Oct 13, 2026
Bisnis

Tiga Tekanan Global Ancam Fundamental Ekonomi Negara Berkembang

Berdasarkan data terbaru dari lembaga multilateral per akhir 2023, sejumlah negara berkembang menghadapi tekanan berlapis yang mengancam stabilitas ekonomi makro mereka. Kombinasi krisis energi, fenom...

Tiga Tekanan Global Ancam Fundamental Ekonomi Negara Berkembang

Berdasarkan data terbaru dari lembaga multilateral per akhir 2023, sejumlah negara berkembang menghadapi tekanan berlapis yang mengancam stabilitas ekonomi makro mereka. Kombinasi krisis energi, fenomena iklim El Nino, dan lonjakan biaya pinjaman global menciptakan apa yang para analis sebut sebagai "triple shock"—guncangan tiga dimensi yang saling memperkuat. Proyeksi menunjukkan potensi mundurnya jutaan penduduk ke jurang kemiskinan jika tidak ada intervensi kebijakan yang terkoordinasi.

Krisis Energi dan Beban Fiskal yang Membengkak

Di satu sisi, lonjakan harga energi global sejak 2022 telah memukul neraca perdagangan negara-negara berkembang yang bergantung pada impor bahan bakar fosil. Data menunjukkan kenaikan harga minyak mentah mencapai puncaknya di atas USD 120 per barel pada pertengahan 2022, sebelum bertahan di kisaran USD 80-90 per barel sepanjang 2023. Bagi negara dengan rasio impor energi terhadap PDB di atas 5 persen, tekanan ini langsung menggerus cadangan devisa.

Di sisi lain, subsidi energi yang dipaksakan untuk menahan inflasi domestik justru memperlebar defisit anggaran. Rasio utang terhadap PDB di beberapa negara berkembang melonjak dari rata-rata 40 persen pada 2019 menjadi di atas 60 persen pada 2023. Fundamental fiskal yang melemah ini mempersempit ruang manuver pemerintah untuk merespons krisis berikutnya.

"Negara-negara berkembang berada di persimpangan yang sangat sulit. Mereka harus memilih antara melindungi daya beli masyarakat atau menjaga keberlanjutan fiskal, dan keduanya memiliki konsekuensi politik yang berat," ujar seorang ekonom senior di lembaga keuangan internasional.

El Nino dan Risiko Ketahanan Pangan

Fenomena El Nino yang diproyeksikan berlanjut hingga awal 2024 membawa sentimen pasar tersendiri. Pola cuaca ekstrem ini secara historis berkorelasi dengan penurunan produksi pertanian di kawasan Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, dan Amerika Latin. Indeks harga pangan FAO sempat mengalami kenaikan year-on-year sebesar 14 persen pada periode yang sama, meskipun kemudian terkoreksi.

Implikasi ekonominya berlapis. Pertama, inflasi pangan yang tinggi memiliki bobot besar dalam keranjang konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga secara langsung menekan daya beli. Kedua, tekanan pada neraca fiskal meningkat karena pemerintah perlu mengalokasikan anggaran tambahan untuk bantuan sosial dan impor pangan. Ketiga, ketidakpastian panen mengganggu portofolio investasi di sektor agribisnis.

Rasio inflasi pangan di beberapa negara berkembang mencapai dua digit, jauh melampaui target bank sentral yang umumnya di kisaran 3-5 persen. Likuiditas di sektor riil mengering karena masyarakat lebih memilih menahan konsumsi non-pokok.

Biaya Pinjaman Global dan Capital Outflow

Faktor ketiga yang memperburuk situasi adalah kebijakan moneter ketat di negara maju. Kenaikan suku bunga acuan The Fed dari near-zero menjadi 5,25-5,50 persen sepanjang 2022-2023 memicu capital outflow dari pasar negara berkembang. Dana asing yang sebelumnya mengalir ke obligasi dan saham emerging market berbalik arah menuju aset safe haven.

Konsekuensinya, yield obligasi negara berkembang melonjak, dalam beberapa kasus mencapai 10-12 persen untuk tenor 10 tahun. Biaya pinjaman yang tinggi ini memaksa pemerintah mengurangi belanja pembangunan dan memperbesar porsi anggaran untuk pembayaran bunga utang. Beberapa negara bahkan terpaksa mengajukan restrukturisasi utang kepada kreditor multilateral.

Dari perspektif valuasi, pasar saham negara berkembang mengalami koreksi signifikan dengan indeks MSCI Emerging Markets turun sekitar 20 persen dari puncaknya. Namun, di sisi lain, koreksi ini menciptakan peluang bagi investor jangka panjang yang melihat fundamental jangka panjang tetap solid.

Proyeksi dan Implikasi Kebijakan

Pro: Beberapa negara berkembang telah menunjukkan resiliensi dengan memperkuat bantalan fiskal, mendiversifikasi sumber energi, dan memperbaiki iklim investasi. Reformasi struktural yang dijalankan secara konsisten berpotensi mengubah krisis menjadi momentum transformasi ekonomi.

Kontra: Tanpa dukungan internasional berupa pendanaan iklim, restrukturisasi utang, dan transfer teknologi, negara-negara termiskin berisiko terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan. Proyeksi Bank Dunia menunjukkan tambahan 75-95 juta orang dapat jatuh miskin pada 2024 jika skenario terburuk terwujud.

Pada akhirnya, tren ini menuntut respons kebijakan yang tidak lagi silo. Koordinasi antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor energi menjadi keniscayaan. Tanpa itu, ketiga krisis ini akan terus menggerus fundamental ekonomi dan memperlebar ketimpangan global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User