Oct 14, 2026
Bisnis

Rider Mandalika Tempuh 1.400 Km Demi Pertamina Grand Prix

Berdasarkan data penyelenggara per Sabtu (10/10), rombongan pengendara motor yang tergabung dalam berbagai komunitas berangsur tiba di Pertamina Camping Ground Mandalika sejak pukul 05.00 WITA hingga ...

Rider Mandalika Tempuh 1.400 Km Demi Pertamina Grand Prix

Berdasarkan data penyelenggara per Sabtu (10/10), rombongan pengendara motor yang tergabung dalam berbagai komunitas berangsur tiba di Pertamina Camping Ground Mandalika sejak pukul 05.00 WITA hingga siang hari. Mereka menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 1.400 kilometer dari titik keberangkatan awal, sebuah jarak yang setara dengan perjalanan lintas pulau dari ujung barat hingga timur Jawa. Kedatangan ini menjadi salah satu fenomena menarik menjelang perhelatan Pertamina Grand Prix di Sirkuit Mandalika, karena menggabungkan mobilitas wisata, sentimen komunitas, dan potensi dampak ekonomi lokal dalam satu momen.

Perjalanan sejauh itu bukan sekadar aktivitas hobi. Dalam kacamata ekonomi, fenomena ini mencerminkan pergeseran pola konsumsi kelompok milenial dan generasi Z yang lebih memilih pengalaman ketimbang kepemilikan barang. Belanja bahan bakar, akomodasi, kuliner, dan suvenir selama perjalanan menjadi semacam "portofolio pengalaman" yang nilainya tidak selalu terukur secara statistik resmi, namun terasa nyata bagi pelaku usaha mikro di sepanjang rute.

Dampak Ekonomi di Sepanjang Jalur

Di satu sisi, gelombang kedatangan ribuan pengendara berpotensi mengerek likuiditas ekonomi daerah. Berdasarkan pola serupa pada ajang MotoGP 2022, Bank Indonesia mencatat tambahan devisa dan belanja wisatawan yang signifikan di Nusa Tenggara Barat. Setiap pengendara umumnya membelanjakan antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta selama perjalanan, mencakup penginapan, makanan, dan biaya tol. Jika diasumsikan 5.000 pengendara datang dengan pola belanja tersebut, total perputaran uang bisa menembus Rp7,5 miliar hingga Rp15 miliar hanya dari kelompok ini.

Di sisi lain, lonjakan kunjungan menimbulkan tekanan pada kapasitas infrastruktur. Pasokan bahan bakar di SPBU sepanjang jalur, ketersediaan kamar penginapan, hingga kapasitas parkir di area camping ground menjadi ujian tersendiri. Keluhan soal harga yang melonjak musiman kerap muncul, dan ini berisiko menciptakan inflasi lokal jangka pendek. Rasio okupansi hotel di Mataram dan Kuta Mandalika yang biasanya berkisar 60 persen bisa menyentuh 90 persen pada periode ini, mendorong kenaikan tarif harian.

Sentimen Pasar dan Proyeksi Jangka Pendek

Dari kacamata pasar, event seperti ini menciptakan sentimen positif bagi sektor pariwisata dan transportasi. Emiten yang bergerak di bidang perhotelan, maskapai, dan energi ritel cenderung mencatat kenaikan volume transaksi. Namun fundamental ekonomi tetap bergantung pada daya beli riil masyarakat. Jika perjalanan 1.400 kilometer ini dilakukan dengan biaya patungan komunitas, maka efek pengganda ekonominya bisa lebih tersebar ke banyak titik, bukan terpusat di kawasan sirkuit.

"Wisata berbasis komunitas seperti ini punya efek berganda yang lebih merata karena uang berputar di kota-kota kecil sepanjang rute," ujar seorang ekonom pariwisata dalam sebuah diskusi daring, seraya menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu menyiapkan data pengeluaran wisatawan secara lebih rapi.

Pro: aktivitas ini membuka peluang usaha baru bagi UMKM lokal, mulai dari bengkel motor, warung kopi, hingga penyewaan tenda. Kontra: tanpa pengelolaan yang baik, arus kendaraan besar bisa memperburuk kemacetan dan menaikkan biaya operasional warga setempat.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Ke depan, penyelenggara dan pemerintah daerah perlu memetakan ulang proyeksi kunjungan agar tidak terjadi kelebihan kapasitas. Indeks kepuasan pengunjung sebaiknya diukur secara berkala, bukan hanya dari jumlah kedatangan. Tren perjalanan jarak jauh dengan motor juga menunjukkan bahwa segmen ini punya daya tahan terhadap gejolak ekonomi, karena biaya bahan bakarnya relatif lebih murah dibanding tiket pesawat.

Pada akhirnya, kisah perjalanan 1.400 kilometer ini adalah cermin kecil dari dinamika ekonomi pengalaman di Indonesia. Selama ada keseimbangan antara kegembiraan komunitas dan kesiapan infrastruktur, dampak ekonominya bisa dinikmati lebih luas, bukan hanya oleh penyelenggara, tetapi juga oleh pedagang kecil di pinggir jalan yang menanti rombongan melintas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User