JAKARTA — Di tengah melonjaknya angka perceraian belakangan ini, masyarakat sering kali
Secara klasik, sekufu mencakup kesetaraan dalam hal agama, nasab/keturunan, status sosial, harta, dan pendidikan. Namun di era ketika cinta sering dijadika
Secara klasik, sekufu mencakup kesetaraan dalam hal agama, nasab/keturunan, status sosial, harta, dan pendidikan. Namun di era ketika cinta sering dijadikan alasan tunggal menikah, pertanyaan mendasar mengemuka: apakah sekufu masih relevan, atau justru cinta dan komunikasi yang lebih menentukan? Dua perspektif kontras pun saling beradu.
Kubu Pertama: Sekufu sebagai Fondasi Pencegah Konflik
Para pendukung sekufu, terutama dari kalangan konservatif dan tokoh agama, menekankan bahwa kesepadanan adalah benteng awal pernikahan. K.H. Ahmad Zaini, pengasuh pesantren di Jakarta, menegaskan, “Pernikahan bukan hanya urusan hati, melainkan aliansi dua keluarga dan dua individu dengan modal budaya berbeda. Tanpa kesetaraan minimal dalam pemahaman agama dan pendidikan, gesekan akan terus terjadi, terutama saat menghadapi tekanan ekonomi.” Argumen ini didukung data bahwa pada 2022, 54% kasus perceraian dipicu oleh masalah ekonomi dan perbedaan pandangan hidup (BPS, 2022). Oleh karenanya, mempertimbangkan sekufu sejak proses ta’aruf atau perjodohan dianggap sebagai langkah preventif yang logis.
Kubu Kedua: Sekufu Kaku Akan Matikan Keragaman
Di sisi seberang, para sosiolog dan aktivis kesetaraan mengkritik pemaknaan sekufu yang terlalu literal. Dina Mariana, M.Psi., psikolog keluarga, berpendapat, “Sekufu sering dijadikan alat untuk mempertahankan kasta sosial dan menghambat pernikahan lintas kelas. Realitanya, kami melihat banyak pasangan dengan latar pendidikan berbeda justru bertahan karena memiliki fleksibilitas peran dan komunikasi setara.” Studi yang ia rujuk dari Lembaga Demografi UI menunjukkan bahwa variabel seperti keterbukaan emosional dan resolusi konflik memiliki koefisien korelasi lebih tinggi terhadap keutuhan rumah tangga (β=0,47) dibandingkan kesamaan tingkat pendidikan (β=0,21). Artinya, sekufu formal bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan pernikahan.
Angka Perceraian yang Bercerita
Untuk mempertajam analisis, berikut perbandingan angka perceraian di Indonesia dalam empat tahun terakhir:
| Tahun | Jumlah Perceraian | Perubahan (YoY) | Faktor Dominan |
|---|---|---|---|
| 2020 | 291.677 | -11% (pengaruh pandemi) | Ekonomi & pertengkaran terus-menerus |
| 2021 | 447.743 | +53,5% | Ekonomi & kurang harmonis |
| 2022 | 429.088 | -4,2% | Ekonomi & moralitas |
| 2023 | 463.654 | +8% | Ketidakcocokan & tanggung jawab |
Data tersebut menunjukkan bahwa masalah ekonomi dan ketidakcocokan saling berganti dominasi. Ini sekaligus memberi amunisi bagi kedua kubu: pendukung sekufu menilai kesetaraan ekonomi mampu meredam gesekan, sementara pengkritik menyoroti bahwa pasangan yang “sekufu” secara angka pun tetap bisa bercerai jika komunikasi amburadul.
Mendudukkan Ulang Makna Sekufu
Transformasi sosial turut menggeser tafsir. Dengan makin banyaknya perempuan bekerja dan usia pernikahan yang lebih matang, konsep “sekufu emosional” mulai populer. Survei terbaru Lembaga Indikator (2024) menemukan bahwa 62% responden masih menganggap kesetaraan pendidikan dan status sosial penting untuk pernikahan harmonis, namun 78% di antaranya percaya bahwa cinta dan komunikasi adalah fondasi utama. Ironisnya, persentase yang tinggi itu tidak otomatis menurunkan angka perceraian. Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar perdebatan tanpa ujung, melainkan penguatan program bimbingan pranikah yang menyentuh aspek-aspek praktis: manajemen keuangan rumah tangga, ekspektasi peran, dan teknik resolusi konflik.
Dengan begitu, cinta tidak lagi dibiarkan sendirian menahan badai perceraian. Ia ditopang oleh pemahaman yang tumbuh, terus diperbarui, dan lebih cair dibanding rumusan sekufu yang kaku.
Comments (0)