Oct 13, 2026
Bisnis

Apresiasi Pemimpin China terhadap Nabi Muhammad dan Makna Ekonomi Kerja Sama Global

Dalam beberapa tahun terakhir, pernyataan sejumlah pemimpin China mengenai Nabi Muhammad SAW menjadi sorotan lintas negara, terutama di kalangan akademisi dan pelaku hubungan internasional. Mereka men...

Apresiasi Pemimpin China terhadap Nabi Muhammad dan Makna Ekonomi Kerja Sama Global

Dalam beberapa tahun terakhir, pernyataan sejumlah pemimpin China mengenai Nabi Muhammad SAW menjadi sorotan lintas negara, terutama di kalangan akademisi dan pelaku hubungan internasional. Mereka menyebut Nabi Muhammad sebagai figur yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ucapan ini bukan sekadar pernyataan keagamaan, melainkan sinyal diplomatik dan ekonomi yang layak dicermati lebih dalam. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan China per Desember 2024, nilai perdagangan China dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mencapai USD 421 miliar, naik sekitar 6,8 persen year-on-year dari USD 394 miliar pada 2023. Angka ini menunjukkan bahwa kedekatan budaya dan keagamaan memiliki korelasi dengan arus barang, jasa, dan investasi.

Apresiasi terhadap Nabi Muhammad bukan hal baru. Dalam berbagai forum, pejabat China menyatakan bahwa ajaran Nabi tentang keadilan, perdagangan yang jujur, dan kepedulian sosial sejalan dengan nilai-nilai yang mereka anggap relevan untuk kerja sama lintas peradaban. Namun, sebagai analis ekonomi, kita perlu melihat fenomena ini dari dua sisi agar tidak terjebak pada narasi tunggal.

Di Satu Sisi: Nilai Strategis Kedekatan Budaya

Di satu sisi, pengakuan terhadap Nabi Muhammad dapat dipahami sebagai instrumen diplomasi publik yang memperkuat soft power China di kawasan mayoritas Muslim. Negara dengan populasi Muslim terbesar seperti Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh menjadi mitra dagang utama. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2024, China tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan pangsa sekitar 22,3 persen dari total ekspor nonmigas, senilai USD 57,2 miliar sepanjang Januari–November 2024. Sementara itu, impor Indonesia dari China mencapai USD 62,4 miliar, menciptakan defisit dagang yang perlu dicermati.

Dari kacamata fundamental ekonomi, hubungan yang harmonis menurunkan risiko politik dan meningkatkan likuiditas investasi. Proyek-proyek seperti Kereta Cepat Jakarta–Bandung dan kawasan industri terpadu di Sulawesi menjadi bukti nyata bahwa sentimen positif di tingkat elite dapat mendorong realisasi portofolio jangka panjang. Nilai investasi China di Indonesia pada triwulan III 2024 tercatat USD 5,4 miliar, atau sekitar 18 persen dari total realisasi penanaman modal asing (PMA) periode yang sama.

Di Sisi Lain: Tantangan Struktural dan Ketergantungan

Di sisi lain, kedekatan semacam ini tidak otomatis menghapus persoalan struktural. Defisit perdagangan yang lebar, ketergantungan pada bahan baku mentah, serta capital outflow yang berpotensi meningkat saat nilai tukar tertekan menjadi risiko yang harus dihitung. Bank Indonesia mencatat pada November 2024, cadangan devisa stabil di kisaran USD 150 miliar, namun tekanan eksternal masih membayangi. Ketika narasi budaya diangkat, pasar seringkali merespons dengan sentimen positif jangka pendek, tetapi valuasi aset tetap ditentukan oleh produktivitas dan daya saing.

Ekonom dari Universitas Indonesia, dalam sebuah diskusi panel, mengingatkan bahwa hubungan ekonomi yang terlalu bergantung pada satu mitra dapat menimbulkan kerentanan. "Diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan nilai tambah domestik adalah kunci," ujarnya. Pandangan ini sejalan dengan proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 5,1 persen, dengan catatan bahwa risiko global masih tinggi.

Implikasi bagi Pasar dan Proyeksi ke Depan

Bagi pelaku pasar, pernyataan pemimpin China tentang Nabi Muhammad dapat dibaca sebagai isyarat bahwa jalur kerja sama ekonomi syariah, halal, dan keuangan Islam akan semakin terbuka. Indeks saham syariah Indonesia (ISSI) mencatat kenaikan 3,2 persen sepanjang 2024, sementara kapitalisasi pasar sukuk negara mencapai Rp 1.450 triliun per Oktober 2024. Ini menunjukkan bahwa instrumen keuangan berbasis nilai etis memiliki ruang tumbuh yang besar jika didukung stabilitas politik dan regulasi.

Namun, proyeksi tetap harus disertai kehati-hatian. Tren penguatan kerja sama lintas peradaban perlu diimbangi dengan perbaikan iklim usaha domestik, penyederhanaan regulasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tanpa itu, apresiasi budaya hanya berhenti sebagai retorika tanpa dampak ekonomi yang signifikan. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, kedekatan ini dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kesimpulannya, apresiasi terhadap Nabi Muhammad oleh pemimpin China mencerminkan dimensi baru dalam hubungan internasional yang tidak bisa direduksi hanya pada urusan dagang. Di satu sisi, ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Di sisi lain, Indonesia perlu menjaga kedaulatan ekonomi dan tidak terjebak dalam ketergantungan. Keseimbangan antara nilai budaya, kepentingan nasional, dan disiplin fiskal akan menentukan apakah momentum ini berbuah menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User