Iran Akan Pasang Tarif Selat Hormuz, Negara Sahabat Dapat Perlakuan Khusus
Beritadua.com, Jakarta - Duta Besar Iran untuk China, Abdolreza Rahmani Fazli, menegaskan bahwa Iran akan memberlakukan tarif baru bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, ia memastikan
Beritadua.com, Jakarta - Duta Besar Iran untuk China, Abdolreza Rahmani Fazli, menegaskan bahwa Iran akan memberlakukan tarif baru bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, ia memastikan bahwa negara-negara yang dianggap "sahabat" akan mendapatkan perlakuan khusus dalam kebijakan ini.
Pernyataan ini muncul di tengah proses diplomasi yang rumit antara Teheran dan Washington. Berdasarkan kesepakatan awal yang telah dicapai untuk mengakhiri konflik bersenjata, kapal-kapal komersial diizinkan melintasi selat strategis tersebut secara gratis selama 60 hari. Kesepakatan itu dinegosiasikan dengan mediasi Oman dan bertujuan meredakan ketegangan di kawasan.
Meski demikian, masih belum ada kejelasan mengenai skema yang akan diterapkan setelah masa transisi dua bulan itu berakhir. "Kami sedang bekerja sama dan berkolaborasi dengan Oman untuk merancang pengaturan baru bagi jalur air vital ini," ujar Rahmani Fazli dalam keterangan resmi yang dikutip media kami, Kamis (6/6/2025).
"Kapal-kapal dari negara sahabat akan menikmati keringanan atau pembebasan tarif, sesuai dengan hubungan bilateral dan kepentingan strategis bersama," lanjutnya.
Washington sendiri telah menyatakan penolakan keras terhadap gagasan pengenaan tarif di Selat Hormuz. Selat ini merupakan salah satu chokepoint energi dunia yang dilalui sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global setiap harinya. Setiap perubahan rezim lintas di perairan ini berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi internasional.
Para analis hubungan internasional menilai pernyataan Dubes Iran untuk China mengandung sinyal diplomatik yang kuat. Penyebutan "negara sahabat" secara spesifik dipandang sebagai bagian dari strategi Teheran untuk membangun blok dukungan di Asia dan Timur Tengah, terutama di tengah tekanan sanksi dari Barat.
Pemerintah Oman, yang selama ini berperan sebagai jembatan komunikasi tidak resmi antara Iran dan Amerika Serikat, belum memberikan komentar publik mengenai negosiasi ini. Namun, keterlibatan Kesultanan Oman dalam merancang pengaturan baru menunjukkan pentingnya peran diplomatik negara teluk tersebut di kawasan.
Laporan media kami sebelumnya menyebutkan bahwa perjanjian damai Iran-AS masih menyisakan sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan, termasuk status keamanan jalur pelayaran internasional. Pengenaan tarif di Selat Hormuz, jika benar-benar diterapkan, berpotensi menimbulkan friksi baru antara Teheran dan negara-negara konsumen energi yang bergantung pada rute pelayaran tersebut.
Pihak berwenang Iran sejauh ini belum mengeluarkan rincian teknis terkait besaran tarif maupun mekanisme pemungutannya. Kementerian Luar Negeri Iran dijadwalkan memberikan paparan resmi setelah konsultasi teknis dengan Oman mencapai tahap final.
Comments (0)