Berdasarkan data penyelenggara per gelaran MotoGP Indonesia 2024, Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mencatatkan rekor baru jumlah penonton dengan total 157.875 orang selama periode balapan. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak sirkuit berstandar internasional tersebut pertama kali menggelar ajang grand prix pada 2022, sekaligus menandai pemulihan signifikan sektor pariwisata olahraga atau sport tourism di kawasan tersebut.
Peningkatan angka kunjungan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek olahraga, tetapi juga memicu ekspektasi terhadap efek berganda bagi perekonomian lokal. PT Aviasi Pariwisata Indonesia, atau yang lebih dikenal sebagai InJourney, selaku holding badan usaha milik negara di sektor aviasi dan pariwisata, menyatakan komitmennya untuk memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism kelas dunia, dengan penekanan pada pengembangan ekonomi daerah dan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Fenomena Sport Tourism dan Indeks Kunjungan
Sport tourism adalah segmen pariwisata yang menggabungkan kegiatan wisata dengan perhelatan olahraga, sehingga menarik wisatawan dengan motif spesifik, bukan sekadar liburan biasa. Dalam konteks Mandalika, sport tourism mengalami kenaikan permintaan year-on-year, tercermin dari tren jumlah penonton yang terus meningkat. Jika pada edisi awal penyelenggaraan jumlah penonton masih berada di kisaran 100 ribuan, maka pada gelaran terbaru angka tersebut melonjak menjadi 157.875 orang.
Peningkatan ini turut mendorong indeks kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat. Data sementara menunjukkan okupansi hotel di sekitar kawasan Mandalika dan Kota Mataram mencapai level tinggi selama periode balapan, dengan rata-rata tingkat hunian yang melampaui 80 persen. Hal ini mencerminkan sentimen pasar yang positif terhadap kawasan tersebut, sejalan dengan pembangunan infrastruktur pendukung seperti bandara, jalan akses, dan fasilitas akomodasi.
Namun, masih ada pekerjaan rumah pada sisi likuiditas dan kapasitas layanan. Lonjakan penonton pada periode tertentu menuntut kesiapan sistem transportasi, pengelolaan sampah, dan ketersediaan air bersih. Tanpa perencanaan yang matang, efek berganda dapat berkurang karena kebocoran ekonomi, yakni uang yang dibelanjakan wisatawan mengalir keluar daerah alih-alih dinikmati pelaku usaha lokal.
Pro: Dorongan Ekonomi Lokal dan UMKM
Di satu sisi, kehadiran ratusan ribu penonton membuka peluang nyata bagi pelaku UMKM di sekitar Sirkuit Mandalika. Pedagang kuliner, penyedia homestay, pengrajin suvenir, hingga penyedia jasa transportasi lokal menerima berkah berupa peningkatan permintaan selama periode balapan. Sejumlah pelaku usaha melaporkan lonjakan omzet berkali-kali lipat dibanding hari biasa, terutama pada hari-hari menjelang dan selama sesi balapan berlangsung.
InJourney, melalui sejumlah program pemberdayaan, berupaya memastikan keterlibatan usaha lokal tidak hanya bersifat sementara. Pendekatan yang ditempuh mencakup pelatihan kapasitas UMKM, standardisasi produk, hingga kurasi tenant yang terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung di kawasan Mandalika. Tujuannya adalah membangun fundamental ekonomi lokal yang lebih kuat, bukan sekadar mengandalkan euforia sesaat setiap kali ajang balapan digelar.
“Sport tourism bukan hanya soal mendatangkan penonton, tetapi bagaimana nilai ekonominya terserap oleh masyarakat sekitar secara berkelanjutan,” ujar seorang pejabat InJourney dalam keterangan resminya.
Selain itu, dampak positif juga terlihat pada sektor penerbangan dan perhotelan. Peningkatan arus penumpang menuju Bandara Internasional Lombok menjadi indikator bahwa rantai nilai pariwisata ikut bergerak. Ini menciptakan efek berganda yang lebih luas, mulai dari maskapai, biro perjalanan, hingga penyedia layanan digital seperti platform pemesanan akomodasi.
Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Ketergantungan Musiman
Di sisi lain, sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan bahwa keberhasilan sport tourism tidak boleh diukur semata dari lonjakan jumlah penonton. Ada risiko ketergantungan pada kalender event yang bersifat musiman. Artinya, geliat ekonomi bisa naik tajam saat balapan, tetapi kembali lesu pada bulan-bulan tanpa agenda besar. Jika tidak diantisipasi, pola ini dapat menciptakan ketidakstabilan pendapatan bagi pelaku usaha lokal, terutama UMKM yang memiliki kapasitas modal terbatas.
Dari perspektif makro, capital outflow juga menjadi perhatian. Tidak semua pengeluaran wisatawan terserap pelaku usaha lokal. Sebagian besar pengeluaran dapat mengalir ke perusahaan penyedia akomodasi dan maskapai yang berpusat di luar daerah. Oleh sebab itu, rasio kebocoran ekonomi perlu terus ditekan melalui penguatan rantai pasok lokal, termasuk penyediaan bahan baku oleh petani dan nelayan setempat.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah valuasi investasi jangka panjang. Pembangunan sirkuit dan fasilitas pendukung menyerap anggaran besar, sehingga proyeksi pengembalian investasi harus dihitung secara cermat. Pemerintah dan InJourney perlu memastikan bahwa penyelenggaraan event tidak hanya mengandalkan penyertaan modal negara, tetapi juga menarik partisipasi swasta dan portofolio kemitraan yang sehat secara finansial.
Proyeksi dan Arah Kebijakan
Ke depan, keberlanjutan Mandalika sebagai pusat sport tourism bergantung pada kemampuan mengisi kalender event sepanjang tahun. Selain MotoGP, berbagai ajang seperti balap nasional, event budaya, dan kegiatan wisata berbasis komunitas perlu dikembangkan agar tren kunjungan tidak menurun drastis pasca-balapan. Diversifikasi ini menjadi kunci menjaga fundamental ekonomi kawasan tetap solid.
Pemerintah bersama InJourney juga diharapkan memperkuat sinergi lintas sektor, mulai dari infrastruktur, digitalisasi pembayaran, hingga promosi terpadu di pasar internasional. Dengan begitu, Mandalika tidak hanya menjadi magnet bagi penonton, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi regional yang inklusif dan berkelanjutan. Rekor 157.875 penonton dapat menjadi pijakan awal, bukan tujuan akhir, untuk membangun ekosistem sport tourism yang lebih matang dan tahan terhadap dinamika sentimen pasar global.
Comments (0)