Perdana Menteri Modi sejak satu setengah tahun yang lalu. Nah sekarang, besok (Rabu) ya, beliau akan melihat langsung ke Candi Prambanan,” ujar Fadli kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Ia menambahkan, “Ada bagian dari Candi Prambanan yang memang namanya perwara, itu candi-candi kecilnya yang belum kita revitalisasi.”

Mengenal Candi Perwara dan Kemitraan Indonesia-India

Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang terdiri dari satu candi induk (Siwa), dua candi pendamping (Brahma dan Wisnu), serta 224 candi perwara berderet rapi di halaman kompleks. Dari jumlah tersebut, baru sebagian kecil yang berhasil dipugar secara utuh. Banyak candi perwara yang masih berupa reruntuhan batu atau belum dikembalikan ke bentuk aslinya. Fokus pada candi-candi kecil ini menandai babak baru konservasi warisan dunia yang sudah diakui UNESCO itu.

Rencana India bukan tawaran baru. Modi, dalam berbagai pertemuan bilateral, sering menekankan pentingnya kerja sama pelestarian warisan budaya yang menjadi jembatan sejarah antara kedua bangsa. Kunjungannya langsung ke Prambanan besok hari menunjukkan komitmen politik tinggi dari New Delhi.

Analisis Dampak dan Kontroversi

Dukungan pendanaan dan keahlian dari India membuka peluang signifikan. Namun, keterlibatan negara asing dalam restorasi situs bersejarah juga memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai kedaulatan budaya, interpretasi arkeologis, dan transparansi proyek.

Pro:

  • Pemugaran candi yang terbengkalai: Dari 224 candi perwara, mayoritas masih berupa reruntuhan. Revitalisasi akan memperkaya nilai sejarah dan wisata Prambanan secara total.
  • Transfer teknologi konservasi: India memiliki pengalaman luas merestorasi candi-candi Hindu kuno di kompleks Khajuraho, Hampi, dan lainnya. Keahlian mereka bisa memperkuat kapasitas arkeolog Indonesia.
  • Diplomasi budaya dan peningkatan pariwisata: Kemitraan ini dapat meningkatkan citra Indonesia sebagai pusat warisan Hindu-Buddha di Asia Tenggara, menarik wisatawan India yang jumlahnya terus bertambah, serta mempererat hubungan bilateral.
  • Pendanaan tambahan tanpa membebani APBN: Pemerintah India bersedia mendanai proyek ini, meringankan beban anggaran pemugaran nasional.

Kontra:

  • Isu kedaulatan dan kontrol narasi: Keterlibatan penuh India dalam restorasi fisik candi dikhawatirkan dapat membuka celah bagi interpretasi sejarah yang bias, mengurangi otoritas sejarawan Indonesia dalam menarasikan warisan sendiri.
  • Kurangnya transparansi rencana teknis: Hingga kini belum ada dokumen publik yang menjelaskan metode, tahapan, dan standar restorasi. Tanpa detail itu, pengawasan masyarakat sipil dan akademisi akan sulit.
  • Potensi konflik kepentingan budaya: Beberapa pihak mempertanyakan apakah bantuan ini murni pelestarian atau ada agenda diplomasi lunak India untuk menanamkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara.
  • Risiko kerusakan akibat restorasi tidak autentik: UNESCO memiliki pedoman ketat tentang keaslian (authenticity) dalam restorasi warisan dunia. Jika material atau teknik yang digunakan India tidak sesuai dengan praktik lokal asli, justru bisa merusak integritas situs.

Dengan demikian, revitalisasi Candi Perwara Prambanan oleh India adalah peluang sekaligus ujian. Kehati-hatian dalam merancang Perjanjian Kerja Sama (MoU) yang menjamin kendali penuh Indonesia atas standar teknis dan narasi sejarah menjadi kunci agar proyek ini tidak hanya menguntungkan satu pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User