Israel Tahan Jenazah Dua Remaja Palestina yang Ditembak di Tepi Barat
Ramallah, Beritadua.com — Otoritas Israel menahan jenazah dua remaja Palestina yang tewas ditembak oleh pasukan militer di Tepi Barat. Kedua korban yang masih berusia belasan tahun itu dinyatakan t
Ramallah, Beritadua.com — Otoritas Israel menahan jenazah dua remaja Palestina yang tewas ditembak oleh pasukan militer di Tepi Barat. Kedua korban yang masih berusia belasan tahun itu dinyatakan tewas usai diduga melancarkan serangan dengan bom molotov ke arah tentara Israel di wilayah utara Kota Hebron.
Insiden nahas tersebut terjadi pada Selasa (23/6) di dekat kawasan Kiryat Arba, yang berlokasi di tepi Kota Hebron. Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, pasukan Israel langsung mengamankan lokasi kejadian dan membawa pergi kedua jenazah tanpa menyerahkannya kepada pihak keluarga atau Otoritas Palestina.
"Otoritas Umum Urusan Sipil yang berbasis di Ramallah menegaskan bahwa jenazah Reda Sami Awad dan Arafat Ismail Awad kini berada dalam tahanan pihak Israel," demikian keterangan resmi yang dikutip media kami dari pernyataan otoritas di Ramallah.
Kedua korban kemudian diidentifikasi oleh kantor berita resmi Palestina, Wafa, sebagai Reda Sami Awad yang berusia 15 tahun, dan Arafat Ismail Awad yang berusia 19 tahun. Keduanya merupakan warga Palestina yang berdomisili di wilayah selatan Tepi Barat.
Pihak militer Israel memberikan keterangan bahwa dua remaja tersebut terpaksa ditembak setelah keduanya melemparkan bom molotov ke arah tentara yang sedang berjaga di pos pemeriksaan. Namun, sejumlah kalangan mempertanyakan prosedur penembakan tersebut, mengingat kedua korban belum memasuki usia dewasa penuh dan penggunaan peluru tajam oleh aparat dinilai tidak proporsional.
Praktik penahanan jenazah warga Palestina oleh Israel telah menjadi isu yang berulang kali disoroti oleh berbagai organisasi hak asasi manusia. Keluarga korban biasanya harus menunggu berbulan-bulan hingga jenazah dikembalikan, dan prosesi pemakaman sering kali diawasi ketat oleh militer untuk mencegah munculnya aksi solidaritas publik.
Kebijakan Israel yang menahan jenazah ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari Komite Internasional Palang Merah, yang menyatakan bahwa praktik tersebut melanggar hukum humaniter internasional. Meski demikian, pihak keamanan Israel beralasan bahwa penundaan penyerahan jenazah diperlukan untuk mencegah kerusuhan dan prosesi pemakaman yang dapat berubah menjadi aksi unjuk rasa politik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Otoritas Palestina mengenai langkah diplomatik yang akan ditempuh terkait insiden tersebut. Namun, juru bicara kepresidenan Palestina melalui akun media sosialnya menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan menyelidiki peristiwa penembakan di Tepi Barat.
Ketegangan di Tepi Barat terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir, ditandai dengan kian masifnya operasi militer Israel di kota-kota Palestina serta aksi-aksi perlawanan yang kerap melibatkan warga muda. Media kami akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan memberikan informasi terkini kepada para pembaca.
Comments (0)